Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Sastra Indonesia’ Category

Bagi yang pertama kali mengenal sosok (alm) Kuntowijoyo sebagai sejarawan barangkali imej ahli sejarahlah yang lebih melekat padanya, namun bagi yang pertama kali mengenal beliau sebagai sosok sastrawan, maka imej sastralah yang lebih identik dengan beliau. Dan, saya beruntung mengenal sosok sastrawan yang satu ini melalui karya sastranya.

Karya sastra Kuntowijoyo yang pertama saya baca adalah Kotbah di Atas Bukit (Novel). Disamping itu, tak terhitung berapa banyak cerpen beliau yang telah saya baca. Cerpen-cerpen Kuntowijoyo saya baca salah satunya melalui antologi Dilarang Mencintai Bunga-bunga.

Ada 10 cerpen yang terangkum dalam antologi tersebut. Walau hanya 10 cerpen, antologi tersebut lumayan tebal untuk ukuran antologi cerpen. Maklum saja, dalam banyak cerpennya Kuntowijoyo selalu suka berpanjang-panjang. Jarang ada cerpennya yang pendek.

Jika ditilik dari segi bagus tidaknya antologi ini, saya rasa agak relatiflah. Wajar saja, tak mudah juga mendefinisikan bagaimana sastra yang bagus itu. Apalagi saya bukan seorang kritikus sastra, hanya sebatas penikmat dan pencinta sastra saja. Sangat lumrah saya rasa jika patokan bagi orang seperti saya bahwa sastra dinilai dari segi selera individu belaka.

Antologi Dilarang Mencintai Bunga-bunga ini lumayan bagus cerpen-cerpennya. Hanya saja ada dua cerpen favorit saya; Sepotong Kayu untuk Tuhan, dan Burung Kecil Bersarang di Pohon.

Cerpen Sepotong Kayu untuk Tuhan adalah kisah tentang religiositas, kalau boleh saya katakan demikian. Cerpen berawal dari seorang tua yang berniat menyumbang pembangunan surau di kampungnya. Masyarakat kampung semua menyumbang. Ada yang menyumbang uang, semen, genteng, pasir, batu, dsb. Si Tua ini tentu tak mau ketinggalan. Hanya saja ia tak mau ada orang yang tahu kalau ia menyumbang. Maka setelah berpikir masak-masak, ia memutuskan menyumbang kayu nangka besar yang telah tua. Segala sesuatunya berjalan lancar, hinggalah saat ia menambatkan kayu tersebut malam-malam di pinggiran sungai dekat surau yang akan dibangun. Di batang nangka tersebut tertera tulisan dari arang kayu; SEPOTONG KAYU UNTUK TUHAN. Namun malang, saat paginya ketika ia menjenguk kayu yang ditambatnya semalam sudah tak ada. Rupanya banjir tengah malam tadi telah menghanyutkan kayunya.

Cerpen ini berkesan bagi saya karena sarat pertanyaan makna. Niat pak tua itu sangat baik, menyumbang pembangunan surau. Tapi, kayu yang diniatkan hilang, hanyut dalam banjir. Lantas apakah sampai nilai kebajikan kepadanya dari Tuhan?

Secara kasat mata jelas ia gagal menyumbang. Surau dibangun tanpa ada unsur bantuan darinya. Sebab, kayunya sudah hanyut. Kayunya sudah hilang. Lantas, apakah karena kayunya hilang niat baiknya tidak kesampaian?

“…Tidak, tak ada yang hilang,” kata lelaki tua itu.

….Lelaki tua itu berdiri sejenak lagi. Sampai kepadaMukah, Tuhan?

Sedangkan cerpen Burung Kecil Bersarang di Pohon berkisah tentang seorang guru besar ilmu Tauhid sebuah universitas. Cerita berawal dari perjalanan sang tokoh menuju mesjid untuk menuanaikan salat jumat. Kebetulan pula ia yang menjadi khatib sekaligus imam di kesempatan jumat itu. Di perjalannannya menuju mesjid ia melewati sebuah pasar yang (selalu) hiruk-pikuk, seolah tak peduli bahwa hari itu hari jumat. Di jalan pasar itulah pikiran sang guru besar ilmu Tauhid tersebut berkecamuk. Pikirannya dipenuhi prasangka buruk kepada para pedagang. Bagaimana mungkin bisa disebut beragama mereka (para pedagang) jika pada hari jumat saja tidak bisa memenuhi panggilan Tuhan. Untuk beberapa saat pikirannya terbenam apriori terhadap kelakuan para pedagang yang tak mengindahkan hari mulia tersebut. Kutukan dan rutukan menyumbat pikirannya. Sang guru bukannya tidak berusaha mencari alasan logis untuk setidaknya agak memihak kondisi pedagang yang tak bisa meninggalkan dagangannya untuk salat jumat. Namun seiring itu pula sikap negatif muncul lebih kuat. Kesimpulannya, orang pasar tersebut tak tahu agama, dan mereka harus diberi peringatan. Namun, tak lama kemudian di sisi lain, perhatiannya teralih kepada seorang bocah yang sedang menangis karena tidak bisa mengambil sarang burung di pohon.  Entah kenapa hatinya tertarik mendekati bocah malang itu. Tanpa ia sadari ia telah berlama-lama dengan sang bocah—hanya untuk menolong bocah tersebut mengambil sarang burung sekaligus menangkap (menjerat) induk burung.

Pertemuan sang guru besar dengan bocah tersebut melemparkannya ke ingatan masa lalu. Sejenak ia merasa seperti kanak-kanak lagi. Bersama sang bocah itu pula ia seperti menemukan lorong waktu. Ia kembali merasakan masa kanaknya yang bahagia. Hanya satu yang tak ia ingat. Hari itu hari jumat. Dan ia telah telat. Sesampai di mesjid para jemaah sudah berhamburan keluar. Ia telat total. Mata tajam para jemaah menusuk tepat di matanya. Yang intinya; kenapa ia bisa begitu terlambat. Segera ia merasa mata-mata tersebut menghukum dan mengadilinya. Ia seorang guru besar. Orang terpandang karena ilmunya yang dalam. Tapi apakah pantas orang seperti itu bisa telat jumaatan. Pas giliran jadi khatib dan imam lagi!

Sang guru besar itu seperti menelan sendiri pikiran apriorinya terhadap orang pasar  tadi. Bagaimanapun, tadi, ia telah menghakimi orang pasar yang tak tahu agama karena tidak segera berjumaatan. Dan kini, para jemaahnya, lewat mata mereka, menghukum keterlambatannya.

Kejadian tersebut membuat sang guru besar memutar ulang semua kejadian barusan. Ia berusaha mencari jawaban logis secara agamawi atas kejadian yang menimpanya. Dan, ia mendapatkannya….

Demikianlah sedikit kilasan antologi Dilarang Mencintai Bunga-bunga ini. Semoga ada manfaatnya…

Zamroni Ibrahim

Judul  : Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (Sebuah Antogi), Pengarang : Kuntowijoyo, Penerbit : Pustaka Firdausa-Jakarta-cetakan III-1996, Halaman : 200 halaman

Read Full Post »

Selalu ada suasana mencekam saat membaca prosa Iwan Simatupang. Dalam banyak karya sastranya (cerpen dan novel), Iwan tidak pernah memberikan tokoh atau watak ceritanya kesempatan hidup bahagia. Watak dalam prosa Iwan selalu manusia problematis. Begitu pula suasana ceritanyanya, Iwan kerap kali menggambarkan sisi kelam manusia yang tak bahagia.

Barangkali itulah ciri khas seorang Iwan Simatupang. Seorang sastrawan penting Indonesia yang telah mendapatkan capnya sendiri, Cap Iwan. Ke-khas-an seorang Iwan ini bisa terwakili dalam antologi cerita pendeknya, Tegak Lurus dengan Langit. Antologi tersebut merangkum 20 cerpen Iwan Simatupang dalam beberapa tahun rentang kariernya di dunia sastra. Memang tak banyak cerpen Iwan Simatupang. Kariernya di dunia sastra berkisar semasa 22 tahun. Itupun produktif di masa 10 tahun pertama kepengarangan. Disamping aktif menulis karya sastra, ia juga banyak menulis esai. Iwan sendiri memulai kepengarangannya di usia 30-an.

