Feeds:
Posts
Comments

Bagi yang pertama kali mengenal sosok (alm) Kuntowijoyo sebagai sejarawan barangkali imej ahli sejarahlah yang lebih melekat padanya, namun bagi yang pertama kali mengenal beliau sebagai sosok sastrawan, maka imej sastralah yang lebih identik dengan beliau. Dan, saya beruntung mengenal sosok sastrawan yang satu ini melalui karya sastranya.

Karya sastra Kuntowijoyo yang pertama saya baca adalah Kotbah di Atas Bukit (Novel). Disamping itu, tak terhitung berapa banyak cerpen beliau yang telah saya baca. Cerpen-cerpen Kuntowijoyo saya baca salah satunya melalui antologi Dilarang Mencintai Bunga-bunga.

Ada 10 cerpen yang terangkum dalam antologi tersebut. Walau hanya 10 cerpen, antologi tersebut lumayan tebal untuk ukuran antologi cerpen. Maklum saja, dalam banyak cerpennya Kuntowijoyo selalu suka berpanjang-panjang. Jarang ada cerpennya yang pendek.

Jika ditilik dari segi bagus tidaknya antologi ini, saya rasa agak relatiflah. Wajar saja, tak mudah juga mendefinisikan bagaimana sastra yang bagus itu. Apalagi saya bukan seorang kritikus sastra, hanya sebatas penikmat dan pencinta sastra saja. Sangat lumrah saya rasa jika patokan bagi orang seperti saya bahwa sastra dinilai dari segi selera individu belaka.

Antologi Dilarang Mencintai Bunga-bunga ini lumayan bagus cerpen-cerpennya. Hanya saja ada dua cerpen favorit saya; Sepotong Kayu untuk Tuhan, dan Burung Kecil Bersarang di Pohon.

Cerpen Sepotong Kayu untuk Tuhan adalah kisah tentang religiositas, kalau boleh saya katakan demikian. Cerpen berawal dari seorang tua yang berniat menyumbang pembangunan surau di kampungnya. Masyarakat kampung semua menyumbang. Ada yang menyumbang uang, semen, genteng, pasir, batu, dsb. Si Tua ini tentu tak mau ketinggalan. Hanya saja ia tak mau ada orang yang tahu kalau ia menyumbang. Maka setelah berpikir masak-masak, ia memutuskan menyumbang kayu nangka besar yang telah tua. Segala sesuatunya berjalan lancar, hinggalah saat ia menambatkan kayu tersebut malam-malam di pinggiran sungai dekat surau yang akan dibangun. Di batang nangka tersebut tertera tulisan dari arang kayu; SEPOTONG KAYU UNTUK TUHAN. Namun malang, saat paginya ketika ia menjenguk kayu yang ditambatnya semalam sudah tak ada. Rupanya banjir tengah malam tadi telah menghanyutkan kayunya.

Cerpen ini berkesan bagi saya karena sarat pertanyaan makna. Niat pak tua itu sangat baik, menyumbang pembangunan surau. Tapi, kayu yang diniatkan hilang, hanyut dalam banjir. Lantas apakah sampai nilai kebajikan kepadanya dari Tuhan?

Secara kasat mata jelas ia gagal menyumbang. Surau dibangun tanpa ada unsur bantuan darinya. Sebab, kayunya sudah hanyut. Kayunya sudah hilang. Lantas, apakah karena kayunya hilang niat baiknya tidak kesampaian?

“…Tidak, tak ada yang hilang,” kata lelaki tua itu.

….Lelaki tua itu berdiri sejenak lagi. Sampai kepadaMukah, Tuhan?

Sedangkan cerpen Burung Kecil Bersarang di Pohon berkisah tentang seorang guru besar ilmu Tauhid sebuah universitas. Cerita berawal dari perjalanan sang tokoh menuju mesjid untuk menuanaikan salat jumat. Kebetulan pula ia yang menjadi khatib sekaligus imam di kesempatan jumat itu. Di perjalannannya menuju mesjid ia melewati sebuah pasar yang (selalu) hiruk-pikuk, seolah tak peduli bahwa hari itu hari jumat. Di jalan pasar itulah pikiran sang guru besar ilmu Tauhid tersebut berkecamuk. Pikirannya dipenuhi prasangka buruk kepada para pedagang. Bagaimana mungkin bisa disebut beragama mereka (para pedagang) jika pada hari jumat saja tidak bisa memenuhi panggilan Tuhan. Untuk beberapa saat pikirannya terbenam apriori terhadap kelakuan para pedagang yang tak mengindahkan hari mulia tersebut. Kutukan dan rutukan menyumbat pikirannya. Sang guru bukannya tidak berusaha mencari alasan logis untuk setidaknya agak memihak kondisi pedagang yang tak bisa meninggalkan dagangannya untuk salat jumat. Namun seiring itu pula sikap negatif muncul lebih kuat. Kesimpulannya, orang pasar tersebut tak tahu agama, dan mereka harus diberi peringatan. Namun, tak lama kemudian di sisi lain, perhatiannya teralih kepada seorang bocah yang sedang menangis karena tidak bisa mengambil sarang burung di pohon.  Entah kenapa hatinya tertarik mendekati bocah malang itu. Tanpa ia sadari ia telah berlama-lama dengan sang bocah—hanya untuk menolong bocah tersebut mengambil sarang burung sekaligus menangkap (menjerat) induk burung.

