Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Sastra Luar’ Category

Dia orang tua yang kesepian. Di sisa-sisa usianya yang kian beranjak renta, ia memilih menyepi ke hutan dengan ditemani setumpak buku roman picisan. Keheningan, suara-suara alami kehidupan yang damai, itulah yang ia cari. Ia memang mendapatkan apa yang ia cari-cari. Tapi itu tak lama. Kedamaiannya terusik oleh harimau yang kalap dan marah. Satu persatu warga tewas di ujung kuku harimau  kumbang yang cerdik itu. Kebodohan para pemburu dan penambang yang telah merusak habitat harimau memaksa si Tua mengambil peranan karena—memang hanya ia yang bisa diharapkan oleh penduduk. Masa muda yang ia habiskan bersama orang Indian serta paham banyak tindak tanduk binatang buas menjadikannya berkualifikasi menangani “kasus” tersebut.

Itulah sepetik gambaran novel Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta karangan seorang penulis Chile, Luis Sepulveda.

Apa yang menarik dari buah pena pengarang Amerika Latin yang satu ini? Kalau kita melihat dari sisi subjek sang pengarang, jelas karya ini menarik. Sepulveda, sekedar diketahui, adalah pengarang buangan rezim Pinochet Chile. Secara personalitas pengarang, karya seorang pengarang pengasingan selalu menghadirkan nuansa istimewa. Tapi—bagi saya—karya ini mempunyai beberapa sisi keistimewaan;

Pertama, isu lingkungan. Penebangan liar dan penggundulan hutan yang menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem alam. Harimau yang terdesak akibat habitat mereka dirusak manusia melahirkan masalah baru bagi penduduk.

Kedua, isu kedudukan masyarakat pribumi asli. Suku Indian adalah pribumi di benua Amerika. Namun kian lama mereka kian terdesak oleh para pendatang. orang Indian yang terbiasa menyatu dengan alam kini menghadapi permasalahan pelik. Perbedaan kultur mereka dengan pendatang melahirkan gap sosial. Pendatang yang tak tahu diri bisanya hanya merusak dan mengeksploitasi hutan. Hal ini terasa menyakitkan bagi mereka, sebab hutan adalah rumah mereka yang nyaman.

Ketiga, pelukisan kata-kata Sepulveda yang menawan. Membaca novel yang satu ini terasa mengasyikkan. Disamping tidak terlalu tebal, hanya 116 halaman (edisi terjemahan Indonesia), karakter yang ditampilkan pengarang terasa hidup. Kita seolah terbawa ke alam petualangan balantara Amazon yang eksotis. Di samping itu, Sepulveda tampaknya sangat pandai menyelipkan humor segar di setiap lembarnya.

Novel Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta juga karya tentang pergulatan batin. Pak Tua—Antonio Jose Bolivar namanya—si tokoh utama novel ini, merupakan representasi yang tepat. Separuh hidupnya yang ia habiskan bersama orang Indian di hutan terasa menyesakkan manakala dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan “peradaban” terus merangsek menembus tebalnya hutan. Semakin lama semakin dalam. Faktor ladang minyaklah, karena tambang emaslah, ataupun hanya sekedar perburuan binatang. Saat itulah pak Tua perlahan tapi pasti menyaksikan hutan kian lama kian memudar.

Dalam novel ini memang pak Tua adalah solusi bagi harimau yang kalap. Pengalamannya dengan hutan dan binatang buas mendapuknya menjadi harapan orang banyak. Dan benar saja, pilihan penduduk memang tepat. Pak Tua lebih cerdik dari harimau yang kalap itu. Di ujung revolvernya harimau tersebut meregang nyawa. Satu masalah besar terselesaikan dengan gemilang. Tapi kegemilangan tersebut melahirkan kegundahan. Ia telah menjadi pembunuh bagi binatang yang mempertahankan hak habitatnya. Secara moral ia malu. Malu pada dirinya sendiri dan binatang malang itu. Di sisa hidupnya, gundah dan malu mati-matian ia coba tutup secara eskapis—yakni menghabiskan waktu dengan membaca roman picisan yang isinya selalu tentang segudang CINTA.

Zamroni Ibrahim

kilas info:

Judul  : Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta (diterjemahkan dari Un viejo que leia historias de amor (Tusquets Editores, Barcelona), Penerjemah :Ronny Agustinus, Penerbit : Marjin Kiri-Tangerang-cetakan I-2005

Read Full Post »

Sastra klasik bukanlah sebuah genre, melainkan kategorisasi terhadap suatu karya terbaik yang pernah ditulis di suatu masa dan tempat. Setidaknya itu kata Anton Kurnia—penerjemah beberapa cerpen Fyodor Dostoevsky yang sebentar lagi akan saya kilas.

