Feeds:
Posts
Comments

Ujian Nasib

Seberapa siap seseorang bisa menghadapi perobahan nasib. Dan seberapa besar pula reaksi orang yang satu lingkungan dengan dia? Itulah yang ingin disampaikan Encik Abdullah Hussain dalam novelnya, Intan.Sastrawan besar negara jiranIndonesia itu, Malaysia, secara cerdas menyindir sifat buruk kita, manusia, melalui rangkaian kata yang kocak dan penuh humor sarkastik. Novel ini bukanlah karya yang tebal, sangat tipis malahan, namun padat makna. Di dalamnya diceritakan bagaimana seseorang fakir yang terbenam dalam kefakirannya, dipandang sebelah mata oleh para tetangga, tidak dianggap oleh warga masyarakat sepantasnya, dan yang paling pilu ia terlupakan oleh tangan-tangan kerabatnya sendiri yang seharusnya membangkitkan dia dari jurang kepapaan. Tapi siapa yang nyana, ketika suatu hari kehidupan dia berubah 180 derajat setelah menemukan intan batu mulia—yang entah dari mana asalnya, masuk ke dalam bubu ikannya.

Roda nasib yang berputar secara drastis itulah yang membuat seluruh kampungnya menjadi syok, kaget, dan terkejut, serta tak tahu harus apa yang mereka rasakan mengenai tetangga mereka yang mendadak kaya tersebut. Jamal, demikian nama jutawan baru si penemu intan itu, tak kurang pula syoknya. Bukan karena apa-apa, hanya saja dia yang telah terbiasa miskin tersebut seperti seorang yang mati pucuk ketika anugrah itu datang. Memang secara drastis, kekayaan yang datang tiba-tiba itu tak banyak mengubah perilakunya, ia masih tetap bisa menguasai diri dan tak jatuh dalam sindrom orang kaya baru yang berlebihan. Namun justru kekayaan Jamal itulah yang banyak mengubah orang sekelilingnya. Pak Cin, tetangganya yang super pelit itu mendadak berwajah manis dan berlembut lidah kepada Jamal, kendati semasa Jamal miskin hanya dua kali Pak Cin meminjamkan beras dari 12 kali Jamal mengajukan pinjaman. Begitu juga si dukun kampung, saat Si Jamal miskin, bukan main lagak sibuknya dukun itu, sehingga anak Jamal yang sakit pun tak mau dia menolong. Tapi lihatlah ketika nasib mengubah Jamal, sehat pun anak Jamal, dengan segala alasan manis dia berlagak peduli. Sikap-sikap serupa tak jauh pula dari kerabat famili Jamal. Kalau dulu masih miskin Pak Ngah dan Bu Ngah Jamal bukan main pelitnya dan tiada kentara cueknya, namun kini 180 derajat pula sifat itu berubah…

Itu baru dalam skop kecil, lingkungan sekitar Jamal. Skop yang lebih luas, punya pengaruh yang luar biasa. Masyarakat dari berbagai penjuru berduyun-duyun memasang bubu di sungai. Bukan ikan yang mereka cari, tapi intan. Berharap keberuntungan memihak mereka. Akibatnya, roda dan denyut nadi perekonomian masyarakat menjadi berantakan. Mereka yang dulu bertani, berdagang, kini tidak lagi, berganti dengan memasang bubu dengan sejuta pengharapanan.

Walaupun babak ending dari novel ini berakhir ironis, dimana Jamal tidaklah berjaya dengan kekayaannya, karena intan yang dia temukan ternyata masih mentah, tapi itu sama sekali tidak penting. Babak penting dalam novel ini yang sangat berharga bagi saya adalah pada tataran reaksi orang sekitarnya. Kita bisa melihat watak “asli” manusia pada babak tersebut. Ada watak yang merasa iri, dengki, dan tak kurang juga watak para penjilat yang “rembang mata” atau mencari muka pada si kaya baru. Kita juga bisa melihat bagaimana seseorang bisa mengubur segudang perbuatan dan sikap buruknya, tapi menonjolkan secuil perbuatan baiknya. Pak Cin itu tadi contohnya, bagaimana ia kembali mengingatkan perbuatan baiknya kepada Jamal, bahwa ia pernah meminjamkannya beras sebanyak dua kali, tapi ia lupa bahwa ia pernah dengan tiada perasaan menolak meminjamkan sebanyak 10 kali, kendati saat itu ia memiliki beras berlebih. Begitu juga Pak Ngah-nya, saat Jamal berubah jadi kaya, berulangkali ia bangga mengaku berkerabat dan berfamili dengan Jamal, padahal saat Jamal miskin, haram sesen pun ia bantu kerabatnya tersebut. Inilah sebuah ironi yang menyindir—penyakit yang diidap para tetangga dan kerabat Jamal tersebut bisa jadi juga terjadi pada diri kita sendiri…