Pertemuan sang guru besar dengan bocah tersebut melemparkannya ke ingatan masa lalu. Sejenak ia merasa seperti kanak-kanak lagi. Bersama sang bocah itu pula ia seperti menemukan lorong waktu. Ia kembali merasakan masa kanaknya yang bahagia. Hanya satu yang tak ia ingat. Hari itu hari jumat. Dan ia telah telat. Sesampai di mesjid para jemaah sudah berhamburan keluar. Ia telat total. Mata tajam para jemaah menusuk tepat di matanya. Yang intinya; kenapa ia bisa begitu terlambat. Segera ia merasa mata-mata tersebut menghukum dan mengadilinya. Ia seorang guru besar. Orang terpandang karena ilmunya yang dalam. Tapi apakah pantas orang seperti itu bisa telat jumaatan. Pas giliran jadi khatib dan imam lagi!

Sang guru besar itu seperti menelan sendiri pikiran apriorinya terhadap orang pasar  tadi. Bagaimanapun, tadi, ia telah menghakimi orang pasar yang tak tahu agama karena tidak segera berjumaatan. Dan kini, para jemaahnya, lewat mata mereka, menghukum keterlambatannya.

Kejadian tersebut membuat sang guru besar memutar ulang semua kejadian barusan. Ia berusaha mencari jawaban logis secara agamawi atas kejadian yang menimpanya. Dan, ia mendapatkannya….

Demikianlah sedikit kilasan antologi Dilarang Mencintai Bunga-bunga ini. Semoga ada manfaatnya…

Zamroni Ibrahim

Judul  : Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (Sebuah Antogi), Pengarang : Kuntowijoyo, Penerbit : Pustaka Firdausa-Jakarta-cetakan III-1996, Halaman : 200 halaman

Dia orang tua yang kesepian. Di sisa-sisa usianya yang kian beranjak renta, ia memilih menyepi ke hutan dengan ditemani setumpak buku roman picisan. Keheningan, suara-suara alami kehidupan yang damai, itulah yang ia cari. Ia memang mendapatkan apa yang ia cari-cari. Tapi itu tak lama. Kedamaiannya terusik oleh harimau yang kalap dan marah. Satu persatu warga tewas di ujung kuku harimau  kumbang yang cerdik itu. Kebodohan para pemburu dan penambang yang telah merusak habitat harimau memaksa si Tua mengambil peranan karena—memang hanya ia yang bisa diharapkan oleh penduduk. Masa muda yang ia habiskan bersama orang Indian serta paham banyak tindak tanduk binatang buas menjadikannya berkualifikasi menangani “kasus” tersebut.

Itulah sepetik gambaran novel Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta karangan seorang penulis Chile, Luis Sepulveda.

Apa yang menarik dari buah pena pengarang Amerika Latin yang satu ini? Kalau kita melihat dari sisi subjek sang pengarang, jelas karya ini menarik. Sepulveda, sekedar diketahui, adalah pengarang buangan rezim Pinochet Chile. Secara personalitas pengarang, karya seorang pengarang pengasingan selalu menghadirkan nuansa istimewa. Tapi—bagi saya—karya ini mempunyai beberapa sisi keistimewaan;

Pertama, isu lingkungan. Penebangan liar dan penggundulan hutan yang menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem alam. Harimau yang terdesak akibat habitat mereka dirusak manusia melahirkan masalah baru bagi penduduk.

Kedua, isu kedudukan masyarakat pribumi asli. Suku Indian adalah pribumi di benua Amerika. Namun kian lama mereka kian terdesak oleh para pendatang. orang Indian yang terbiasa menyatu dengan alam kini menghadapi permasalahan pelik. Perbedaan kultur mereka dengan pendatang melahirkan gap sosial. Pendatang yang tak tahu diri bisanya hanya merusak dan mengeksploitasi hutan. Hal ini terasa menyakitkan bagi mereka, sebab hutan adalah rumah mereka yang nyaman.

Ketiga, pelukisan kata-kata Sepulveda yang menawan. Membaca novel yang satu ini terasa mengasyikkan. Disamping tidak terlalu tebal, hanya 116 halaman (edisi terjemahan Indonesia), karakter yang ditampilkan pengarang terasa hidup. Kita seolah terbawa ke alam petualangan balantara Amazon yang eksotis. Di samping itu, Sepulveda tampaknya sangat pandai menyelipkan humor segar di setiap lembarnya.

Novel Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta juga karya tentang pergulatan batin. Pak Tua—Antonio Jose Bolivar namanya—si tokoh utama novel ini, merupakan representasi yang tepat. Separuh hidupnya yang ia habiskan bersama orang Indian di hutan terasa menyesakkan manakala dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan “peradaban” terus merangsek menembus tebalnya hutan. Semakin lama semakin dalam. Faktor ladang minyaklah, karena tambang emaslah, ataupun hanya sekedar perburuan binatang. Saat itulah pak Tua perlahan tapi pasti menyaksikan hutan kian lama kian memudar.