Antologi Tegak Lurus dengan Langit yang diterbitkan Buku Kompas (2004) ini dibuka dengan cerpen Lebih Hitam dari Hitam. Inilah cerpen (prosa) pertama Iwan setelah sekian lama bergelut dalam dunia tulis-menulis (esai, artikel). Lebih Hitam dari Hitam dimuat pertama kali di Siasat Baru, 30 desember 1959. Cerpen ini menceritakan orang gila yang “dikarantina” di Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Cerita yang dinarasikan oleh watak “aku” kental sekali aroma kegilaan. Iwan melukiskan pola pikir non-waras di kepala orang gila—yang terkadang kalau dipikir-pikir, pola pikir tersebut bisa jadi benar juga—betapa pun irasionalnya pola pikir tersebut. Si Kepala Besar yang menjadi teman ngobrol tokoh “aku” itu misalnya. Kita bisa melihat bagaimana si Kepala Besar yang dengan sengaja merebut dan merusak surat kabar yang sedang dibaca oleh tokoh “aku”.

Si Kepala Besar sudah jelas gila, kalau tidak bagaimana mungkin dia bisa nginap di RSJ. Merebut dan merusak surat kabar rekannya sesama penghuni RSJ adalah bentuk dari sikapnya yang non-waras. Tapi tahukah kita motif perebutan dan perusakan tersebut? Memang si “aku” tidak jadi melampiaskan amarahnya, sebab seiring dengan timbulnya emosi saat korannya direbut, saat itu pula terbit rasa kasihan. Perawakan “sang musuh” yang menyedihkan dengan kepala botak dan besar telah mengalahkan rasa amarah. Tapi perlakuan belas kasihan seperti itulah yang sangat dibenci oleh si Kepala Besar. Ia menganggap belas kasihan menyiksa dan mengganggu hidupnya. Ia ingin bila ia pantas dipukuli, maka ia harus dipukul. Seperti merebut dan merusak koran itu tadi misalnya, si Kepala Besar ingin si “aku” memukul atau paling tidak marah atas kelancangannya. Gila, bukan? Itulah Iwan Simatupang, dimana dengan sangat literer dia melukiskan penjungkiran pola pikir yang di mata orang normal dianggap wajar.

Lebih Hitam dari Hitam ditutup dengan kehilangan si ‘aku” atas rekannya si Kepala Besar. Si Kepala Besar yang tiba-tiba tanpa pamit telah meninggalkan RSJ. Pulang. Dan, tahu-tahu si “aku” dikabari tentang kematian kompatriotnya tersebut. Si “aku” jelas saja kaget, tapi lebih kaget lagi ketika perawat menitipkan sebuah wasiat untuknya. Wasiat tersebut sebuah koran. Sebelum meninggal, si Kepala Besar berpesan agar sebelum ia meninggal, keluarganya mengganti koran si “aku” yang telah ia telah rusak.

Cerita pendek lain yang terangkum dalam antologi ini adalah Monolog Simpang Jalan. Cerpen ini masih berkisar seputar orang gila. Cerpen ini berkisah tentang seorang Pengarang yang mencari inspirasi dari seorang gila di persimpangan jalan. Di luar dugaan sang Pengarang, si Gila tahu ia sedang menjadi objek karangan. Si Gila tak terima. Ia ingin tahu apa motif si Pengarang yang ingin menjadikannya sebagai objek cerita. Pertanyaan si Gila tak dapat jawaban si Pengarang. Kemudian pertanyaan demi pertanyaan—yang juga masih belum ada jawabnya—berlanjut menjadi semacam monolog, semacam ceramah. Ya, monolog atau ceramah dari seorang gila.

Selanjutnya, antologi ini juga memuat Kereta Api di Jauhan. Cerpen ini berkisah tentang sebuah keluarga yang mati bunuh diri. Bunuh diri yang bermotifkan ketidakbahagiaan hidup, akibat kekurangan spritualitas. Ya, cerpen ini kisah kematian yang tragis. Sebuah keputusan yang brutal, karena semua pelaku bunuh diri mati dengan menabrakkan diri mereka ke kereta api.

Ini jelas cerita tentang sisi kelam jiwa manusia. Jiwa yang tak lagi sanggup memikul semua kegamangan hidup bersama semua tantangannya. Kalau kita simpulkan, Iwan Simatupang—dalam Kereta Api di Jauhan ini—masih berkutat pada kisah pertarungan jiwa manusia yang akhirnya kalah melawan keadaan.

Disamping cerita-cerita di atas, antologi ini juga memuat cerpen Tegak Lurus dengan Langit, cerpen yang menjadi judul antologi. Sama seperti tiga cerpen yang telah kita ulas tadi, cerpen ini juga tragis. Kelam. Dalam cerpen ini, Iwan menggambarkan sebuah keluarga yang gelisah, nyaris separuh gila semuanya, akibat menghilangnya sosok yang menjadi ayah dan suami di keluarga mereka. Kehilangan sosok yang tak jelas dimana rimbanya tersebut melahirkan rasa frustasi. Si ibu tidak bisa disebut janda, karena jelas mereka belum cerai. Anak-anak tidak bisa disebut yatim karena tak ada kabar ayah mereka telah mati. Alhasil, situasi status serba tak menentu tersebut melahirkan tekanan sosial yang berimpilikasi psikologis kepada mereka semua.

Sang ibu pada akhirnya mati mendadak setelah ia tak sengaja dipergoki si bungsu bertelanjang-ria, bergulat, bemain cinta dengan pria lain. Dua kakak si bungsu dipenjara seumur hidup gara-gara membunuh petugas sensus. Kesalahan petugas sensus mungkin saja kecil, karena bertanya dimana ayah mereka. Tapi di mata kedua kakaknya, kesalahan si petugas sangat besar, membuka luka lama keluarga mereka yang selama ini tersiksa karena kehilangan ayah mereka.

Lantas bagaimana dengan si bungsu? Kisahnya lebih hebat dan tragis lagi. Sang ayah yang telah 17 tahun menghilang, tiba-tiba muncul di depan rumah mereka. Sebuah kepulangan yang sangat tidak tepat, setelah satu persatu anggota keluarga tersebut tercerabut dari rumah mereka. Si ibu mati karena malu pada anak-anak karena telah ber-seks di luar nikah dengan laki-laki lain, si kakak harus dikurung seumur hidup di penjara karena membunuh orang yang menanyakan ayah mereka dimana—ini jelas implikasi dari hilangnya ayah mereka. Kutukan-kutukan tersebut akibat dosa besar ayah mereka yang menghilang tanpa rimba. Kini sang ayah telah pulang. Kutukan tak lagi bisa menjadi keberkahan. Dosa tak lagi mungkin terhapus.

Kutukan dan dosa itulah yang membawa si bungsu pada akhirnya membunuh ayah mereka. Pembunuhan untuk menuntaskan dendam, itulah motifnya. Langkah cepat untuk membebaskan beban pikiran, itulah tujuannya. Pada akhirnya, memang si bungsu mendapatkan apa yang ia motifkan dan ia tujukan. Kebebasan dari bayang-bayang sang ayah. Dan pada akhirnya, memang ia merasakan dirinya sama-sama tegak lurus dengan langit!

Barangkali cukup empat cerpen saja yang diulas di sini. Sebab ada sisa 16 cerpen lagi. Empat ulasan singkat tersebut saya rasa cukup untuk menggambarkan isi dari antologi Tegak Lurus dengan langit ini. Sebagian isi antologi cerpen ini sama. Dalam artian pengambilan temanya. Sama-sama melukiskan sisi kelam manusia, irasionalisme, ironi, dan tragedi manusia. Tapi perlu diketahui juga, sekitar enam atau tujuh cerpen Iwan yang terangkum di antologi ini, juga mengangkat tema-tema yang ringan. Enam atau tujuh judul tersebut, Iwan tulis dengan ringkas, sederhana, tanpa ada keinginan banyak-banyak berfalsafah, namun masih tetap dengan style kedalaman pikir. Menurut kata pengantar buku antologi ini, cerita-cerita yang memang ringkas tersebut dibuat Iwan karena faktor kolom koran yang memuat. Itulah mengapa Iwan harus kreatif menyingkatkan karangannya, hanya karena faktor space kolom koran semata.

Nah, bagi kita yang belum menikmati kumpulan (antologi) Iwan yang satu ini, selamat membeli. Dan, selamat menyelami pola pikir Cap Iwan yang khas!