Ini memang karya sastrawan negara tetangga kita, tapi nilai moralnya saya rasa berlaku dimana saja. Maka tidaklah heran jika novel ini pernah diadaptasi ke layar lebar di Indonesia dengan dibintangi Benyamin S. dan Rima Melati dengan judulIntan Berduri. Lepas dari itu, di seluruh penjuru bumi barangkali ada banyak Jamal-Jamal lain, Pak Cin-Pak Cin yang lain, atau Pak Ngah-Pak Ngah yang lain, maka semangat moral yang terkandung dalam novel ini sangatlah diperlukan sebagai tamparan halus bagi mereka yang bertebal muka dan yang suka berlembut lidah…

Itu saja, saya rasa!

Zamroni Rangkayu Itam

*Tulisan di atas sebelumnya dimuat di weblog palantakayu dengan titel yang sama….

info:

Judul : Intan, Pengarang : Abdullah Hussein, Penerbit : Pustaka Jaya-Jakarta-cetakan I-1982, Halaman : 133 halaman

 

Saya pertama kali mengenal Pramoedya Ananta Toer bukan karena karya besar hebat beliau, tapi karena kemangkatan beliau ke alam baka pada tahun 2006. Ya, saya belumlah lama mengenali beliau lewat karya-karyanya.

Kalau tidak salah, suatu hari di tanggal 30 April 2006, di televisi disiarkan kabar meninggalnya pengarang hebat dari tanah nusantara, Pramoedya Ananta Toer. Muka saya berkerut dan berpikir. Pramoedya, siapa pula itu? Tak pernah terdengar pun namanya walau agak sekerat kasar, apalagi membaca karya-karyanya. Salah seorang teman, kebetulan anak negara jiran, Malaysia, berujar;

Innalillahi wainna ilaihi roojiun! Diorang pengarang best ni, terkenal di negara kami, beliau ni pernah dicalonkan jadi peraih nobel berkali-kali…”

Tak pelak saya terkejut mendengar perkataan tersebut. Saya yang baru satu tahun kuliah di Jakarta itu spontan tak mengerti. Bagaimana bisa jika Pramoedya yang hebat dan pernah dicalonkan meraih nobel itu tidak saya kenali. Saat itu saya seolah tersadar betapa sedikitnya perhatian saya terhadap sastra Indonesia. Walaupun demikian ada sedikit rasa yang mengganjal. Jujur saya katakan, saya datang dari pelosok yang paling pelosok dari tanah Jambi Sumatera sana, saya merasa sudah cukup banyak membaca sastra nasional. Ini karena rumah saya di kampung pernah menjadi Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Di TBM itu saya sudah berkenalan dengan karya Marah Rusli, Mansyur Samin, Djokolelono, Merari Siregar, HAMKA, St. Takdir Alisyahbana, Idrus, Mochtar Lubis, Toha Muchtar, Zunaidah Subro, Armin Pane, dll, tapi tidak ada selembar kertas pun karya Pramoedya saya temui. Bukan itu saja, di sekolah dasar, menengah pertama dan menengah atas, tak ada satu kata pun buku teks Bahasa Indonesia mencantumkan karya yang bersangkutan.

Rasa heran seperti inilah yang membawa saya bertanya-tanya kepada para senior di kampus perihal Pramoedya ini. Dari sana baru saya tahu, rupa-rupanya Pram ini pernah jadi Tapol di zaman Orde Baru. Bukan hanya Orde Baru malah Pram ini pernah bermasalah, zaman kolonial dan Orde Lama pun beliau juga pernah ditahan mendekam di balik jeruji besi. Dalam hati saya berujar, luar biasa Orde Baru ini, betapa suksesnya mereka menenggelamkan nama besar seseorang sastrawan, terutama bagi orang pelosok seperti saya ini. Di tanah Jawa, khususnya di kota-kota besar, mungkin rezim tersebut tak dapat membungkam seratus persen, tapi bagaimana dengan daerah pelosok lain di nusantara ini? Di derah saya, tampaknya orde baru sukses besar meneggelamkan karya-karya Pramoedya.