Dalam novel ini memang pak Tua adalah solusi bagi harimau yang kalap. Pengalamannya dengan hutan dan binatang buas mendapuknya menjadi harapan orang banyak. Dan benar saja, pilihan penduduk memang tepat. Pak Tua lebih cerdik dari harimau yang kalap itu. Di ujung revolvernya harimau tersebut meregang nyawa. Satu masalah besar terselesaikan dengan gemilang. Tapi kegemilangan tersebut melahirkan kegundahan. Ia telah menjadi pembunuh bagi binatang yang mempertahankan hak habitatnya. Secara moral ia malu. Malu pada dirinya sendiri dan binatang malang itu. Di sisa hidupnya, gundah dan malu mati-matian ia coba tutup secara eskapis—yakni menghabiskan waktu dengan membaca roman picisan yang isinya selalu tentang segudang CINTA.

Zamroni Ibrahim

kilas info:

Judul  : Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta (diterjemahkan dari Un viejo que leia historias de amor (Tusquets Editores, Barcelona), Penerjemah :Ronny Agustinus, Penerbit : Marjin Kiri-Tangerang-cetakan I-2005

Lorong Ingatan

Sastra klasik bukanlah sebuah genre, melainkan kategorisasi terhadap suatu karya terbaik yang pernah ditulis di suatu masa dan tempat. Setidaknya itu kata Anton Kurnia—penerjemah beberapa cerpen Fyodor Dostoevsky yang sebentar lagi akan saya kilas.

Dan pastinya Fyodor Doestoevsky adalah pengarang besar yang telah mendapat pengakuan Dunia. Karya-karyanya telah menjadi “sesuatu” yang klasik. Bagi saya, bisa menikmati karya Doestoevsky adalah anugerah. Mencari buah pena pengarang Russia (yang sudah diterjemah) yang satu ini memang susah. Setidaknya ini pengalaman pribadi saya yang belum banyak punya koneksi sesama penggemar sastra. Tak heranlah jika pada suatu kesempatan yang mujur saya bisa mendapatkan buku kumpulan cerpen sastrawan besar tersebut.

Kumpulan cerpen yang saya maksud adalah Maling yang Jujur. Cerpen-cerpen tersebut diterjemahkan oleh Anton Kurnia, diterbitkan oleh Jembar Publishing. Terus terang saya baru tahu kalau ada penerbit yang bernama Jembar Publishing. Mungkin saja itu penerbit kecil. Mungkin. Bisa saya nilai dari segi kualitas cetakan dan layout bukunya. Sampulnya pun tak menarik perhatian. Padahal yang diterbitkan tersebut adalah karya sang maestro sastra. Tapi benar kata orang bijak; jangan nilai buku dari sampulnya. Ini saya alami betul. Kekurangbagusan buku dari segi tampilan fisik, dibayar lunas oleh kualitas isi dan nilai sastrawi yang ada di dalamnya. Salut buat Anton Kurnia yang telah menerjemahkan karya tersebut dengan amat baik.

Cuma tiga cerpen yang terangkum dalam antologi pendek nan tipis ini;  Maling yang Jujur, Pohon Natal dan Sebuah Pernikahan, dan Petani Marey.  Dalam tulisan ini saya hanya mengkilas satu cerpen saja, yakni Petani Marey. Hanya satu kilasan bukan berarti dua cerpen lagi tidak bagus. Hanya saja Petani Marey yang menjadi favorit saya. Cerpen yang satu ini terus terang begitu berkesan bagi saya. Terlalu mempesona malah. Hal ini lantaran cerpen tersebut menyentuh sisi-sisi emosional setiap orang. Tak terkecuali saya tentunya!

Petani Marey berkisah tentang sepenggal ingatan. Sepotong memori. Bisa juga kita sebut sebagai sekilas kenangan. Setiap manusia tentu punya kenangan, memori, ataupun ingatan. Itulah kenapa cerpen ini berkesan bagi saya.

Cerpen ini bercerita tentang seorang tapol yang mendekam di penjara. Bukan duka nestapa seorang tahanan yang tersaji, tapi sebuah ingatan yang—tiba-tiba berkelebat dan hinggap di memori sang tapol. Kenangan itu adalah sepenggal masa dia di waktu kanak-kanak dulu yang—tak terpikirkan olehnya sebelumnya. Penggalan kenangan itu sebenarnya singkat saja. Kenangan tentang kelembutan seorang petani desa. Kehangatan sang petani yang hanya sekejap yang—tak ia ingat semasa ia berstatus sebagai manusia bebas. Saat ia berada di penjara, setelah lebih 20 tahun kejadian, sang tapol tiba-tiba saja menemukan lorong ingatannya bersama sang petani. Dan, setelah lewat 20 tahun itu, ia seperti merasakan kembali kelembutan dan kehangatan petani yang ramah itu. Ia ingat semuanya dengan detail tanpa satu momen pun terlewat. Di dalam kesunyian kurungan jeruji besi ia merasakan kejernihan. Ia merasakan kebebasan lintaswaktu melalui sebuah lorong ingatannya. Ia sejenak terlempar ke masa lalu. Dan seolah-olah ia merasakan kembali pengalamannya.

Memang Petani Marey ini cerita tentang penggalan ingatan. Kenangan singkat yang begitu berbekas bagi sang tokoh. Saya rasa kita semua pernah merasakan seperti yang dirasakan tokoh cerpen Petani Marey tersebut. Adakalanya di selintas masa, “sang Kenangan” membawa kita kembali menyusuri lorong-lorongnya.

Bukan begitu?