Zamroni Rangkayu Itam

info:

Judul : Tegak Lurus dengan Langit (Kumpulan Cerpen), Pengarang : Iwan Simatupang, Penerbit : Buku Kompas-Jakarta-cetakan I (terbaru)-2004, Halaman : 154 halaman

Read Full Post »

Membaca dan menelaah “Dilarang Menyanyi Di kamar Mandi”-nya Seno Gumira Ajidarma kita dibuat tertawa sendiri—baik karena lucunya, sarkasme yang meledek dan menyindir, kendati pada akhirnya membuat kita—khususnya para pria lebih berinstropeksi diri setelah mengunyah dan menelan karya sang maestro cerpen Indonesia tersebut.

Cerita bermula dari sebuah setting gang sempit khas warga kelas bawah kota Jakarta. Ada sebuah ritual aneh bapak-bapak penghuni gang tersebut. Mereka hapal benar kapan jadwal seorang wanita primadona gang tersebut mandi. Mereka hapal bukan karena mereka sering mengintip wanita tersebut mandi melalui celah-celah lubang kecil kamar mandi, tapi hanya sebatas menikmati bunyi byar-byur-byar-byur air gayung menimpa tubuh sang wanita dan lantai kamar mandi, serta klst-klst-klst bunyi sabun menggosok kulit, dan yang lebih hot lagi wanita tersebut sambil bersenandungkan lagu-lagu dengan suara yang seksi serak-serak basah. Tak harus melihat secara live perempuan itu telanjang mandi memang, suara-suara itu saja sudahlah cukup untuk membuat bapak-bapak penghuni gang tersebut mengalami ekstase orgasme melalui imajinasi mereka.

Suara seksi si wanita di kamar mandi bukannya tidak ada masalah. Para istri penghuni gang sempit itu menjadi resah. Sikap dingin dan tidak bergairah para suami di tempat tidur sudah barang tentu membuat para istri uring-uringan. Lantas mereka menuding si pemilik suara seksi serak-serak basah yang selalu menyanyi di kamar mandilah yang menjadi penyebabnya. Sadar akan bahaya yang menimpa nafkah batin mereka, para istri pun mengultimatum ketua RT untuk melarang si wanita bersangkutan menyanyi di kamar mandi. Amanah para ibu-ibu kepada ketua RT pun berjalan sukses. Si pemilik suara seksi serak-serak basah yang selalu menyanyi di kamar mandi itu pun menyanggupi permintaan mereka.

Si wanita tersebut memang tidak lagi menyanyi di kamar mandi. Lantas apakah masalah selesai begitu saja? Tidak! Bapak-bapak masih konsisten dengan imajinasi “kreatif” mengenai si pemilik suara serak-serak basah itu, walau hanya sebatas mendengar bunyi byar-byur-byar-byur air gayung menimpa tubuh serta klst-klst-klst bunyi sabun menggosok kulit. Melihat tiadanya perubahan dari diri suami mereka yang masih tak bergairah di ranjang, para istri kembali uring-uringan dan melapor kembali kepada ketua RT. Kali ini ibu-ibu lebih ekstrem, mereka meminta pak RT untuk mengusir si wanita dari lingkunngan gang mereka. Setelah menimbang-nimbang ketua RT pun menyanggupi. Sebaliknya, si wanita, dengan penuh sukarela menuruti keinginan para istri yang kekurangan nafkah batin itu untuk pindah dari kediamannya. Tentu saja hal ini disambut napas lega oleh para istri.

Setelah tiadanya bunyi bunyi byar-byur-byar-byur air gayung menimpa tubuh sang wanita dan lantai kamar mandi, serta klst-klst-klst bunyi sabun menggosok kulit, begitu juga senandung lagu-lagu dengan suara seksi serak-serak basah, masalah yang sama tidaklah berakhir begitu saja. Tampaknya suara-suara tersebut terekam kuat melekat dalam imajinasi para bapak penghuni gang tersebut, kendati sang “biang keladi” telah pergi. Rupanya tidak bisa begitu saja imajinasi para bapak itu bisa terhapus. Lagipula bagaimana mungkin bisa memenjarakan imajinasi? Sang wanita bersuara seksi yang selalu menyanyi di kamar mandi bisa saja pergi jauh tak kembali, tapi imajinasi tak pernah bisa dikibuli. Siapa yang salah, si wanita yang selalu menyanyi di kamar mandi-kah, para bapak yang imajinasinya kemana-manakah, atau sama sekali semuanya bersalah? Kalau si wanita yang salah karena menyanyi di kamar mandi dengan suaranya seksi dan lantas mengundang imajinasi liar bapak-bapak, mungkin saja ia memang pantas diusir. Namun jika para bapak yang salah karena masih tetap saja membayangkan suara aktivitas si wanita di kamar mandi kendati ia telah pergi, kenapa sang wanita dikorbankan (baca : diusir)?

Terus terang ini sebuah cerpen yang sangat menarik. Teramat baik saya rasa sebagai bahan pertimbangan untuk mengkaji ulang secara intensif UU Anti Pornografi di negara kita tercinta ini, Indonesia…

Read Full Post »