Dan pastinya Fyodor Doestoevsky adalah pengarang besar yang telah mendapat pengakuan Dunia. Karya-karyanya telah menjadi “sesuatu” yang klasik. Bagi saya, bisa menikmati karya Doestoevsky adalah anugerah. Mencari buah pena pengarang Russia (yang sudah diterjemah) yang satu ini memang susah. Setidaknya ini pengalaman pribadi saya yang belum banyak punya koneksi sesama penggemar sastra. Tak heranlah jika pada suatu kesempatan yang mujur saya bisa mendapatkan buku kumpulan cerpen sastrawan besar tersebut.

Kumpulan cerpen yang saya maksud adalah Maling yang Jujur. Cerpen-cerpen tersebut diterjemahkan oleh Anton Kurnia, diterbitkan oleh Jembar Publishing. Terus terang saya baru tahu kalau ada penerbit yang bernama Jembar Publishing. Mungkin saja itu penerbit kecil. Mungkin. Bisa saya nilai dari segi kualitas cetakan dan layout bukunya. Sampulnya pun tak menarik perhatian. Padahal yang diterbitkan tersebut adalah karya sang maestro sastra. Tapi benar kata orang bijak; jangan nilai buku dari sampulnya. Ini saya alami betul. Kekurangbagusan buku dari segi tampilan fisik, dibayar lunas oleh kualitas isi dan nilai sastrawi yang ada di dalamnya. Salut buat Anton Kurnia yang telah menerjemahkan karya tersebut dengan amat baik.

Cuma tiga cerpen yang terangkum dalam antologi pendek nan tipis ini;  Maling yang Jujur, Pohon Natal dan Sebuah Pernikahan, dan Petani Marey.  Dalam tulisan ini saya hanya mengkilas satu cerpen saja, yakni Petani Marey. Hanya satu kilasan bukan berarti dua cerpen lagi tidak bagus. Hanya saja Petani Marey yang menjadi favorit saya. Cerpen yang satu ini terus terang begitu berkesan bagi saya. Terlalu mempesona malah. Hal ini lantaran cerpen tersebut menyentuh sisi-sisi emosional setiap orang. Tak terkecuali saya tentunya!

Petani Marey berkisah tentang sepenggal ingatan. Sepotong memori. Bisa juga kita sebut sebagai sekilas kenangan. Setiap manusia tentu punya kenangan, memori, ataupun ingatan. Itulah kenapa cerpen ini berkesan bagi saya.

Cerpen ini bercerita tentang seorang tapol yang mendekam di penjara. Bukan duka nestapa seorang tahanan yang tersaji, tapi sebuah ingatan yang—tiba-tiba berkelebat dan hinggap di memori sang tapol. Kenangan itu adalah sepenggal masa dia di waktu kanak-kanak dulu yang—tak terpikirkan olehnya sebelumnya. Penggalan kenangan itu sebenarnya singkat saja. Kenangan tentang kelembutan seorang petani desa. Kehangatan sang petani yang hanya sekejap yang—tak ia ingat semasa ia berstatus sebagai manusia bebas. Saat ia berada di penjara, setelah lebih 20 tahun kejadian, sang tapol tiba-tiba saja menemukan lorong ingatannya bersama sang petani. Dan, setelah lewat 20 tahun itu, ia seperti merasakan kembali kelembutan dan kehangatan petani yang ramah itu. Ia ingat semuanya dengan detail tanpa satu momen pun terlewat. Di dalam kesunyian kurungan jeruji besi ia merasakan kejernihan. Ia merasakan kebebasan lintaswaktu melalui sebuah lorong ingatannya. Ia sejenak terlempar ke masa lalu. Dan seolah-olah ia merasakan kembali pengalamannya.

Memang Petani Marey ini cerita tentang penggalan ingatan. Kenangan singkat yang begitu berbekas bagi sang tokoh. Saya rasa kita semua pernah merasakan seperti yang dirasakan tokoh cerpen Petani Marey tersebut. Adakalanya di selintas masa, “sang Kenangan” membawa kita kembali menyusuri lorong-lorongnya.

Bukan begitu?

Wassalam

Zamroni Ibrahim

Judul  : Maling yang Jujur (diterjemahkan dari Great Short Stories from Around the World (Golden Books, Kuala Lumpur : 1995), Penerjemah : Anton Kurnia, Penerbit : Jembar Publishing-Bandung-cetakan II-2008

Read Full Post »

Adalah menyenangkan bisa menyelami khazanah bangsa lain. Ada banyak jalan untuk itu, seperti berkunjung langsung—melancong, menonton film dokumenter, tapi mengenal khazanah bangsa lain melalui sastra adalah kenikmatan tersendiri. Kenikmatan yang khusus. Ringan. Tanpa perlu tahu teori macam-macam.