Saya memang mengenal Pram setelah beliau tiada dengan dahi berkerut oleh sebab rasa heran ketidaktahuan. Saya mengenal sedikit penjelasan karya Pram justru dari teman yang berasal negara seberang, Malaysia. Betapa ironisya kejadian ini bagi saya. Kini, setelah membaca dan menelah beberapa karya beliau, batin saya memberontak, kenapa karya yang begini besar tidak pernah sampai untuk kami yang berada di pelosok negeri, walaupun akhirnya saya maklum keadaanlah yang membuat karya-karya besar Pram tersebut terlambat jatuh ke tangan saya.

Melalui teman saya pada waktu itu, baru saya tahu kalau karya Pram pernah dijadikan bacaan wajib untuk subjek Bahasa Melayu Tinggi di Malaysia. Coba seandainya ada secuil karya Pram yang nongol dalam teks buku Bahasa Indonesia pada waktu sekolah menengah—bukan justru diberangus, saya rasa tak setelat ini saya mengenal Pram.

Pram memang sudah mangkat berkalang tanah di Karet Bivak, tapi tidak dengan karya-karyanya, selamanya akan abadi. Sebagai anak muda, tak apalah terlambat sedikit mengenal karya-karya besar beliau daripada tidak sama sekali. Saya tidak mau ambil peduli apapun latar belakang politik Pram sehingga dia terpenjarakan oleh banyak penguasa. Bagi saya, karya tetaplah karya, harus dibaca dan dikaji, serta ditelaah dengan hati. Dengan demikian eksistensi Tetralogi Buru, Keluarga Gerilya, Perburuan, Gadis Pantai, Arok Dedes, Bukan Pasarmalam, dll, akan terasa nyata terus hidup di tengah masyarakat kita…

Untuk itu semua, bagi kita, khususnya generasi muda, tak ada kata terlambat mengenal karya Pram!

Zamroni Rangkayu Itam

*Tulisan di atas sebelumnya dimuat di weblog palantakayu dengan titel yang sama….