Dari beberapa karya sastra almarhum buya Hamka, sebutlah seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, Di Bawah Lindungan Kakbah, dan Merantau Ke Deli, yang terakhir inilah yang paling saya sukai. Barangkali saya tidak berlebihan dan berkata asal-asalan, sebab dalam kata pengantar cetakan ketujuh penerbit Bulan Bintang, sang Buya mengatakan bahwa Merantau Ke Deli adalah karya yang paling memuaskannya.
Pada dasarnya Merantau Ke Deli ini adalah karya beliau yang dimuat secara bersambung pada pertengahan tahun 1939-an di majalah Pedoman Masyarakat seperti karya-karya sastra beliau sebelumnya. Dicetak dalam bentuk buku pada tahun 1941 oleh penerbit Cerdas Medan. Karya ini memang teramat istimewa bagi saya generasi muda Indonesia. Merantau Ke Deli ibarat pita rekaman kaset yang menggambarkan sebuah episode situasi kehidupan bangsa Indonesia masa itu, khususnya Deli. Kenapa saya mengatakan demikian? Melalui konteks Merantau Ke Deli, kita bisa melihat bagaimana generasi baru Indonesia dibentuk. Kenapa demikian? Hal ini tentu tidak lepas dari peranan dan kedudukan Deli itu sendiri di mata orang senusantara pada masanya. Tanah Deli sebelum novel bersangkutan ditulis memang telah menjadi semacam bandar atau kota besar yang terbuka bagi pengusaha besar asing untuk menggembangkan karet, tembakau dan kelapa sawit. Dampak dari itu semua sangat jelas dengan banyaknya orang yang berdatangan dari seluruh nusantara untuk menjadi kuli kontrak di perkebunan.
Novel ini menceritakan semacam “benturan budaya” kalau boleh saya katakan demikian. Di sini diceritakan tentang Lemann, seorang perantauan Minangkabau yang mengadu nasib di tanah Deli sebagai pedagang kaki lima. Dalam novel ini kembali sang Buya mengambil tokoh dari latar budaya yang sangat diakrabinya, maklumlah karena buya Hamka adalah orang Minang alias urang awak. Pertemuan Leman dengan Poniem (Baca : Poniyem, pen), seorang perempuan Jawa, berawal dari aktivitas biasa, antara penjual dan pembeli, karena memang Leman berjualan di dekat perkebunan tempat Poniem bekerja sebagai kuli kontrak. Leman yang masih single merasa tertarik kepada Poniem yang digambarkan sebagai perempuan lumayan cantik. Tapi hasrat Leman untuk menjalin hubungan serius sampai tahap rumah tangga bukannya tanpa halangan. Poniem adalah isteri simpanan atau piaran mandor besar perkebunan. Tapi justru itu yang menjadi senjata Leman untuk meraih simpati dari Poniem.
“Jadi engkau tidak dinikahinya?”
“Belum, saya belum dinikahinya”
“Jadi bagaimana pertimbangan Poniem, tinggal di luar nikah dengan seorang lelaki yang umurnya lebih tua daripada engkau?”
Itulah cuplikan sebuah dialog antara Leman dan Poniem yang tertera di halaman 17. Keadaan Poniem yang hidup luar nikah membuat rayuan-rayuan Leman diselingi alasan logis kenapa Poniem harus meninggalkan kedudukannya sebagai seorang isteri ”piaraan”. Tidak mudah memang bagi Leman untuk meyakinkan Poniem utuk meninggalkan mandor besar, sebab banyak pengalaman wanita-wanita seperti Poniem yang tertipu. Awalnya diajak kawin secara sah di hadapan penghulu, tapi setelah barang-barang emas si wanita habis, ia ditinggalkan begitu saja. Walaupun pada akhirnya hasrat Leman untuk menikah dengan Poniem terwujud, namun itu bukan berarti mereka berdua tidak mengalami berbagai macam ujian.
Ujian pertama adalah ketika mereka harus melarikan diri ke Medan untuk menikah secara resmi di hadapan penghulu. Tentu di samping itu juga untuk menghindarkan diri dari kejaran suami kumpul kebonya Poniem, sebab ia membawa seluruh barang emas yang telah diberikan kepadanya, kendati pada akhirnya mereka berdua kembali lagi ke Deli setelah mendengar kabar bahwa mandor besar telah pulang ke tanah Jawa. Di Deli itulah mereka memulai hidup baru dengan cara berdagang kecil-kecilan—dimana perdagangan mereka meraih sukses berkat modal yang diberikan Poniem melalui gadaian barang emasnya.
Lima tahun dalam usia perkawinan mereka tiada ujian-ujian berarti yang menimpa keduanya. Bahkan mereka termasuk pasangan yang berbahagia. Hubungan keduanya aman-aman saja. Secara ekonomi mereka sangatlah berkecukupan, bahkan bisa dikategorikan sebagai orang kaya yang sukses di perantauan. Namun sayang, keluarga mereka tidak dianugrahi buah hati. Ini jugalah yang menghambarkan hubungan mereka berdua. Kabar kesuksesan Leman yang sukses di perantauan setelah beristrikan seorang Jawa yang setia dan pekerja keras akhirnya tersiar luas juga di kampung Leman di ranah Minang. Dapatlah ditebak juga pada akhirnya, banyak orang kampung Leman berduyun-duyun ke Deli sekadar mengadu nasib dengan cara menumpang Leman. Ada yang datang mengaku sebagai kemanakannya atau Leman adalah mamaknya, Leman adalah saudara jauhnya, dan Leman adalah saudara sesukunya, dan bemacam pengakuan-pengakuan lain yang menjengkelkannya. Sebab, ketika dulu is masih miskin, yang hanya berdagang kecil-kecilan, tak ada sesiapapun yang menganggap ia sebagai saudara. Namun situasi ini disambut baik oleh Poniem, sebab ia baru tahu kalau suaminya punya kaum dan sanak famili. Bukan orang yang terbuangkan.
Babak selanjutnya yang sangat menarik adalah ketika Leman dihimbau supaya pulang kampung oleh ninik mamak kampung halamannya. Memang sudah masanya lah Leman untuk pulang kampung. Orang yang sukses di perantauan, khususnya bagi perantau Minang, ada semacam “hutang” yang harus dilunasi kepada kampung. Hidup Minangkabu ditopang oleh adat dan lembaga, seorang anak Minangkabau yang sukses tidak sah rasanya jika hutang kepada kampung itu tidak dibayar. Ini berlaku bagi semua, tak terkecuali bagi Leman. Setelah menimbang-nimbang akhirnya Leman memutuskan memenuhi himbauan ninik mamaknya. Urusan bisnis dan kedainya ia serahkan sepenuhnya kepada anak semangnya yang setia dan berdikasi, Suyono, seorang Jawa.
Hari-hari pertama mereka berdua di kampung Leman teramat menyenangkan, terlebih Leman telah menjadi semacam panutan bagi muda-mudi di kampungnya. Ini tentunya juga berlaku bagi Poniem. Ia bisa mengenal kampung halaman suaminya dengan lebih baik, lebih-lebih lagi ia sendiri disambut begitu baiknya oleh pihak keluarga suaminya. Namun itu tidaklah berlangsung lama bagi keduanya. Sebab, dalam adat Minang, di Rumah Gadang tidak ada kamar bagi anak laki-laki, hanya perempun yang ada hak untuk itu. Anak laki-laki jika ia sudah menikah maka ia akan tinggal di Rumah Gadang milik keluarga isterinya. Rumah Gadang di dalam keluarga Leman telah terisi oleh saudara-saudaranya yang perempuan dan telah bersuami. Ini sangat menyusahkan Leman, jika ia menikah dengan orang Minang, apalagi sekampung, tentu ia bisa tinggal di Rumah Gadang keluarga sang isteri. Tapi sekarang ia beristrikan seorang Jawa, lantas mau dikemanakan Poniem. Itulah barangkali sebabnya tak lama-lama Leman berada di kampungnya.
Di malam terakhir sebelum mereka kembali ke Deli, Leman dipanggil oleh seorang tetua kampung. Serius benar pembicaraan mereka pada malam itu: soal adat. Sebagaimana yang telah dikatakan tadi, setiap anak Minangkabau mempunyai hutang kepada adat lembaga kampung. Hutang itu bukanlah uang dan emas, tapi hutang malu. Seorang anak Minangkabau yang kawin dengan orang di luar orang Minang, dianggap belum lengkap kedudukannya sebagai anak Minang. Secara adat Leman belumlah berhak menyandang gelar Sutan sebagai perlambang seseorang yang telah beristri. Sebab itulah dia disarankan untuk menikah sekali lagi dengan orang yang senegeri dengannya. Dengan itu, hutang Leman kepada negeri terlunasi. Sebab dia kini telah mendirikan adat dan lembaga, sah sebagai anak Minangkabau sejati. Pepatah setinggi-tinginya bangau terbang, ke kubangan jua akhirnya memang lekat di hati Leman. Di dalam situasi sebagai orang berada sekarang memang memungkinkannya untuk kawin dengan orang sekampung, terlebih lagi para tetua itu sendiri yang mencarikannya, seseorang yang cantik, muda, tentunya perawan lagi.