Hal itu pula lah  yang membuat saya tersenyum lebar saat menjumpai sebuah buku bekas di kedai buku loak. Buku tersebut merangkum 10 cerita pendek Hungaria, sebuah negara di Eropa. Kenapa saya begitu senang? Jujur saja, khazanah sastra luar yang ada di negara kita, Indonesia, yang (barangkali) terlalu didominasi oleh sastra negara semacam Inggris, Jerman, dan negara-negara besar Eropa lainnya. Sedangkan Hungaria, nyaris tak terdengar. Hal itu pula lah yang membuat saya tanpa pikir panjang langsung membayar berapa pun harga buku bekas tersebut. Dan, memang saya sedang beruntung, buku tersebut ternyata dijual murah saja. Cuma lima ribu perak. Tak sampai seharga semangkuk bakso. Hahaha!

Buku antologi cerpen Hungaria yang saya katakan tadi bertajuk Sang Mahasiswa dan Sang Wanita. Tema yang termuat dalam antologi ini beragam. Begitu pun nuansa ceritanya. Ada yang satiris, ada juga yang mengandung unsur humor, tak kurang pula yang tragis, kendati ada pula cerita yang romantis. Pokoknya lumayan lengkap. Cukup bagi kita mendapatkan gambaran sastra orang Hungaria.

Antologi yang diterbitkan Pustaka Jaya ini dibuka dengan cerpen Omelette a Woburn, buah pena Deszo Kosztolanyi. Cerpen ini berkisah tentang seorang pemuda yang sedang pulang ke negara asalnya, Hungaria. Sebelum sampai di kota tujuan, Budapest, ia turun di Zurich, sebuah kota di Swiss. Ia turun di Zurich karena tak tahan suasana kereta yang serba tak mengenakkan. Ia berencana mengambil kereta yang yang lebih baik ke kotanya. Ia berada di Zurich ketika malam beranjak larut. Itulah kenapa ia sulit menjumpai kedai makanan sederhana nan murah. Terdorong rasa lapar, pemuda tersebut tanpa sadar masuk ke kedai makanan yang—ternyata tempatnya orang berduit. Sambutan pelayan kedai saja sudah membuatnya kikuk. Bukan apa-apa baginya, uang yang ada di sakunya sangat minim. Hanya cukup sekedar ongkos kereta.

Omelette a Woburn ini bercerita tentang siksaan batin. Kosztolanyi, menurut saya, begitu piawai melukiskan situasi psikologis sang pemuda yang kesasar di kedai borju tersebut. Kosztolanyi menghadirkan sosok pemuda yang begitu tertekan, ketika ia tahu kedai tersebut bukan kelasnya. Apalagi dia sadar, uang yang ada di saku sangat tak memadai. Suasana kedai yang diisi pengunjung berpenampilan wah begitu intimidatif baginya. Terlebih lagi saat dia tahu harga di menu, semuanya berada di atas jumlah keseluruhan uang sakunya. Kecuali menu omelette (telur dadar), menu paling sederhana, tak ada harga tertera di sana. Pilihan pun jatuh pada omellete. Omelette a Woburn, itu nama menu yang ia pilih.

Kendati sang pemuda telah memilih menu yang paling sederhana menurut perkiraannya, tetap saja siksaan batin masih menghantui. Beban pikirannya masih berkisar cukup-tidaknya uang bayar pesanan. Masa menyantap hidangan tak ia lalui dengan nikmat. Pikiran dan batinnya terpusat pada kekhawatiran. Masa menunggu jumlah bon tagihan, baginya bagaikan menunggu ketukan palu hakim menjatuhkan putusan.

Itulah Omelette a Woburn, cerita yang—bagi saya sederhana dari segi ide tapi berjaya melukiskan situasi psikologis sang tokoh.

Selain Omelette a Woburn, antologi ini juga menyajikan cerpen Petualangan Berpakaian Seragam, karya dari Sandor Hungady. Cerpen ini bertutur tentang seorang prajurit rendahan. Cerpen ini berkisah tentang cinta. Cinta yang dimulai tanpa sebuah kejujuran identitas. Prajurit tersebut berkenalan dengan seorang gadis dengan identitas palsu. Maklum, percintaan baginya lebih sering hanya untuk menghabiskan masa muda, tanpa ada komitmen kuat untuk melangkah ke arah yang lebih serius. Tapi, ia tidak bisa mengelak takdir cinta. Percintaannya dengan gadis yang bernama Velma tersebut ternyata melahirkan ketulusan dan keseriusan. Kendati pada akhirnya kisah tersebut hanya tinggal sebatas kenangan bagi sang prajurit. Kisah cinta yang pada akhirnya menebar aroma penyesalan bagi sang prajurit.