Si Lugu Svejk

Namanya Svejk (baca : Swheik). Lugunya tidak ketulungan dan jujurnya pun minta ampun, tiada bandingan. Orangnya sederhana, gagah berani serta pendiam, kendati saat bicara ia selalu berkata apa adanya. Sosoknya lucu, baik secara fisikal alaminya, ataupun ketika saat orang berbicara dengannya, tak ada yang dibuat-buat, tak ada akting, semuanya alami apa adanya. Itulah Svejk si prajurit sederhana yang membuat orang banyak belajar dari kesederhanaannya.
Svejk yang dimaksud disini adalah sosok yang termaktub dalam Prajurit Schweik buah pena dari Jaroslav Hasek. Sebuah karya yang penuh humor, satiris, dan mengejek segala bentuk gincu-gincu dunia yang penuh kepura-puraan. Dalam buku ini watak Svejk hadir sebagai seorang yang terlewat lugu tapi jujur.
Svejk adalah seorang prajurit yang mengalami begitu banyak rangkaian kejadian yang ajaib. Svejk boleh dikatakan selalu dirundung kesialan, namun disisi lain kesialan dia justru bisa dipandang sebagai keberuntungannya. Hmm, aneh bukan? Tapi itulah kisah tentang Svejk. Seorang anak manusia yang dikatakan sebagian orang sebagai lemah akal, tak berarti kehidupannya tak mempunyai sisi-sisi warna yang mencengangkan. Ajaib memang si Svejk ini. Seorang prajurit yang lahir akibat tekanan keadaan yang memaksanya demikian.
Kisah Svejk ini berlatarbelakang Perang Dunia I. Anda jangan harap menemukan pertempuran berdarah-darah di dalam buku ini. Jangan harap pula Anda bisa menemukan secuil kegagahan serdadu Jerman dan Rusia di dalamnya. Buku ini secara utuh terpusatkan pada satu watak tetap; yaitu Svejk itu sendiri. Sedangkan watak lain, tak lebih hanya sebatas pengisi rangkaian cerita, pelengkap rangkaian kisah si prajurit nan ajaib ini.
Dalam setiap sejarah perang, setiap zaman pasti selalu menyisipkan nama-nama besar yang sangat berpengaruh. Alexander The Great, Napoleon, ataupun Salahuddin Al-Ayyubi, mereka semua adalah tokoh besar perang pada zamannya masing-masing. Namun, tidak dalam kisah Prajurit Scweik ini. Pangkat Svejk bukan kopral, sersan, letnan, apalagi mencapai kolonel dan jenderal, ia hanya seorang prajurit. Dalam sejarah perang, manalah ada seorang prajurit bisa namanya tertulis dengan jayanya. Buku ini menghadirkan nuansa lain dari perang, bukan dari sudut tokoh nama besar pelakunya, tapi sudut lain, seorang prajurit rendahan.
Ya, mungkin ada yang bilang watak seperti Svejk bukanlah orang yang pantas untuk dikisahkan dalam sebuah buku. Terlepas dari itu, mau tak mau harus kita akui, sudut lain dari pelaku perang harus diperbanyak khazanah literaturnya, apakah itu karya fiksi ataupun non fiksi. Dan, Prajurit Scweik yang merupakan sebuah karya fiksi dengan pengayaan latar sejarah yang akurat sudahlah cukup bisa memotret harapan seperti itu. Svejk yang sederhana, tanpa ada gemerlap pangkat dan pakaian, tanpa terbilang di dalam surat-surat kabar pada zamannya, ia tetaplah prajurit yang turut punya andil dengan perannya sendiri. Sekecil apa pun peran itu, dan pasti ada pengaruhnya.
Jika dihadapkan pada dua pilihan; suka yang mana antara orang lugu dan bodoh tapi jujur dengan orang pintar dan cemerlang tapi pembohong, saya rasa kita semua memilih yang pertama. Kalau itu pilihan kita, si Svejk ini tentu bisa mendapat tempat di hati kita semua…
Membaca Prajurit Scweik ini kita dijamin akan tertawa karena keluguan dan kepolosan plus kejujuran Svejk yang tiada basa-basinya itu. Bahasanya satir menyindir, kocak, tapi tidak terjebak dalam lawakan murahan, ia tetap dibungkus secara sastrawi.
Two thumb up untuk Jaroslav Hasek, walau hanya inilah karya fiksi beliau satu-satunya, namun karya ini telah menjadi ikon negaranya, Republik Ceko. Ketika orang bicara tentang Ceko, orang harus tahu Prajurit Scweik. Terlebih dari itu semua, sebagai orang Indonesia, kita sangat beruntung karya masterpiece ini telah diterjemahkan dengan amat baik oleh pihak Balai Pustaka dengan terbitan pertama kalinya pada tahun 1978, sehingga kita bisa mengenal Si Svejk nan lugu ini.
Secara keseluruhan mungkin seperti itulah watak dan kisah Svejk yang bisa saya gambarkan secara global. Terlalu banyak lika-liku rangkaian ajaib perjalanan hidup si Svejk ini jika saya rincikan secara mendetail. Untuk Anda (yang belum) membaca dan memiliki bukunya, silahkan cari di toko-toko buku terdekat. Sudah ada cetakan terbaru kok! Anda tak akan rugi jika membaca dan membeli buku kisah ajaib ini….
Selamat mencari! Selamat membaca! Selamat membeli saja bagi yang belum!
Itu saja aku rasa! Cukuplah sudah kilasan singkatku ini…

Zamroni Rangkayu Itam

*Tulisan di atas sebelumnya dimuat di weblog palantakayu dengan titel yang sama….

kilas info:

Judul : Prajurit Shcweik (diterjemahkan dari The Good Soldier Svedj), Pengarang : Jaroslav Hasek, Penerjemah    : Djokolelono, Penerbit : Pustaka Jaya-Jakarta-cetakan II-1992, Halaman : 292 halaman

Imaginasi (yang) Liar

Membaca dan menelaah “Dilarang Menyanyi Di kamar Mandi”-nya Seno Gumira Ajidarma kita dibuat tertawa sendiri—baik karena lucunya, sarkasme yang meledek dan menyindir, kendati pada akhirnya membuat kita—khususnya para pria lebih berinstropeksi diri setelah mengunyah dan menelan karya sang maestro cerpen Indonesia tersebut.