Sesampainya di Deli, anjuran untuk kawin lagi dengan perempuan yang sekampung dari ninik mamaknya benar-benar menyita pertimbangan-pertimbangan Leman. Kalau dia menerima anjuran itu, lantas bagaimana dengan Poniem, akankah Poniem bersedia dimadu? Bukankah itu sebagai bentuk penghianatannya kepada janji-janjinya dahulu? Kalau dia menolak, bukankah dia orang yang berada dalam lingkaran adat dan lembaga, yang harus menjunjung dan mendirikannya dengan baik, sehingga dia sah sebagai seorang anak Minangkabau. Lagi pula, bukankah tidak selamanya badan akan terpancang di perantauan, dan toh, pada akhirnya dia akan kembali juga ke tanah kelahirannya. Pada taraf ini Leman benar-benar mengalami pergolakan jiwa yang hebat yang tidak bisa ia putuskan begitu saja. Banyak masukan-masukan dari teman-teman—yang rata-rata juga berasal dari Minangkabau menasehatinya bahwa perkataan ninik mamaknya memang benar, ia harus kawin lagi dengan perempuan yang sekampung. Kendati ada juga masukan-masukan berbeda dari teman sesama Minang yang telah lama mengubah pandangannya tentang adat, yaitu Bagindo Kayo. Menurut senior seperantauan Leman itu, sebelum memutuskan apakah akan kawin lagi atau tidak, Leman harus menggubah pandangannya tentang perantauan, adat, dan kampung halaman dahulu. Sebab ini penting, begitulah kira-kira kata bagindo Kayo. Jika Leman bertekad menganggap tanah rantaunya adalah tanah hidup matinya, janganlah kiranya Leman kawin lagi, tentang adat dan lembaga di kampung, biarkanlah. Namun, jika Leman merasa bahwa dia harus menggapai dirinya sebagai orang yang beradat dan berlembaga, ada baiknya dia untuk kawin lagi. Sebab, dengan kawin lagi dengan orang senegeri dengannya, Leman akan mempunya keturunan yang bergaris kepada Minangkabau.
Fase kebimbangan Leman ini sangat penting, sebagaimana yang kita ketahui, Minangkabau mengambil sistem Matrilineal, yaitu kesukuan seseorang dipakai dari pihak sang ibu. Kalau pun ada Leman punya anak dengan Poniem, anak itu tidak dipandang sebagai seorang Minangkabau. Otomatis anak tersebut tidak bermamak. Kita tentu tahu, dalam masyarakat Minangkabau yang komunal, seorang mamak (paman si anak dari pihak ibu tentunya, pen.) tidak hanya memikul tanggung-Jawab kepada anak-anaknya, tapi juga memikul beban tanggung jawab kepada kemenakan-kemenakan dari saudara perempuannya. Sehingga di Minang muncul semacam kredo anak dipangku kemenakan dibimbing. Pandangan inilah yang pada akhirnya melekat di hati dan pikiran Lemann : kawin lagi.
Mengenai ninik mamak kampung Leman, sang pengarang, buya Hamka, tampaknya menyindir secara halus pandangan kesukuan Minangkabau, kendati beliau sendiri adalah seorang anak Minangkabau sejati. Kita bisa melihat, bagaimana para ninik mamak itu tampak gembira karena mengetahui Leman dan Poniem belum memiliki anak. Tentu dengan itu mereka akan mudah memasuki dan mempengaruhi Leman supaya kawin lagi dengan wanita sekampung. Dalam pikiran mereka, sangatlah disayangkan jika Leman yang sukses dan kaya di perantauan itu kawin dengan orang yang bukan sekampung. Sebab, jika Leman nanti telah meningal tentu harta kekayaannya tidak akan mengalir ke tanah kelahirannya.
Tidaklah mudah bagi seorang suami memberitahukan bahwa ia akan kawin lagi. Ini berlaku bagi semua laki-laki, tak terkecuali Leman. Walaupun pemberitahuan itu disambut dengan tangisan dan kesedihan yang medalam oleh Poniem. Namun apa mau dikata surat ke kampung yang mengabarkan bahwa Leman setuju untuk kawin lagi telah dikirim. Dan, ia hanya menunggu kedatangan calon istri keduanya saja. Walaupun Poniem rela dan setuju Leman kawin lagi, namun ia juga berharap sang suami nanti akan tetap mencintai dan tidak mencampakkannya, mengingat Poniem adalah sebatang kara di Deli, dan teramat jauh dari tanah kelahirannya.
Kehidupan Leman sebelum dan sesudah beristri dua teramat berbeda. Memang pada awal perkawinannya dengan istri keduanya yang bernama Mariatun itu tampak tiada masalah, karena kedua isterinya berada di rumah terpisah. Itu pun tidak lama, saat Leman memutuskan untuk menyerumahkan Mariatun dengan Poniem, karena alasan perdagangan yang sedang merosot, barulah riak-riak kecil sampai riak-riak besar persaingan kedua isterinya terlihat. Riak pertama, masalah siapa yang tinggal di kamar lantai atas dan bawah saja sudah mengundang nuansa kecemburuan. Memang Poniem diminta pendapatnya, tapi Leman memutuskan bahwa Mariatun yang tinggal di kamar atas dan Poniem di bawah. Kedua, sikap Mariatun yang tidak simpatik, kalau dalam hal memasak Poniem yang super sibuk berkelindan di dapur, tapi giliran menanting hasil masakan ke meja makan, si Mariatunlah yang ambil bagian sambil senyum simpul kepada sang suami yang telah menunggu. Ketiga, masalah siapa yang berhak menunggui kasir kedai mereka. Dalam hal ini si Mariatun tampaknya sangat agresif. Ia paham benar kedudukannya. Sebagai sitri muda, sekampung dan dihantar oleh ninik mamak lagi, sudah barang tentu ia akan mendapat tempat di hati Leman. Dalam pandangannya, madunya, si Poniem tidak lebih dari seorang perempuan yang menumpang di rumah suaminya. Sedangkan bagi Poniem, si Mariatun tak lebih dari perempuan yang tak tahu diri yang “dibeli” oleh duit suaminya. Baginya, Mariatun buta dan tak sadar jika kemajuan bisnis suaminya, Leman, berawal dari barang emasnya. Pada tahap ini perseteruan kedua istri Leman berada pada tahap kritis, karena sudah tersentuh area SARA jika boleh dikatakan demikian.
“Suka hatiku atas harta benda suamiku. Aku diantar ke sini oleh ninik mamakku, engkau babu di sini. Aku akan menolong suamiku berniaga, kami orang sekampung, sehalaman, bukan macam kau!”
Tapi siapa sangka, justru kata itu sang sedang ditunggu-tunggu Poniem sebagai serangan balik.
“Engkau hinakan perempuan Jawa? Mana engkau bisa hidup, mana tanganmu bisa berlilit emas kalau bukan orang Jawa ini, anak sombong! Engkau katakan engkau senegeri dengan suamimu. Ya begitulah perempuan Padang; mata duitan. Dulu ketika suamiku itu melarat di rantau ini, haram kalian hendak ingat kepadanya atau meminta pulang. Seorangpun haram perempuan Padang yang sudi kepadanya, dia seakan-akan terbuang…”
Itulah episode yang sangat kritis bagi keduanya. Walaupun dalam novel itu digambarkan Mariatun benar-benar mati kutu. Tapi simpati Leman kian tercurah kepadanya. Sebaliknya Poniem secara perlahan mulai merasa terasingkan dari suaminya sendiri. Lebih-lebih lagi lingkungan kedai Leman juga banyak dihuni oleh orang Minang, tentu ini menjadi senjata bagi Mariatun untuk menjelekkan-jelekkan Poniem yang telah berkata keterlaluan menghina adat Minangkabau.
Perseteruan kedua istri Leman ibarat bisul besar yang tinggal menunggu pecahnya saja. Sampai tibanya sebuah momen yang kelak akan mengubah arah kehidupan mereka semuanya. Suatu hari ketika kedai mereka menerima pasokan batik baru dari Pekalongan, Mariatun yang dengan seenaknya langsung mengambil sehelai kain yang baru dibuka dari kotak tersebut padahal fakturnya belum lagi diperiksa. Leman bukannya tidak memperingatkan bahwa itu adalah barang dagangan, lebih-lebih lagi barang itu belum diperiksa dengan benar fakturnya. Tapi Mariatun cuek saja. Melihat gelagat itu, Poniem tidak terima, dengan seenaknya juga dia mengambil satu helai kain dari dalam kotak tersebut. Leman marah dan langsung merebut kain tersebut dari Poniem dan mengembalikannya ke dalam kotak. Poniem lagi-lagi jelas tidak bisa terima, secepat kilat dia berlari mengejar Mariatun yang sedang naik ke kamar atas untuk menyimpan kain yang ia ambil barusan. Hasilnya dapat ditebak, tarik menarik akan kain yang baru diambil itu terjadilah sudah yang berakhir dengan pergumulan keduanya. Situasi ini jelas mengundang murka Leman. Dengan kasar dilerainya keduanya. Hal ini tidak menyenangkan Poniem karena cara melerai Leman yang sungguh tidak adil kepadanya dengan cara menedang kaki dan pinggangnya. Untuk ketiga kalinya Poniem tidak terima dengan perlakuan seperti itu, sehingga berujung perang mulut dengan suaminya, Leman. Tapi, itulah akhir dari hubungan mereka, sebab segera pada saat itu Leman langsung menjatuhkan talak tiga sekali kepada Poniem