Saya rasa cukup itu saja mengenai antologi Sang Mahasiswa dan Sang Wanita ini. Walaupun hanya dua cerpen yang menjadi ulasan singkat saya, bukan berarti cerpen yang lainnya tidak menarik. Harapan saya, semoga dua ulasan cerpen tersebut bisa menjadi pengantar bagi kita semua untuk mengenali khazanah sastra dari negeri nun jauh sana, Hungaria.

Terima kasih!

Zamroni Ibrahim

Judul  : Sang Mahasiswa dan Sang Wanita, Antologi Cerpen Hungaria dari berbagai Sastrawan (dipilih dan diterjemahkan oleh Fuad Hassan dari 44 Hungarian Short Stories),  Penerbit : Pustaka Jaya-Jakarta-cetakan IV-2003, Halaman : 150 halaman

Read Full Post »

Menyinggung sedikit spirit Sumpah Pemuda yang baru saja berlalu momentumnya beberapa bulan lewat, kita dihadapkan pada nilai-nila kepahlawanan pendahulu kita. Bagaimana gigihnya mereka berjuang merebut kemerdekaan, baik dengan konfrontasi fisik ataupun secara diplomasi. Melalui Sumpah Pemuda, hawa kepahlawanan mereka sangat kentara dengan pengikraran satu bangsa, satu tanah air, dan dengan satu bahasa persatuan. Lantas bagaimana generasi muda seperti kita saat ini menyikapi kepahlawan? Rentang waktu masa bergejolak dengan kolonial memang telah berlalu, dan lantas apakah generasi muda tidak bisa merasakan hawa kepahlawan, baik pada dirinya sendiri atau terhadap orang di sekitarnya. Semakin menjauhnya zaman meninggalkan saat-saat heroik itulah yang perlu kita semua sadari, khususnya generasi muda. Barangkali kita tidak menemukan sosok muda Muh. Yamin, Hatta, atau pun Soekarno muda lagi yang sama persis nilai perjuangannya dengan para beliau-beliau itu, namun harus kita sesuaikan dengan konteks kita sekarang.

Menjadi pahlawan tak harus menjadi orang besar, punya pengaruh luas bagi orang sekitar, tapi paling tidak bisa menjadi pahlawan bagi diri sendiri sudahlah cukup besar artinya. Nah, berkenaan dengan itu ada baiknya kita semua mengambil secuil hikmah dari novel Caldas, karya hebat dari sastrawan Kolombia, Gabriel Garcia Marquez. Buku terjemahan LkiS ini walau pun tipis sederhana, nilai sastrawi dan pelajaran moralnya teramatlah baik, sangat pantas dibaca habis dikunyah tuntas.

Caldas menceritakan apa itu heroisme. Ya, apa arti kepahlawanan. Melalui watak tokoh Alejandro Velasco, G.G. Marquez tampaknya ingin menyiratkan makna dari sebuah kepahlawanan. Siapa dan apa peran watak utama Velasco? Apakah dia seorang kapiten perang yang dengan gagah berani menumpas kartel mafia narkoba Kolombia, atau Velasco adalah seorang tokoh kenamaan yang mempunyai pengaruh besar bagi rakyat Kolombia? Sama sekali bukan itu yang ada dalam Caldas ini. Disini hanya digambarkan seorang perwira rendah Angkatan Laut Kolombia yang berusaha mati-matian menyelamatkan nyawanya akibat kapal perang mereka tenggelam diamuk badai.

Ha! Sosok pahlawan seperti itulah yang digambarkan secara detil oleh G.G. Marquez. Pahlawan memang tidak harus selalu menyabung nyawa di medan perang, bermandikan darah, bertongkatkan senapan, atau beralaskan baju baju loreng ala tentara. Melalui Caldas, orang seperti Alejandro Velasco, pun dapat disebut pahlawan. Kapal perang yang tenggelam justru bukan karena tembakan meriam musuh, tapi karena hantaman badai, membuat Velasco yang terombang-ambing sendirian di dalam sekoci kecil berusaha agar tak senasib dengan tujuh rekan dekatnya.

Dalam Caldas ini, babak-babak dramatis memang terdapat pada terombang-ambingnya watak utama di lautan lepas selama berhari hari. Secara keseluruhan, secara lancar dan memikat G.G. Marquez mendeskripsikan watak utama novelnya. Bagaimana Velasco yang tak putus asa kendati sering diteror halusinasi, melawan dan mengakali hiu-hiu yang ganas, bagaimana daya survival Velasco di bawah alam yang tak bersahabat tanpa makanan dan minuman, otomatis sang tokoh selalu berada di bawah tekanan rasa haus dan lapar di samping kelelahan yang mendera juga tentunya. Caldas, pada babak tersebut, tidaklah selalu mengeksplotasi gambaran cerita kegetiran yang menyedihkan. Ada masanya pula kegetiran itu dibalut humor yang menentramkan, seolah menjadi semacam self escapism, bagi si tokoh utamanya, Velasco.