Wassalam

Zamroni Ibrahim

Judul  : Maling yang Jujur (diterjemahkan dari Great Short Stories from Around the World (Golden Books, Kuala Lumpur : 1995), Penerjemah : Anton Kurnia, Penerbit : Jembar Publishing-Bandung-cetakan II-2008

Omelette a Woburn

Adalah menyenangkan bisa menyelami khazanah bangsa lain. Ada banyak jalan untuk itu, seperti berkunjung langsung—melancong, menonton film dokumenter, tapi mengenal khazanah bangsa lain melalui sastra adalah kenikmatan tersendiri. Kenikmatan yang khusus. Ringan. Tanpa perlu tahu teori macam-macam.

Hal itu pula lah  yang membuat saya tersenyum lebar saat menjumpai sebuah buku bekas di kedai buku loak. Buku tersebut merangkum 10 cerita pendek Hungaria, sebuah negara di Eropa. Kenapa saya begitu senang? Jujur saja, khazanah sastra luar yang ada di negara kita, Indonesia, yang (barangkali) terlalu didominasi oleh sastra negara semacam Inggris, Jerman, dan negara-negara besar Eropa lainnya. Sedangkan Hungaria, nyaris tak terdengar. Hal itu pula lah yang membuat saya tanpa pikir panjang langsung membayar berapa pun harga buku bekas tersebut. Dan, memang saya sedang beruntung, buku tersebut ternyata dijual murah saja. Cuma lima ribu perak. Tak sampai seharga semangkuk bakso. Hahaha!

Buku antologi cerpen Hungaria yang saya katakan tadi bertajuk Sang Mahasiswa dan Sang Wanita. Tema yang termuat dalam antologi ini beragam. Begitu pun nuansa ceritanya. Ada yang satiris, ada juga yang mengandung unsur humor, tak kurang pula yang tragis, kendati ada pula cerita yang romantis. Pokoknya lumayan lengkap. Cukup bagi kita mendapatkan gambaran sastra orang Hungaria.

Antologi yang diterbitkan Pustaka Jaya ini dibuka dengan cerpen Omelette a Woburn, buah pena Deszo Kosztolanyi. Cerpen ini berkisah tentang seorang pemuda yang sedang pulang ke negara asalnya, Hungaria. Sebelum sampai di kota tujuan, Budapest, ia turun di Zurich, sebuah kota di Swiss. Ia turun di Zurich karena tak tahan suasana kereta yang serba tak mengenakkan. Ia berencana mengambil kereta yang yang lebih baik ke kotanya. Ia berada di Zurich ketika malam beranjak larut. Itulah kenapa ia sulit menjumpai kedai makanan sederhana nan murah. Terdorong rasa lapar, pemuda tersebut tanpa sadar masuk ke kedai makanan yang—ternyata tempatnya orang berduit. Sambutan pelayan kedai saja sudah membuatnya kikuk. Bukan apa-apa baginya, uang yang ada di sakunya sangat minim. Hanya cukup sekedar ongkos kereta.

Omelette a Woburn ini bercerita tentang siksaan batin. Kosztolanyi, menurut saya, begitu piawai melukiskan situasi psikologis sang pemuda yang kesasar di kedai borju tersebut. Kosztolanyi menghadirkan sosok pemuda yang begitu tertekan, ketika ia tahu kedai tersebut bukan kelasnya. Apalagi dia sadar, uang yang ada di saku sangat tak memadai. Suasana kedai yang diisi pengunjung berpenampilan wah begitu intimidatif baginya. Terlebih lagi saat dia tahu harga di menu, semuanya berada di atas jumlah keseluruhan uang sakunya. Kecuali menu omelette (telur dadar), menu paling sederhana, tak ada harga tertera di sana. Pilihan pun jatuh pada omellete. Omelette a Woburn, itu nama menu yang ia pilih.

Kendati sang pemuda telah memilih menu yang paling sederhana menurut perkiraannya, tetap saja siksaan batin masih menghantui. Beban pikirannya masih berkisar cukup-tidaknya uang bayar pesanan. Masa menyantap hidangan tak ia lalui dengan nikmat. Pikiran dan batinnya terpusat pada kekhawatiran. Masa menunggu jumlah bon tagihan, baginya bagaikan menunggu ketukan palu hakim menjatuhkan putusan.

Itulah Omelette a Woburn, cerita yang—bagi saya sederhana dari segi ide tapi berjaya melukiskan situasi psikologis sang tokoh.

Selain Omelette a Woburn, antologi ini juga menyajikan cerpen Petualangan Berpakaian Seragam, karya dari Sandor Hungady. Cerpen ini bertutur tentang seorang prajurit rendahan. Cerpen ini berkisah tentang cinta. Cinta yang dimulai tanpa sebuah kejujuran identitas. Prajurit tersebut berkenalan dengan seorang gadis dengan identitas palsu. Maklum, percintaan baginya lebih sering hanya untuk menghabiskan masa muda, tanpa ada komitmen kuat untuk melangkah ke arah yang lebih serius. Tapi, ia tidak bisa mengelak takdir cinta. Percintaannya dengan gadis yang bernama Velma tersebut ternyata melahirkan ketulusan dan keseriusan. Kendati pada akhirnya kisah tersebut hanya tinggal sebatas kenangan bagi sang prajurit. Kisah cinta yang pada akhirnya menebar aroma penyesalan bagi sang prajurit.