“Kau boleh pergi dari sini! Kau orang Jawa! Boleh turutkan orang Jawa, boleh kembali ke kebun…, Mulai sekarang saya jatuhkan talak tiga sekali. Pergilah!”
Itulah episode akhir dari hubungan mereka sebagai suami istri. Bagi Poniem, tak terkatakan bagaimana perasaannya. Begitu juga bagi Leman tak tergambarkan bagaimana kosongnya pikiran dia mengingat perkataan yang telah terucap. Talak tiga sekali. Ketika akan meninggalkan kedai dan rumah mereka, Poniem tidak menuntut harta perdagangan mereka dihitung walau jelas ada haknya di dalamnya. Ia hanya mengambil sehelai kain batik yang dipersengeketakannya dengan Mariatun tadi sebagai kenang-kenangan pergaulan mereka. Belum sadar lagi Leman dari bermenungnya, anak semang sekaligus rekannya, Suyono, minta pamit juga. Rupanya kata-kata “Jawa” yang diucapkan Leman kepada Poniem tadi juga mengena di hatinya. Tak heranlah, sebagai orang Jawa, Suyono merasa harus berpamit diri menyusul Poniem yang terbuangkan. Saat itu barulah Leman sadar akan hilangnya dua pangkal keberuntungannya selama ini. Pertama, istri yang setia, kedua anak semang sekaligus rekan yang juga sangat setia. Tinggallah Leman mengucap dan menyesalkan apa yang telah terucap.
Sejak perceraian itu, tidaklah lama Leman berbenam dalam kesedihan dan penyesalan, sebab Mariatun mengandung. Bukankah itu yang telah lama yang ia nanti-nantikan, seorang anak. Dengan adanya anak, lengkaplah sebuah keluarga. Untuk beberapa waktu setelah kelahiran anak mereka terasa aman-aman saja, hanya saja Leman merasakan perdagangannya mulai merosot. Untung yang diperoleh tidak sebesar dulu lagi. Hal ini diperparah dengan adanya kabar di kampung yang meminta Leman untuk membangun sebuah rumah berikut sepetak sawah, sebab kini ia telah memiliki anak, anak perempuan lagi, yang dalam pandangan adat lebih tinggi derajatnya dari laki-laki. Leman menyanggupi permintaan tersebut, namun sayang, Leman tidak kira-kira mengirimkan uang ke kampung, ia memakai uang yang seharusnya untuk modal perdagangan. Tidak sampai di situ saja, karena Mariatun sudah agak lama di rantau, pihak keluarga menyarankan untuk pulang, menjenguk keluarga di kampunglah pastinya. Leman kembali setuju. Namun sangat disayangkan, Leman kembali tidak kira-kira menggunakan uang untuk ongkos pulang. Tentu ongkos yang dimaksud disini bukan semata ongkos bis atau kereta api. Leman membeli bermacam oleh-oleh yang mahal, barang emas istrinya ditambah, ia tidak mau hilang gengsi kalau kejumawaan pulang kampungnya kali ini dengan Mariatun kalah dengan waktu pulang kampung dengan Poniem tempo dulu. Sikap Leman yang tidak kira-kira itu pada akhirnya membuahkan kebangkrutan bagi usahanya nanti di tanah Deli.
Sedangkan kehidupan Poniem setelah perceraiannya dengan Leman terasa begitu menyesakkan baginya. Walaupun menyimpan rasa sakit hati, tapi ia tidak bisa menampik bahwa Lemanlah yang telah mengenalkannya kepada kehidupan yang lebih baik. Melalui Leman dia bisa lepas dari tangan mandor besar. Melalui Leman dia bisa menjadi dirinya seseorang yang lebih baik. Diikuti oleh Suyono, orang satu negeri dengannya, sama-sama dari Jawa, mereka berangkat ke kota Medan. Di sanalah kehidupan baru mereka dimulai dari awal. Mereka bekerja keras dan saling memahami satu sama lain layaknya kakak beradik. Namun hubungan mereka pada akhirnya beranjak ke tahap pernikahan. Memang pernikahan mereka tidaklah dilandasi oleh rasa-rasa cinta gejolak orang muda, tapi lebih kepada keinsafan mereka yang sama-sama pernah mengarungi kehidupan yang serba keras. Tapi, itulah awal peruntungan mereka, usaha mereka yang dirintis lagi dari awal ternyata membuahkan hasil yang gemilang.
Berbeda dengan Poniem dan Suyono, kehidupan Leman dan Mariatun justru sebaliknya. Secara ekonomi mereka sedang terpuruk. Dulu Leman yang punya kedai kini tidak lagi, dan harus kembali lagi ke situasi semula berjualan kecil-kecilan di kali lima dengan mengendarai kereta angin. Leman sadar betul, kalau dulu dengan Poniem—yang sewaktu-waktu harta emas sebagai ganti penyimpan uang bisa digadaikan sebagai tambahan modal, kini tidak lagi. Keluarganya memang punya rumah dan tanah di kampung yang telah ia beli, tapi itu jelas tak bisa digadai, maka sampailah Leman kini berada pada tahap yang menyedihkan. Sehingga pada akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kampung saja.
Poniem dan Suyono, yang telah sukses, pada akhirnya memutuskan untuk mencari rumah di tempat lama mereka, Deli, karena kota Medan bukanlah tempat yang tenang untuk menghabiskan hari-hari tua. Suyono, pada akhirnya berangkat ke Deli mencari tanah dan rumah yang mereka idam-idamkan. Tak disangka di Deli ia bertemu dengan Leman yang kini telah jatuh miskin. Banyaklah obrolan yang mengalir dari keduanya. Leman yang dengan prihatin bagaimana jurang kemiskinan di rantau kini mengerogotinya. Suyono pun begitu, bagaimana susahnya perekonomian pada saat ini. Memang banyak yang mereka bicarakan, tapi satu yang Leman tidak tahu, bahwa Suyono telah kawin dengan Poniem. Sedangkan Suyono entah karena segan atau apa, tidak memberitahu statusnya dengan Poniem. Maka sampailah pada permintaan Leman yang ingin dipertemukan dengan Poniem, sekedar minta maaf sebelum ia kembali ke kampung halamannya. Dan Suyono pun mengabulkannya.
Babak akhir dari novel ini adalah acara maaf-memaafkan antara Leman dan Poniem. Poniem dan Suyono yang telah menghuni rumah barunya di Deli menerima kedatangan Leman dengan tangan terbuka. Saat itulah segala dendam mereka hapuskan, luka terobati. “Kenekatan” Leman yang meminta maaf kepada bekas istrinya memang sungguh ksatria, maaf yang diberikan Poniem sungguh begitu mulia. Tapi khusus bagi Leman, kenekatannya itu sendiri membawa malu yang tidak kepalang tanggung baginya pada akhirnya. Memang minta maaf adalah perbuatan mulia, tapi bagaimana minta maaf kepada janda sendiri, dirumahnya sendiri lagi! Dari sudut pandang lain, ini tentu perbuatan yang hina, apalagi setelah ia tahu Poniem telah bersuamikan Suyono. Tidak cukup itu saja rasa malu yang harus ditanggung Leman, ketika tawaran tulus untuk mengajak kongsi dagang datang dari Suyono dan Poniem. Tentu Leman harus mengesampingkan tawaran itu, walau setulus apapun tawaran itu. Orang yang telah dia hinakan kini menawarkan rasa baik menawarkannya modal dagang. Tak dapat ia terima tawaran itu, tahu dia apa itu rasa harga diri, kendati harus makan tanah di kampungnya, asal tidak menerima uluran modal mereka…
Novel ini ditutup dengan babak perpisahan yang mengharu biru antara Poniem-Suyono dengan Leman-Mariatun. Dendam dan rasa sakit hati yang mengendap di hati mereka telah lepas di hati mereka pada waktu perpisahan itu.
*******
Novel ini memang agak kontroversial, khususnya bagi orang Minangkabau. Setahu saya, saat-saat awal buku ini tersebar, ada banyak kritikan dari para tokoh Minang, karena dianggap menjelek-jelekkan adat Minang, untunglah yang mengarang novel ini adalah buya Hamka, yang tak lain dan tak bukan adalah anak sejati ranah Minang, sehingga kontroversi tersebut menguap begitu saja. Walaupun begitu, dengan menulis sedikit ulasan novel ini, bukan berarti saya menginginkan kontroversi itu bangkit kembali. Sebagai orang yang “dibentuk” oleh alam Minangkabau (saya pernah enam tahun menuntut ilmu di sana, di Bukittinggi) tak ada maksud demikian. Secara pribadi, saya hanya memandang Merantau Ke Deli sebagai panduan bagi saya bagaimana memandang “rantau” itu sendiri. Sebagaimana kata buya Hamka, dari Sabang sampau Merauke, kini kita tidaklah “Merantau” lagi. Sebab, setiap inci dari tanah nusantara Indonesia adalah ibu pertiwi kita, kita memiliki hak untuk memilih dimana kita tinggal dan berada, tentu berikut mencari nafkah. Berkaca dari Merantau Ke Deli, kita tahu bagaimana generasi setelah kita terbentuk dan terbina, yaitu asimilasi. Benar buya Hamka, anak Deli adalah anak dari yang ibunya Jawa tapi bapaknya Minang, ibunya Betawi dan bapaknya Batak, ayahnya Bugis dan ibunya Jambi, begitulah seterusnya…