Caldas adalah cerita tentang survival. Cerita seorang perwira rendah Angkatan Laut yang bertarung hidup mati-matian melawan keganasan laut. Keberhasilan Velasco lolos dari terjangan maut laut itulah letak nilai heroik itu sendiri. Setuju atau tidak, melalui Caldas, kita menemukan perspektif lain tentang kepahlawanan. Yang belum baca, silahkan saja baca sendiri!*

 Zamroni Rangkayu Itam

*Tulisan di atas sebelumnya dimuat di weblog palantakayu dengan titel yang sama….

info:

Judul  : Caldas  (diterjemahkan dari The Story of A Shipwrecked Sailor), Pengarang : Gabriel Garcia Marquez, Penerjemah : Rizadini, Penerbit : LKiS-Yogyakarta-cetakan I-2002, Halaman : 124 halaman

Catatan : * Novel Caldas nggak mahal kok, saya sendiri membelinya di sebuah bazar buku di kampus UIN Jakarta, seharga lima ribu perak doank! Ya, kalau dikonversikan ke dolar US, hmm, seharga setengah dolar! Hehe…

Read Full Post »

Menurut hemat saya, karya sastra adalah medium yang tepat untuk memahami sebuah komunitas, masyarakat, atau lebih luas lagi sebuah negara. Nah, saat kita menolehkan mata ke negeri para Firaun yang terkenal dengan sungai Nil, Spinx, atau pusat intelektual muslimnya, maka sebuah karya sastra kontemporer Apartemen Yacobian, mungkin bisa menyajikan sedikit realitas kehidupan di negara yang bernama Mesir itu.
Adalah Alaa Al Aswani yang mengarang Apartemen Yacobian ini. Di negara tempat asalnya, novel ini memang agak sedikit kontroversial karena secara vulgar “mengeksploitasi” unsur-unsur sensualitas—yang dimata masyarakat Arab agak tabu jika dibicarakan, apatah lagi tertulis abadi dalam nukilan buku.
Buku ini penuh dengan tokoh dan watak yang beragam. Ada yang mewakili seorang anak muda mesir miskin yang terpuruk dengan kemiskinannya—dan, pada akhirnya ia terjerumus ke dalam organisasi gerakan islam radikal. Ada pula watak yang mewakili seorang gadis remaja yang juga terjerat masalah ekonomi—sehingga ia harus menebalkan muka membuang malu untuk menjadi pelampiasan seksual majikan tempat ia bekerja. Ada pula sosok playboy tua yang pandangan hidupnya sangat sekuler, penyuka seks bebas, pemuja minuman keras, dan segala tren kehidupan Barat. Disamping itu ada pula ada tokoh seorang redaktur koran terekemuka yang homo—memanfaatkan seorang (praja muda) tentara miskin sebagai pelampiasan nafsu “menyimpang”nya. Dan, yang paling menyengat adalah sosok ulama sekaligus politisi yang sesuka mengutip ayat Quran sana-sini demi kepentingan pribadi dan golongan.
Itu baru pasal watak dan penokohan, dari segi penceritaan, Apartemen Yacobian ini, patut pula diacungi jempol, cocok mewakili karya sastra Mesir kekinian. Kekayaan watak yang diceritakan dalam novel ini adalah satu kelebihannya, mengingat novel ini sangat tipis (356 halaman) dibanding segudang watak utama yang diceritakan. Kekayaan tokoh di dalamnya otomatis melahirkan wajah cerita yang kompleks, rumit, namun kaya deskripsi.
Novel yang terbit di Indonesia oleh penerbit Serambi ini patut untuk dibaca dan dibedah. Mengingat Mesir, sedikit banyaknya mempunyai persamaan dengan negara kita, Indonesia. Walaupun secara georafis terpisah jauh, Indonesia bagian dari kawasan Asia, dan Mesir adalah negara di benua Afrika. Tapi, baik Mesir ataupun Indonesia adalah negara yang berpopulasi muslim terbesar. Begitu juga Mesir dan Indonesia, sama-sama berlandaskan demokrasi, kendati tak sama persis problema dan penerapannya. Satu lagi, Mesir adalah salah satu kiblat cendikiawan muslim dunia—yang dalam hal ini Indonesia masihlah baru mulai mencoba mengambil peranan. Berkaca dari karya ini tentulah kita akan bisa memilah-milah kesan dan hikmah apa yang dapat kita pelajari. Terlepas dari apapun maksud sang pengarang menulis novel ini, terlepas dari sedikit kontroversinya, sebuah novel sastra bisa menjadi bahan pembanding atas kondisi sosial Indonesia—yang barangkali tak jauh berbeda sebagaimana yang diceritakan dalam novel bersangkutan.
Kemiskinan, radikalisme, penyimpangan seksual, dan seks bebas, adalah tema-tema mayor novel ini. Semangat moralnya mungkin saja membumi, kendati konteks sosialnya berbeda bagi tiap negara pembacanya. Itu tidaklah menjadi penghalang yang berarti. Pembaca yang baik, tentu bisa mengadaptasi nilai-nilai sebuah sastra, dari manapun sastra itu berasal. Jangankan sastra dari Mesir, karya sastra yang ditulis dan berlatarbelakang orang eskimo pun, kalau ada pantas juga ditejemahkan. Asalkan karya itu bagus.
Buku ini sendiri mendapat predikat International Best Seller, dicetak dan diterbitkan di berbagai negara dengan komersialitas yang bagus tentunya. Tentu saja, hal ini menjadi petimbangan juga untuk kita (yang belum) membaca dan memilikinya. Sebuah karya yang bagus tentu sangat sayang jika dilewatkan begitu saja. Khusus untuk Serambi—penerbit yang banyak menerjemahkan banyak buku best seller seluruh dunia—situasi seperti ini sangatlah mengkondusifkan kesehatan perbukuan nasional. Semakin banyak buku yang diterjemahkan, semakin baik. Semoga ke depannya, Serambi lebih banyak lagi menterjemahkan buku-buku yang bagus. Tidak hanya buku sastra, semoga buku-buku sains dan tema-tema yang lain juga lebih banyak lagi beredar di toko-toko buku.
Just that’s…