Saya rasa cukup itu saja mengenai antologi Sang Mahasiswa dan Sang Wanita ini. Walaupun hanya dua cerpen yang menjadi ulasan singkat saya, bukan berarti cerpen yang lainnya tidak menarik. Harapan saya, semoga dua ulasan cerpen tersebut bisa menjadi pengantar bagi kita semua untuk mengenali khazanah sastra dari negeri nun jauh sana, Hungaria.

Terima kasih!

Zamroni Ibrahim

Judul  : Sang Mahasiswa dan Sang Wanita, Antologi Cerpen Hungaria dari berbagai Sastrawan (dipilih dan diterjemahkan oleh Fuad Hassan dari 44 Hungarian Short Stories),  Penerbit : Pustaka Jaya-Jakarta-cetakan IV-2003, Halaman : 150 halaman

Selalu ada suasana mencekam saat membaca prosa Iwan Simatupang. Dalam banyak karya sastranya (cerpen dan novel), Iwan tidak pernah memberikan tokoh atau watak ceritanya kesempatan hidup bahagia. Watak dalam prosa Iwan selalu manusia problematis. Begitu pula suasana ceritanyanya, Iwan kerap kali menggambarkan sisi kelam manusia yang tak bahagia.

Barangkali itulah ciri khas seorang Iwan Simatupang. Seorang sastrawan penting Indonesia yang telah mendapatkan capnya sendiri, Cap Iwan. Ke-khas-an seorang Iwan ini bisa terwakili dalam antologi cerita pendeknya, Tegak Lurus dengan Langit. Antologi tersebut merangkum 20 cerpen Iwan Simatupang dalam beberapa tahun rentang kariernya di dunia sastra. Memang tak banyak cerpen Iwan Simatupang. Kariernya di dunia sastra berkisar semasa 22 tahun. Itupun produktif di masa 10 tahun pertama kepengarangan. Disamping aktif menulis karya sastra, ia juga banyak menulis esai. Iwan sendiri memulai kepengarangannya di usia 30-an.

Antologi Tegak Lurus dengan Langit yang diterbitkan Buku Kompas (2004) ini dibuka dengan cerpen Lebih Hitam dari Hitam. Inilah cerpen (prosa) pertama Iwan setelah sekian lama bergelut dalam dunia tulis-menulis (esai, artikel). Lebih Hitam dari Hitam dimuat pertama kali di Siasat Baru, 30 desember 1959. Cerpen ini menceritakan orang gila yang “dikarantina” di Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Cerita yang dinarasikan oleh watak “aku” kental sekali aroma kegilaan. Iwan melukiskan pola pikir non-waras di kepala orang gila—yang terkadang kalau dipikir-pikir, pola pikir tersebut bisa jadi benar juga—betapa pun irasionalnya pola pikir tersebut. Si Kepala Besar yang menjadi teman ngobrol tokoh “aku” itu misalnya. Kita bisa melihat bagaimana si Kepala Besar yang dengan sengaja merebut dan merusak surat kabar yang sedang dibaca oleh tokoh “aku”.

Si Kepala Besar sudah jelas gila, kalau tidak bagaimana mungkin dia bisa nginap di RSJ. Merebut dan merusak surat kabar rekannya sesama penghuni RSJ adalah bentuk dari sikapnya yang non-waras. Tapi tahukah kita motif perebutan dan perusakan tersebut? Memang si “aku” tidak jadi melampiaskan amarahnya, sebab seiring dengan timbulnya emosi saat korannya direbut, saat itu pula terbit rasa kasihan. Perawakan “sang musuh” yang menyedihkan dengan kepala botak dan besar telah mengalahkan rasa amarah. Tapi perlakuan belas kasihan seperti itulah yang sangat dibenci oleh si Kepala Besar. Ia menganggap belas kasihan menyiksa dan mengganggu hidupnya. Ia ingin bila ia pantas dipukuli, maka ia harus dipukul. Seperti merebut dan merusak koran itu tadi misalnya, si Kepala Besar ingin si “aku” memukul atau paling tidak marah atas kelancangannya. Gila, bukan? Itulah Iwan Simatupang, dimana dengan sangat literer dia melukiskan penjungkiran pola pikir yang di mata orang normal dianggap wajar.

Lebih Hitam dari Hitam ditutup dengan kehilangan si ‘aku” atas rekannya si Kepala Besar. Si Kepala Besar yang tiba-tiba tanpa pamit telah meninggalkan RSJ. Pulang. Dan, tahu-tahu si “aku” dikabari tentang kematian kompatriotnya tersebut. Si “aku” jelas saja kaget, tapi lebih kaget lagi ketika perawat menitipkan sebuah wasiat untuknya. Wasiat tersebut sebuah koran. Sebelum meninggal, si Kepala Besar berpesan agar sebelum ia meninggal, keluarganya mengganti koran si “aku” yang telah ia telah rusak.

Cerita pendek lain yang terangkum dalam antologi ini adalah Monolog Simpang Jalan. Cerpen ini masih berkisar seputar orang gila. Cerpen ini berkisah tentang seorang Pengarang yang mencari inspirasi dari seorang gila di persimpangan jalan. Di luar dugaan sang Pengarang, si Gila tahu ia sedang menjadi objek karangan. Si Gila tak terima. Ia ingin tahu apa motif si Pengarang yang ingin menjadikannya sebagai objek cerita. Pertanyaan si Gila tak dapat jawaban si Pengarang. Kemudian pertanyaan demi pertanyaan—yang juga masih belum ada jawabnya—berlanjut menjadi semacam monolog, semacam ceramah. Ya, monolog atau ceramah dari seorang gila.