Zamroni Rangkayu Itam

*Tulisan di atas sebelumnya dimuat di weblog palantakayu dengan titel yang sama….

sekilas info novelnya:

Judul    : Merantau Ke Deli, Pengarang : HAMKA, Penerbit : Bulan Bintang-Jakarta-cetakan VII-1977, Halaman: 153 halaman

Read Full Post »

Apa yang ingin disampaikan Pram lewat Bukan Pasarmalam ini? Sebelum saya mengulasnya, saya katakan, kandungan novel tipis tapi berisi tebal ini sesuai untuk untuk setiap zaman. Terlepas dari kapan dan pada zaman apa Pram menulisnya.

Karya Pram yang satu ini, dalam pandangan saya, sarat dengan unsur magis spritual, kendati secara harfiah yang tersurat tidak ada sesuatupun yang menunjukkan hal demikian. Akan tetapi jika ditelisik dari segi yang tersirat, Bukan Pasarmalam menunjukkan seperti yang telah saya katakan tadi.

Bukan Pasarmalam diawali dengan cerita seorang anak yang pulang kampung setelah sekian lama tidak pulang—membezuk ayahnya yang sedang sakit keras. Dalam episode tersebut, di dalam perjalanan lewat kereta api, di kepala sang anak banyak terungkap memori lama tentang masa kecil, masa muda dan tentang pergolakan revolusi serta perjuangan. Di dalam perjalanan, digambarkan bagaimana watak sang anak yang tak lepas dari rasa khawatir, sesal, dan segenap rasa was-was perihal kesehatan bapaknya. Rasa sesal yang terbit dalam diri sang anak oleh karena sebab perikaian masalah keluarga, dan tak kurang juga berakar dari masalah revolusi.

Bukan Pasarmalam juga luahan kekecewaan atas belum lengkapnya kedaulatan negara. Memang secara fisik dan kewilayahan, Indonesia adalah negara yang merdeka dengan demokrasi sebagai landasannya, tapi itu semua belum berhasil mengangkat Indonesia keluar dari jalur kemiskinan, bebas dari korupsi dan segala praktek suap menyuap.

”…Demokrasi sungguh suatu sistem yang indah. Engkau boleh jadi presiden. Engkau boleh memilih pekerjaan yang engkau sukai. Engkau mempunyai hak sama dengan orang-orang lain-nya. Dan demokrasi itu membuat aku tak perlu menyembah dan menundukkan kepala pada presiden atau menteri atau paduka-paduka lainnya. Sungguh—ini pun suatu kemenangan demokrasi. Dan engkau boleh berbuat sekehendak hatimu bila saja masih berada dalam lingkungan batas hukum.Tapi engkau tak punya uang, engkau akan lumpuh tak bisa bergerak. Di negara demokrasi engkau boleh membeli barang yang engkau sukai. Tapi kalau engkau tak punya uang, engkau hanya boleh menonton barang yang engkau ingini itu. Ini juga semacam kemenangan demokrasi”

Dalam Bukan Pasarmalam ini, Pram menggambarkan situasi psikologis sebuah keluarga yang sedang ditimpa musibah—karena sang bapak yang sedang sakit keras. Dengan sangat literer Pram menuangkan kisah pergulatan batin sang anak dengan semua permasalahannya, walau pada akhirnya cerita tersebut ditutup dengan mangkatnya sang bapak ke alam baka. Dan dalam ending-nya, dengan sangat manis Pram menutup Bukan Pasarmalam dengan beberapa rangkaian kalimat;

”…Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang… seperti dunia dalam pasarmalam… Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana…’

Zamroni Ibrahim

*Tulisan di atas sebelumnya dimuat di weblog palantakayu dengan titel yang sama….



Read Full Post »

Kudeta atau coup d‘etat adalah istilah moderen untuk perebutan ”paksa” kekuasaan. Pengggulingan satu penguasa oleh pihak yang berambisi untuk merebut kekuasaan, dalam konteks kenegaraan adalah hal yang lumrah dan biasa. Banyak hal yang melatarbelakangi sebuah kudeta—ia bisa terjadi akibat ketidakstabilan sebuah negara (atau kerajaan) karena kemiskinan, ketidakamanan, dll. Kudeta juga bisa ada karena memang ada yang ingin berkuasa dan berambisi menjadikan kekuasaan yang akan dia rebut menjadi lebih besar lagi.

Merujuk kepada sejarah Nusantara, telah banyak kudeta yang terjadi di dalam kerajaan-kerajaan yang ada. Pertukaran sebuah pimpinan kerajaan kepada pemimpin baru lain melalui jalur penggulingan adalah hal yang jamak terjadi. Tapi ada satu tipikal kudeta yang tidak biasa yang pernah terjadi di bumi nusantara ini. Kudeta Arok. Itulah yang ingin digambarkan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam novel sejarahnya Arok Dedes.

Arok Dedes ditulis oleh Pram ketika ’terpaksa’ menghuni pulau Buru. Boleh dikatakan Arok Dedes ini salah satu karya besar Pram disamping Tetralogi Buru tentunya. Seperti nasib karya-karya Pram lainnya, Arok Dedes ini pada mulanya tidak leluasa beredar pada zaman Orde Baru, ia baru terbit dan mendapat sambutan hangat khalayak pasca Reformasi 1998.

Apa yang ingin disampaikan oleh Pramoedya melalui Arok Dedes-nya ini? Kudeta licik. Itulah satu poin besar yang bisa ditarik ke permukaan. Dalam novel ini, Pram tidak berbicara masalah peralihan kekuasaan dari masa Soekarno ke Soeharto. Tapi terfokus pada ramuan sejarah mula kudeta Arok yang terjadi pada abad XIII dalam medium literer. Arok Dedes secara tidak langsung ”mengkritik” dinasti Soeharto yang menjiplak habis kudeta ala Arok. Lempar batu sembunyi tangan, maling teriak maling, setidak itu peribahasa yang tepat menggambarkan pikiran Pram terhadap dinasti Soeharto. Bagi Pram, Soeharto mendirikan dinastinya tak ubah bagaimana Arok memperoleh dan mendirikan dinastinya sendiri.

Novel ini merekam taktik licik lagi brilian Arok dalam menggulingkan Tunggul Ametung. Tangan Arok memang berlumuran darah. Dia dengan sukses menggantikan Tunggul Ametung menjadi Akuwu Tumapel. Tapi, pada masa itu orang banyak tidak tahu bahwa Arok-lah yang ada dibalik pembunuhan Tunggul Ametung. Mereka hanya tahu Arok telah menduduki jabatan sebagai Akuwu mereka. Tentu saja hal ini terjadi karena Arok telah menyiapkan orang lain sebagai kambing hitam yang pantas dihukum bunuh karena telah membunuh seorang akuwu.

Arok Dedes-nya Pram ini seolah ingin sejarah peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto dikaji lebih dalam dan transparan, tanpa unsur kepentingan kekuasaan pihak-pihak tertentu. Pram melihat sejarah 1965, masa peralihan tersebut, pada masa orde baru sangat bias dan sarat muatan propaganda. Tidak hanya sampai itu malah, pihak yang berkuasa kemudian (baca : Soeharto) ternyata menjadikan salah satu kelompok ideologis tertentu menjadi sang terdakwa—yang pada akhirnya menjadi sang terhukum.

Sejarah kudeta ’tersembunyi’ Arok di kalangan manusia Indonesia sudah jelas dalangnya, orang yang ada di belakang layar; yaitu Arok itu sendiri. Sedangkan pada masa sejarah modern Indonesia, pada masa peralihan Soekarno ke Soeharto, masih lagi wilayah remang. Siapa dalang di belakang layar, sehingga Soekarno menyerahkan kekuasaan kepada Jenderal Soeharto. Belum ada yang berani dan secara spektakuler mengungkap dalang sebenarnya melalui kajian sejarah. Tapi, kalau kita berkaca kepada Arok Dedes-nya Pram ini, kita tahu jawabannya siapa. Tak lain adalah Soeharto itu sendiri yang ada di belakang layar. Jenderal yang punya senyum misterius itulah yang dalam kesenyapannya berhasil mengggulingkan kekuasaan Soekarno. Dan, dengan meniru Arok pulalah sang Jenderal akhirnya menggebuk kambing hitam yang telah ia persiapkan.