Zamroni Rangkayu Itam

*Tulisan di atas sebelumnya dimuat di weblog palantakayu dengan titel yang sama….

info:

Judul  : Apartemen Yacobian (diterjemahkan dari ‘Imarat Ya’qubyan), Pengarang : Alaa Al-Aswani, Penerjemah : Anis Masduki, Penerbit : Serambi-Jakarta-cetakan I-2008, Halaman : 359 halaman

Read Full Post »

Seberapa siap seseorang bisa menghadapi perobahan nasib. Dan seberapa besar pula reaksi orang yang satu lingkungan dengan dia? Itulah yang ingin disampaikan Encik Abdullah Hussain dalam novelnya, Intan.Sastrawan besar negara jiranIndonesia itu, Malaysia, secara cerdas menyindir sifat buruk kita, manusia, melalui rangkaian kata yang kocak dan penuh humor sarkastik. Novel ini bukanlah karya yang tebal, sangat tipis malahan, namun padat makna. Di dalamnya diceritakan bagaimana seseorang fakir yang terbenam dalam kefakirannya, dipandang sebelah mata oleh para tetangga, tidak dianggap oleh warga masyarakat sepantasnya, dan yang paling pilu ia terlupakan oleh tangan-tangan kerabatnya sendiri yang seharusnya membangkitkan dia dari jurang kepapaan. Tapi siapa yang nyana, ketika suatu hari kehidupan dia berubah 180 derajat setelah menemukan intan batu mulia—yang entah dari mana asalnya, masuk ke dalam bubu ikannya.

Roda nasib yang berputar secara drastis itulah yang membuat seluruh kampungnya menjadi syok, kaget, dan terkejut, serta tak tahu harus apa yang mereka rasakan mengenai tetangga mereka yang mendadak kaya tersebut. Jamal, demikian nama jutawan baru si penemu intan itu, tak kurang pula syoknya. Bukan karena apa-apa, hanya saja dia yang telah terbiasa miskin tersebut seperti seorang yang mati pucuk ketika anugrah itu datang. Memang secara drastis, kekayaan yang datang tiba-tiba itu tak banyak mengubah perilakunya, ia masih tetap bisa menguasai diri dan tak jatuh dalam sindrom orang kaya baru yang berlebihan. Namun justru kekayaan Jamal itulah yang banyak mengubah orang sekelilingnya. Pak Cin, tetangganya yang super pelit itu mendadak berwajah manis dan berlembut lidah kepada Jamal, kendati semasa Jamal miskin hanya dua kali Pak Cin meminjamkan beras dari 12 kali Jamal mengajukan pinjaman. Begitu juga si dukun kampung, saat Si Jamal miskin, bukan main lagak sibuknya dukun itu, sehingga anak Jamal yang sakit pun tak mau dia menolong. Tapi lihatlah ketika nasib mengubah Jamal, sehat pun anak Jamal, dengan segala alasan manis dia berlagak peduli. Sikap-sikap serupa tak jauh pula dari kerabat famili Jamal. Kalau dulu masih miskin Pak Ngah dan Bu Ngah Jamal bukan main pelitnya dan tiada kentara cueknya, namun kini 180 derajat pula sifat itu berubah…