Selanjutnya, antologi ini juga memuat Kereta Api di Jauhan. Cerpen ini berkisah tentang sebuah keluarga yang mati bunuh diri. Bunuh diri yang bermotifkan ketidakbahagiaan hidup, akibat kekurangan spritualitas. Ya, cerpen ini kisah kematian yang tragis. Sebuah keputusan yang brutal, karena semua pelaku bunuh diri mati dengan menabrakkan diri mereka ke kereta api.

Ini jelas cerita tentang sisi kelam jiwa manusia. Jiwa yang tak lagi sanggup memikul semua kegamangan hidup bersama semua tantangannya. Kalau kita simpulkan, Iwan Simatupang—dalam Kereta Api di Jauhan ini—masih berkutat pada kisah pertarungan jiwa manusia yang akhirnya kalah melawan keadaan.

Disamping cerita-cerita di atas, antologi ini juga memuat cerpen Tegak Lurus dengan Langit, cerpen yang menjadi judul antologi. Sama seperti tiga cerpen yang telah kita ulas tadi, cerpen ini juga tragis. Kelam. Dalam cerpen ini, Iwan menggambarkan sebuah keluarga yang gelisah, nyaris separuh gila semuanya, akibat menghilangnya sosok yang menjadi ayah dan suami di keluarga mereka. Kehilangan sosok yang tak jelas dimana rimbanya tersebut melahirkan rasa frustasi. Si ibu tidak bisa disebut janda, karena jelas mereka belum cerai. Anak-anak tidak bisa disebut yatim karena tak ada kabar ayah mereka telah mati. Alhasil, situasi status serba tak menentu tersebut melahirkan tekanan sosial yang berimpilikasi psikologis kepada mereka semua.

Sang ibu pada akhirnya mati mendadak setelah ia tak sengaja dipergoki si bungsu bertelanjang-ria, bergulat, bemain cinta dengan pria lain. Dua kakak si bungsu dipenjara seumur hidup gara-gara membunuh petugas sensus. Kesalahan petugas sensus mungkin saja kecil, karena bertanya dimana ayah mereka. Tapi di mata kedua kakaknya, kesalahan si petugas sangat besar, membuka luka lama keluarga mereka yang selama ini tersiksa karena kehilangan ayah mereka.

Lantas bagaimana dengan si bungsu? Kisahnya lebih hebat dan tragis lagi. Sang ayah yang telah 17 tahun menghilang, tiba-tiba muncul di depan rumah mereka. Sebuah kepulangan yang sangat tidak tepat, setelah satu persatu anggota keluarga tersebut tercerabut dari rumah mereka. Si ibu mati karena malu pada anak-anak karena telah ber-seks di luar nikah dengan laki-laki lain, si kakak harus dikurung seumur hidup di penjara karena membunuh orang yang menanyakan ayah mereka dimana—ini jelas implikasi dari hilangnya ayah mereka. Kutukan-kutukan tersebut akibat dosa besar ayah mereka yang menghilang tanpa rimba. Kini sang ayah telah pulang. Kutukan tak lagi bisa menjadi keberkahan. Dosa tak lagi mungkin terhapus.

Kutukan dan dosa itulah yang membawa si bungsu pada akhirnya membunuh ayah mereka. Pembunuhan untuk menuntaskan dendam, itulah motifnya. Langkah cepat untuk membebaskan beban pikiran, itulah tujuannya. Pada akhirnya, memang si bungsu mendapatkan apa yang ia motifkan dan ia tujukan. Kebebasan dari bayang-bayang sang ayah. Dan pada akhirnya, memang ia merasakan dirinya sama-sama tegak lurus dengan langit!

Barangkali cukup empat cerpen saja yang diulas di sini. Sebab ada sisa 16 cerpen lagi. Empat ulasan singkat tersebut saya rasa cukup untuk menggambarkan isi dari antologi Tegak Lurus dengan langit ini. Sebagian isi antologi cerpen ini sama. Dalam artian pengambilan temanya. Sama-sama melukiskan sisi kelam manusia, irasionalisme, ironi, dan tragedi manusia. Tapi perlu diketahui juga, sekitar enam atau tujuh cerpen Iwan yang terangkum di antologi ini, juga mengangkat tema-tema yang ringan. Enam atau tujuh judul tersebut, Iwan tulis dengan ringkas, sederhana, tanpa ada keinginan banyak-banyak berfalsafah, namun masih tetap dengan style kedalaman pikir. Menurut kata pengantar buku antologi ini, cerita-cerita yang memang ringkas tersebut dibuat Iwan karena faktor kolom koran yang memuat. Itulah mengapa Iwan harus kreatif menyingkatkan karangannya, hanya karena faktor space kolom koran semata.

Nah, bagi kita yang belum menikmati kumpulan (antologi) Iwan yang satu ini, selamat membeli. Dan, selamat menyelami pola pikir Cap Iwan yang khas!