Apakah benar demikian? Tak tahulah kita! Yang pasti sejarah politik peralihan kekuasaan selalu sarat dengan misteri. Tak terkecuali tahun 1965 itu….

Zamroni Rangkayu Itam

*Tulisan di atas sebelumnya dimuat di weblog palantakayu dengan titel yang sama….

info novelnya:

Judul : Arok Dedes, Pengarang : Pramoedya Ananta Toer, Penerbit : Hasta Mitra-Jakarta-cetakan V-2002, Halaman : 418 halaman

Read Full Post »

Bagaimana rasanya memasuki dunia asing yang benar-benar lain dari pengalaman dunia sekitar kita sebelumnya? Itulah yang dinarasikan oleh Byarpet-nya Putu Wijaya. Menjejal kata demi kata yang ternukil dalam novel Byarpet seolah memasuki kisah keterasingan. Seperti apa persisnya keterasingan yang digambarkan oleh Putu Wijaya? Bagi kita yang sering terbelit dengan pertanyaan seputar identitas diri, akan paham keterasingan macam apa yang ada dalam Byarpet.

Kisah bermula dari tokoh utama yang melakukan perjalanan ke Jakarta untuk menemui seorang teman. Namun sayang, di pemberhentian bus pertama, sang tokoh kehilangan dompet berikut catatan alamat temannya di Jakarta. Tidak hanya sebatas itu malah, bahkan KTP dan nama teman yang akan dikunjungi pun ia lupa. Lupakan pertanyaan bagaimana mungkin si tokoh utama bisa lupa nama orang yang akan ia kunjungi. Sebab, rangkaian perjalanan dan pengalaman si tokoh selama di Jakarta jauh lebih penting untuk sebuah renungan pertanyaan.

Tanpa KTP dan hanya dengan sedikit sisa uang di tangan, maka bermula-lah petualang tokoh Byarpet ini di Jakarta. Satu demi satu tingkah polah Jakarta tak luput dari pengamatannya. Sebagai orang yang datang dari kota kecil pedalaman, Jakarta membuatnya syok. Orang-orang Jakarta, lingkungan sosial Jakarta, senyum orang Jakarta, semua terasa sangat lain di matanya. Di selintas mata dan benaknya berkelebat pikiran tentang survival. Ya, ketahanan untuk terus survive di rimba Jakarta telah menuntut penghuninya bersikap dan bertindak layaknya di rimba.

Perjalanan sang tokoh di Jakarta termasuk spektakuler. Bagaimana tidak, tanpa arah dan tujuan dia berani mengarungi Jakarta mencari orang yang dia sendiri tak ingat. Walaupun dengan mati-matian dia telah berusaha mengingat, tetap saja sosok yang akan dia temui itu terasa kian jauh dan terbenam dari ingatannya. Dalam suasana yang tidak menentu itulah sang tokoh tiba-tiba melihat photo kenalan lamanya di koran, Marno. Merasa mendapat sebuah keajaiban, apalagi setelah ia tahu temannya Marno tersebut tinggal di Jakarta, dengan bantuan polisi ia beranjak menuju rumah temannya tersebut. Tapi ternyata apa yang ia dapati? Pergolatan batin. Bagaimana tidak, Marno yang ia kenal di kota tempat tinggalnya, ternyata orang kaya dan penting di Jakarta. Tak pernah tahu ia selama ini kalau Marno adalah seorang konglomerat. Dulu, semasa ia menganggap Marno sebagai orang kebanyakan seperti dirinya, mereka bisa santai dan lepas dalam setiap obrolan apapun tanpa ada jarak. Tanpa rasa kikuk. Tak ada rasa superior dan inferior di antara mereka. Tapi, setelah kini ia tahu Marno orang gede, akankah segala kehangatan yang mereka lalui dulu sebagai dua orang bersahabat akan bisa tetap berlaku? Mula-mula sang tokoh ini meragu, akankah dia menamu ke rumah istana Marno atau tidak, tapi setelah dipikir-pikir dia lebih memilih untuk menunggu saja dulu di depan gerbang rumah Marno. Sebab, kata orang yang tahu kebiasaan Marno, sebentar lagi mobilnya akan datang masuk ke pekarangan rumah.

Setelah menunggu agak lama, benar saja, mobil Marno yang diakrabi betul oleh abang becak yang mengantarnya tampak muncul di tikungan jalan dekat mereka. Apa yang terjadi? Dari luar si tokoh bisa melihat bahwa benar itu Marno yang ada di dalam mobil, sedang bicara dengan koleganya. Sudut pandang mereka bertemu. Sayang, si tokoh yang yakin itu Marno merasa asing dengan pandangan marno yang ia kenal sebelumnya. Sudut mata mereka berlalu seiring mobil masuk pekarangan. Si tokoh mematung di luar seolah keyakinannya kini sedang berbalik, bahwa yang ia lihat bukanlah Marno. Sekali lagi Marno melihat dari sudut matanya ke arah sang tokoh utama cerita. Pandangan mereka kembali bertemu. Kembali, sang tokoh merasa mata yang bertumbuk dengan matanya sangat asing. Lain sekali, seolah tak pernah tahu mata itu sebelumnya. Di sini, sang tokoh merasa ada sesuatu yang aneh dan lain di Jakarta.

Beranjak dari Marno yang tidak jadi ia temui. Sang tokoh kembali bergelut dengan nama teman yang akan ia kunjungi semula. Tetap tidak berhasil dia mengingat. Akhirnya setelah menimbang-nimbang, ia memutuskan untuk kembali saja ke kota halamannya, setelah mengalami banyak perasaan aneh tentang Jakarta dengan seluruh isinya. Keputusan yang ia ambil adalah jalan terbaik. Bagaimana mungkin bisa terus bertahan di Jakarta yang serba lain di matanya sedangkan tujuan sendiri ia tidak jelas.

Cerita lalu mengalir seiring dengan kepulangan sang tokoh ke kota kecilnya. Kembali ia mencoba mengingat nama yang tadinya ingin ia tuju di Jakarta. Bemacam nama ia coba seluncurkan dari mulutnya. Kroso, Kromo, Parno, adalah sederet nama yang ia desiskan sembari berharap ada jembatan pengingat tiba-tiba meloncat dai benaknya. Tapi, masih saja belum berhasil. Hingga pada sebuah momen tak terduga tiba-tiba nama “Kropos” hinggap begitu saja di kepalanya. Ia ingat nama Kropos. Itulah nama yang ingin dia cari di Jakarta. Tapi, semuanya telah terlambat, sebab nama itu lekat di benaknya saat ia sampai di kota tempat ia tinggal. Semua sudah tidak ada gunanya lagi…

Byarpet ditutup saat sang tokoh turun dari bus dan menginjakkan kakinya ke tanah, lantas tiba-tiba seseorang memanggil dengan keras, “Kropos!”. Pada saat itu sang tokoh menoleh—dan merasa dialah yang dipanggil. Pada nyatanya, suara itu memang memanggil namanya, si tokoh Byarpet ini.
****
Inilah kejutan dari Putu Wijaya lewat Byarpet-nya. Nama yang ingin si tokoh cari di Jakarta adalah dia sendiri. Seolah perjalanan sang toko cerita ke Jakarta menjadi semacam pencarian identitas yang tak kunjung diketahui. Dan di Jakarta, memang ia tidak menemui Kropos (atau si tokoh itu sendiri), tapi ia kembali mengenal dirinya setelah sampai di kota tempatnya tinggal…

Byarpet-nya Putu Wijaya ini memang terbuka penafsirannya bagi siapa pun yang membacanya. Boleh jadi setiap kepala yang membaca Byarpet ini memperoleh kesan berbeda setelah halaman terakhir ditutup. Apa pun maknanya Byarpet, bagi saya, karya ini adalah sebuah cermin jernih. Banyak detail cerita yang digambarkan di sini mengarah kepada itu…

Zamroni Rangkayu Itam

*Tulisan di atas sebelumnya dimuat di weblog palantakayu dengan titel yang sama….

sekilas infonya:

Judul : ByarPet, Pengarang : Putu Wijaya, Penerbit : Pustaka Firdaus-Jakarta-cetakan II-2003, Halaman : 152 halaman


Read Full Post »

Older Posts »