Itu baru dalam skop kecil, lingkungan sekitar Jamal. Skop yang lebih luas, punya pengaruh yang luar biasa. Masyarakat dari berbagai penjuru berduyun-duyun memasang bubu di sungai. Bukan ikan yang mereka cari, tapi intan. Berharap keberuntungan memihak mereka. Akibatnya, roda dan denyut nadi perekonomian masyarakat menjadi berantakan. Mereka yang dulu bertani, berdagang, kini tidak lagi, berganti dengan memasang bubu dengan sejuta pengharapanan.

Walaupun babak ending dari novel ini berakhir ironis, dimana Jamal tidaklah berjaya dengan kekayaannya, karena intan yang dia temukan ternyata masih mentah, tapi itu sama sekali tidak penting. Babak penting dalam novel ini yang sangat berharga bagi saya adalah pada tataran reaksi orang sekitarnya. Kita bisa melihat watak “asli” manusia pada babak tersebut. Ada watak yang merasa iri, dengki, dan tak kurang juga watak para penjilat yang “rembang mata” atau mencari muka pada si kaya baru. Kita juga bisa melihat bagaimana seseorang bisa mengubur segudang perbuatan dan sikap buruknya, tapi menonjolkan secuil perbuatan baiknya. Pak Cin itu tadi contohnya, bagaimana ia kembali mengingatkan perbuatan baiknya kepada Jamal, bahwa ia pernah meminjamkannya beras sebanyak dua kali, tapi ia lupa bahwa ia pernah dengan tiada perasaan menolak meminjamkan sebanyak 10 kali, kendati saat itu ia memiliki beras berlebih. Begitu juga Pak Ngah-nya, saat Jamal berubah jadi kaya, berulangkali ia bangga mengaku berkerabat dan berfamili dengan Jamal, padahal saat Jamal miskin, haram sesen pun ia bantu kerabatnya tersebut. Inilah sebuah ironi yang menyindir—penyakit yang diidap para tetangga dan kerabat Jamal tersebut bisa jadi juga terjadi pada diri kita sendiri…

Ini memang karya sastrawan negara tetangga kita, tapi nilai moralnya saya rasa berlaku dimana saja. Maka tidaklah heran jika novel ini pernah diadaptasi ke layar lebar di Indonesia dengan dibintangi Benyamin S. dan Rima Melati dengan judulIntan Berduri. Lepas dari itu, di seluruh penjuru bumi barangkali ada banyak Jamal-Jamal lain, Pak Cin-Pak Cin yang lain, atau Pak Ngah-Pak Ngah yang lain, maka semangat moral yang terkandung dalam novel ini sangatlah diperlukan sebagai tamparan halus bagi mereka yang bertebal muka dan yang suka berlembut lidah…

Itu saja, saya rasa!

Zamroni Rangkayu Itam

*Tulisan di atas sebelumnya dimuat di weblog palantakayu dengan titel yang sama….

info:

Judul : Intan, Pengarang : Abdullah Hussein, Penerbit : Pustaka Jaya-Jakarta-cetakan I-1982, Halaman : 133 halaman

 

Read Full Post »