Zamroni Rangkayu Itam

info:

Judul : Tegak Lurus dengan Langit (Kumpulan Cerpen), Pengarang : Iwan Simatupang, Penerbit : Buku Kompas-Jakarta-cetakan I (terbaru)-2004, Halaman : 154 halaman

Caldas yang Kandas

Menyinggung sedikit spirit Sumpah Pemuda yang baru saja berlalu momentumnya beberapa bulan lewat, kita dihadapkan pada nilai-nila kepahlawanan pendahulu kita. Bagaimana gigihnya mereka berjuang merebut kemerdekaan, baik dengan konfrontasi fisik ataupun secara diplomasi. Melalui Sumpah Pemuda, hawa kepahlawanan mereka sangat kentara dengan pengikraran satu bangsa, satu tanah air, dan dengan satu bahasa persatuan. Lantas bagaimana generasi muda seperti kita saat ini menyikapi kepahlawan? Rentang waktu masa bergejolak dengan kolonial memang telah berlalu, dan lantas apakah generasi muda tidak bisa merasakan hawa kepahlawan, baik pada dirinya sendiri atau terhadap orang di sekitarnya. Semakin menjauhnya zaman meninggalkan saat-saat heroik itulah yang perlu kita semua sadari, khususnya generasi muda. Barangkali kita tidak menemukan sosok muda Muh. Yamin, Hatta, atau pun Soekarno muda lagi yang sama persis nilai perjuangannya dengan para beliau-beliau itu, namun harus kita sesuaikan dengan konteks kita sekarang.

Menjadi pahlawan tak harus menjadi orang besar, punya pengaruh luas bagi orang sekitar, tapi paling tidak bisa menjadi pahlawan bagi diri sendiri sudahlah cukup besar artinya. Nah, berkenaan dengan itu ada baiknya kita semua mengambil secuil hikmah dari novel Caldas, karya hebat dari sastrawan Kolombia, Gabriel Garcia Marquez. Buku terjemahan LkiS ini walau pun tipis sederhana, nilai sastrawi dan pelajaran moralnya teramatlah baik, sangat pantas dibaca habis dikunyah tuntas.

Caldas menceritakan apa itu heroisme. Ya, apa arti kepahlawanan. Melalui watak tokoh Alejandro Velasco, G.G. Marquez tampaknya ingin menyiratkan makna dari sebuah kepahlawanan. Siapa dan apa peran watak utama Velasco? Apakah dia seorang kapiten perang yang dengan gagah berani menumpas kartel mafia narkoba Kolombia, atau Velasco adalah seorang tokoh kenamaan yang mempunyai pengaruh besar bagi rakyat Kolombia? Sama sekali bukan itu yang ada dalam Caldas ini. Disini hanya digambarkan seorang perwira rendah Angkatan Laut Kolombia yang berusaha mati-matian menyelamatkan nyawanya akibat kapal perang mereka tenggelam diamuk badai.

Ha! Sosok pahlawan seperti itulah yang digambarkan secara detil oleh G.G. Marquez. Pahlawan memang tidak harus selalu menyabung nyawa di medan perang, bermandikan darah, bertongkatkan senapan, atau beralaskan baju baju loreng ala tentara. Melalui Caldas, orang seperti Alejandro Velasco, pun dapat disebut pahlawan. Kapal perang yang tenggelam justru bukan karena tembakan meriam musuh, tapi karena hantaman badai, membuat Velasco yang terombang-ambing sendirian di dalam sekoci kecil berusaha agar tak senasib dengan tujuh rekan dekatnya.

Dalam Caldas ini, babak-babak dramatis memang terdapat pada terombang-ambingnya watak utama di lautan lepas selama berhari hari. Secara keseluruhan, secara lancar dan memikat G.G. Marquez mendeskripsikan watak utama novelnya. Bagaimana Velasco yang tak putus asa kendati sering diteror halusinasi, melawan dan mengakali hiu-hiu yang ganas, bagaimana daya survival Velasco di bawah alam yang tak bersahabat tanpa makanan dan minuman, otomatis sang tokoh selalu berada di bawah tekanan rasa haus dan lapar di samping kelelahan yang mendera juga tentunya. Caldas, pada babak tersebut, tidaklah selalu mengeksplotasi gambaran cerita kegetiran yang menyedihkan. Ada masanya pula kegetiran itu dibalut humor yang menentramkan, seolah menjadi semacam self escapism, bagi si tokoh utamanya, Velasco.

Caldas adalah cerita tentang survival. Cerita seorang perwira rendah Angkatan Laut yang bertarung hidup mati-matian melawan keganasan laut. Keberhasilan Velasco lolos dari terjangan maut laut itulah letak nilai heroik itu sendiri. Setuju atau tidak, melalui Caldas, kita menemukan perspektif lain tentang kepahlawanan. Yang belum baca, silahkan saja baca sendiri!*

 Zamroni Rangkayu Itam

*Tulisan di atas sebelumnya dimuat di weblog palantakayu dengan titel yang sama….

info:

Judul  : Caldas  (diterjemahkan dari The Story of A Shipwrecked Sailor), Pengarang : Gabriel Garcia Marquez, Penerjemah : Rizadini, Penerbit : LKiS-Yogyakarta-cetakan I-2002, Halaman : 124 halaman

Catatan : * Novel Caldas nggak mahal kok, saya sendiri membelinya di sebuah bazar buku di kampus UIN Jakarta, seharga lima ribu perak doank! Ya, kalau dikonversikan ke dolar US, hmm, seharga setengah dolar! Hehe…