Namanya Svejk (baca : Swheik). Lugunya tidak ketulungan dan jujurnya pun minta ampun, tiada bandingan. Orangnya sederhana, gagah berani serta pendiam, kendati saat bicara ia selalu berkata apa adanya. Sosoknya lucu, baik secara fisikal alaminya, ataupun ketika saat orang berbicara dengannya, tak ada yang dibuat-buat, tak ada akting, semuanya alami apa adanya. Itulah Svejk si prajurit sederhana yang membuat orang banyak belajar dari kesederhanaannya.
Svejk yang dimaksud disini adalah sosok yang termaktub dalam Prajurit Schweik buah pena dari Jaroslav Hasek. Sebuah karya yang penuh humor, satiris, dan mengejek segala bentuk gincu-gincu dunia yang penuh kepura-puraan. Dalam buku ini watak Svejk hadir sebagai seorang yang terlewat lugu tapi jujur.
Svejk adalah seorang prajurit yang mengalami begitu banyak rangkaian kejadian yang ajaib. Svejk boleh dikatakan selalu dirundung kesialan, namun disisi lain kesialan dia justru bisa dipandang sebagai keberuntungannya. Hmm, aneh bukan? Tapi itulah kisah tentang Svejk. Seorang anak manusia yang dikatakan sebagian orang sebagai lemah akal, tak berarti kehidupannya tak mempunyai sisi-sisi warna yang mencengangkan. Ajaib memang si Svejk ini. Seorang prajurit yang lahir akibat tekanan keadaan yang memaksanya demikian.
Kisah Svejk ini berlatarbelakang Perang Dunia I. Anda jangan harap menemukan pertempuran berdarah-darah di dalam buku ini. Jangan harap pula Anda bisa menemukan secuil kegagahan serdadu Jerman dan Rusia di dalamnya. Buku ini secara utuh terpusatkan pada satu watak tetap; yaitu Svejk itu sendiri. Sedangkan watak lain, tak lebih hanya sebatas pengisi rangkaian cerita, pelengkap rangkaian kisah si prajurit nan ajaib ini.
Dalam setiap sejarah perang, setiap zaman pasti selalu menyisipkan nama-nama besar yang sangat berpengaruh. Alexander The Great, Napoleon, ataupun Salahuddin Al-Ayyubi, mereka semua adalah tokoh besar perang pada zamannya masing-masing. Namun, tidak dalam kisah Prajurit Scweik ini. Pangkat Svejk bukan kopral, sersan, letnan, apalagi mencapai kolonel dan jenderal, ia hanya seorang prajurit. Dalam sejarah perang, manalah ada seorang prajurit bisa namanya tertulis dengan jayanya. Buku ini menghadirkan nuansa lain dari perang, bukan dari sudut tokoh nama besar pelakunya, tapi sudut lain, seorang prajurit rendahan.
Ya, mungkin ada yang bilang watak seperti Svejk bukanlah orang yang pantas untuk dikisahkan dalam sebuah buku. Terlepas dari itu, mau tak mau harus kita akui, sudut lain dari pelaku perang harus diperbanyak khazanah literaturnya, apakah itu karya fiksi ataupun non fiksi. Dan, Prajurit Scweik yang merupakan sebuah karya fiksi dengan pengayaan latar sejarah yang akurat sudahlah cukup bisa memotret harapan seperti itu. Svejk yang sederhana, tanpa ada gemerlap pangkat dan pakaian, tanpa terbilang di dalam surat-surat kabar pada zamannya, ia tetaplah prajurit yang turut punya andil dengan perannya sendiri. Sekecil apa pun peran itu, dan pasti ada pengaruhnya.
Jika dihadapkan pada dua pilihan; suka yang mana antara orang lugu dan bodoh tapi jujur dengan orang pintar dan cemerlang tapi pembohong, saya rasa kita semua memilih yang pertama. Kalau itu pilihan kita, si Svejk ini tentu bisa mendapat tempat di hati kita semua…
Membaca Prajurit Scweik ini kita dijamin akan tertawa karena keluguan dan kepolosan plus kejujuran Svejk yang tiada basa-basinya itu. Bahasanya satir menyindir, kocak, tapi tidak terjebak dalam lawakan murahan, ia tetap dibungkus secara sastrawi.
Two thumb up untuk Jaroslav Hasek, walau hanya inilah karya fiksi beliau satu-satunya, namun karya ini telah menjadi ikon negaranya, Republik Ceko. Ketika orang bicara tentang Ceko, orang harus tahu Prajurit Scweik. Terlebih dari itu semua, sebagai orang Indonesia, kita sangat beruntung karya masterpiece ini telah diterjemahkan dengan amat baik oleh pihak Balai Pustaka dengan terbitan pertama kalinya pada tahun 1978, sehingga kita bisa mengenal Si Svejk nan lugu ini.
Secara keseluruhan mungkin seperti itulah watak dan kisah Svejk yang bisa saya gambarkan secara global. Terlalu banyak lika-liku rangkaian ajaib perjalanan hidup si Svejk ini jika saya rincikan secara mendetail. Untuk Anda (yang belum) membaca dan memiliki bukunya, silahkan cari di toko-toko buku terdekat. Sudah ada cetakan terbaru kok! Anda tak akan rugi jika membaca dan membeli buku kisah ajaib ini….
Selamat mencari! Selamat membaca! Selamat membeli saja bagi yang belum!
Itu saja aku rasa! Cukuplah sudah kilasan singkatku ini…

Zamroni Rangkayu Itam

*Tulisan di atas sebelumnya dimuat di weblog palantakayu dengan titel yang sama….

kilas info:

Judul : Prajurit Shcweik (diterjemahkan dari The Good Soldier Svedj), Pengarang : Jaroslav Hasek, Penerjemah    : Djokolelono, Penerbit : Pustaka Jaya-Jakarta-cetakan II-1992, Halaman : 292 halaman

Read Full Post »