Menurut hemat saya, karya sastra adalah medium yang tepat untuk memahami sebuah komunitas, masyarakat, atau lebih luas lagi sebuah negara. Nah, saat kita menolehkan mata ke negeri para Firaun yang terkenal dengan sungai Nil, Spinx, atau pusat intelektual muslimnya, maka sebuah karya sastra kontemporer Apartemen Yacobian, mungkin bisa menyajikan sedikit realitas kehidupan di negara yang bernama Mesir itu.
Adalah Alaa Al Aswani yang mengarang Apartemen Yacobian ini. Di negara tempat asalnya, novel ini memang agak sedikit kontroversial karena secara vulgar “mengeksploitasi” unsur-unsur sensualitas—yang dimata masyarakat Arab agak tabu jika dibicarakan, apatah lagi tertulis abadi dalam nukilan buku.
Buku ini penuh dengan tokoh dan watak yang beragam. Ada yang mewakili seorang anak muda mesir miskin yang terpuruk dengan kemiskinannya—dan, pada akhirnya ia terjerumus ke dalam organisasi gerakan islam radikal. Ada pula watak yang mewakili seorang gadis remaja yang juga terjerat masalah ekonomi—sehingga ia harus menebalkan muka membuang malu untuk menjadi pelampiasan seksual majikan tempat ia bekerja. Ada pula sosok playboy tua yang pandangan hidupnya sangat sekuler, penyuka seks bebas, pemuja minuman keras, dan segala tren kehidupan Barat. Disamping itu ada pula ada tokoh seorang redaktur koran terekemuka yang homo—memanfaatkan seorang (praja muda) tentara miskin sebagai pelampiasan nafsu “menyimpang”nya. Dan, yang paling menyengat adalah sosok ulama sekaligus politisi yang sesuka mengutip ayat Quran sana-sini demi kepentingan pribadi dan golongan.
Itu baru pasal watak dan penokohan, dari segi penceritaan, Apartemen Yacobian ini, patut pula diacungi jempol, cocok mewakili karya sastra Mesir kekinian. Kekayaan watak yang diceritakan dalam novel ini adalah satu kelebihannya, mengingat novel ini sangat tipis (356 halaman) dibanding segudang watak utama yang diceritakan. Kekayaan tokoh di dalamnya otomatis melahirkan wajah cerita yang kompleks, rumit, namun kaya deskripsi.
Novel yang terbit di Indonesia oleh penerbit Serambi ini patut untuk dibaca dan dibedah. Mengingat Mesir, sedikit banyaknya mempunyai persamaan dengan negara kita, Indonesia. Walaupun secara georafis terpisah jauh, Indonesia bagian dari kawasan Asia, dan Mesir adalah negara di benua Afrika. Tapi, baik Mesir ataupun Indonesia adalah negara yang berpopulasi muslim terbesar. Begitu juga Mesir dan Indonesia, sama-sama berlandaskan demokrasi, kendati tak sama persis problema dan penerapannya. Satu lagi, Mesir adalah salah satu kiblat cendikiawan muslim dunia—yang dalam hal ini Indonesia masihlah baru mulai mencoba mengambil peranan. Berkaca dari karya ini tentulah kita akan bisa memilah-milah kesan dan hikmah apa yang dapat kita pelajari. Terlepas dari apapun maksud sang pengarang menulis novel ini, terlepas dari sedikit kontroversinya, sebuah novel sastra bisa menjadi bahan pembanding atas kondisi sosial Indonesia—yang barangkali tak jauh berbeda sebagaimana yang diceritakan dalam novel bersangkutan.
Kemiskinan, radikalisme, penyimpangan seksual, dan seks bebas, adalah tema-tema mayor novel ini. Semangat moralnya mungkin saja membumi, kendati konteks sosialnya berbeda bagi tiap negara pembacanya. Itu tidaklah menjadi penghalang yang berarti. Pembaca yang baik, tentu bisa mengadaptasi nilai-nilai sebuah sastra, dari manapun sastra itu berasal. Jangankan sastra dari Mesir, karya sastra yang ditulis dan berlatarbelakang orang eskimo pun, kalau ada pantas juga ditejemahkan. Asalkan karya itu bagus.
Buku ini sendiri mendapat predikat International Best Seller, dicetak dan diterbitkan di berbagai negara dengan komersialitas yang bagus tentunya. Tentu saja, hal ini menjadi petimbangan juga untuk kita (yang belum) membaca dan memilikinya. Sebuah karya yang bagus tentu sangat sayang jika dilewatkan begitu saja. Khusus untuk Serambi—penerbit yang banyak menerjemahkan banyak buku best seller seluruh dunia—situasi seperti ini sangatlah mengkondusifkan kesehatan perbukuan nasional. Semakin banyak buku yang diterjemahkan, semakin baik. Semoga ke depannya, Serambi lebih banyak lagi menterjemahkan buku-buku yang bagus. Tidak hanya buku sastra, semoga buku-buku sains dan tema-tema yang lain juga lebih banyak lagi beredar di toko-toko buku.
Just that’s…

Zamroni Rangkayu Itam

*Tulisan di atas sebelumnya dimuat di weblog palantakayu dengan titel yang sama….

info:

Judul  : Apartemen Yacobian (diterjemahkan dari ‘Imarat Ya’qubyan), Pengarang : Alaa Al-Aswani, Penerjemah : Anis Masduki, Penerbit : Serambi-Jakarta-cetakan I-2008, Halaman : 359 halaman