Cerita bermula dari sebuah setting gang sempit khas warga kelas bawah kota Jakarta. Ada sebuah ritual aneh bapak-bapak penghuni gang tersebut. Mereka hapal benar kapan jadwal seorang wanita primadona gang tersebut mandi. Mereka hapal bukan karena mereka sering mengintip wanita tersebut mandi melalui celah-celah lubang kecil kamar mandi, tapi hanya sebatas menikmati bunyi byar-byur-byar-byur air gayung menimpa tubuh sang wanita dan lantai kamar mandi, serta klst-klst-klst bunyi sabun menggosok kulit, dan yang lebih hot lagi wanita tersebut sambil bersenandungkan lagu-lagu dengan suara yang seksi serak-serak basah. Tak harus melihat secara live perempuan itu telanjang mandi memang, suara-suara itu saja sudahlah cukup untuk membuat bapak-bapak penghuni gang tersebut mengalami ekstase orgasme melalui imajinasi mereka.

Suara seksi si wanita di kamar mandi bukannya tidak ada masalah. Para istri penghuni gang sempit itu menjadi resah. Sikap dingin dan tidak bergairah para suami di tempat tidur sudah barang tentu membuat para istri uring-uringan. Lantas mereka menuding si pemilik suara seksi serak-serak basah yang selalu menyanyi di kamar mandilah yang menjadi penyebabnya. Sadar akan bahaya yang menimpa nafkah batin mereka, para istri pun mengultimatum ketua RT untuk melarang si wanita bersangkutan menyanyi di kamar mandi. Amanah para ibu-ibu kepada ketua RT pun berjalan sukses. Si pemilik suara seksi serak-serak basah yang selalu menyanyi di kamar mandi itu pun menyanggupi permintaan mereka.

Si wanita tersebut memang tidak lagi menyanyi di kamar mandi. Lantas apakah masalah selesai begitu saja? Tidak! Bapak-bapak masih konsisten dengan imajinasi “kreatif” mengenai si pemilik suara serak-serak basah itu, walau hanya sebatas mendengar bunyi byar-byur-byar-byur air gayung menimpa tubuh serta klst-klst-klst bunyi sabun menggosok kulit. Melihat tiadanya perubahan dari diri suami mereka yang masih tak bergairah di ranjang, para istri kembali uring-uringan dan melapor kembali kepada ketua RT. Kali ini ibu-ibu lebih ekstrem, mereka meminta pak RT untuk mengusir si wanita dari lingkunngan gang mereka. Setelah menimbang-nimbang ketua RT pun menyanggupi. Sebaliknya, si wanita, dengan penuh sukarela menuruti keinginan para istri yang kekurangan nafkah batin itu untuk pindah dari kediamannya. Tentu saja hal ini disambut napas lega oleh para istri.

Setelah tiadanya bunyi bunyi byar-byur-byar-byur air gayung menimpa tubuh sang wanita dan lantai kamar mandi, serta klst-klst-klst bunyi sabun menggosok kulit, begitu juga senandung lagu-lagu dengan suara seksi serak-serak basah, masalah yang sama tidaklah berakhir begitu saja. Tampaknya suara-suara tersebut terekam kuat melekat dalam imajinasi para bapak penghuni gang tersebut, kendati sang “biang keladi” telah pergi. Rupanya tidak bisa begitu saja imajinasi para bapak itu bisa terhapus. Lagipula bagaimana mungkin bisa memenjarakan imajinasi? Sang wanita bersuara seksi yang selalu menyanyi di kamar mandi bisa saja pergi jauh tak kembali, tapi imajinasi tak pernah bisa dikibuli. Siapa yang salah, si wanita yang selalu menyanyi di kamar mandi-kah, para bapak yang imajinasinya kemana-manakah, atau sama sekali semuanya bersalah? Kalau si wanita yang salah karena menyanyi di kamar mandi dengan suaranya seksi dan lantas mengundang imajinasi liar bapak-bapak, mungkin saja ia memang pantas diusir. Namun jika para bapak yang salah karena masih tetap saja membayangkan suara aktivitas si wanita di kamar mandi kendati ia telah pergi, kenapa sang wanita dikorbankan (baca : diusir)?

Terus terang ini sebuah cerpen yang sangat menarik. Teramat baik saya rasa sebagai bahan pertimbangan untuk mengkaji ulang secara intensif UU Anti Pornografi di negara kita tercinta ini, Indonesia…

Merantau Ke Deli

Dari beberapa karya sastra almarhum buya Hamka, sebutlah seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, Di Bawah Lindungan Kakbah, dan Merantau Ke Deli, yang terakhir inilah yang paling saya sukai. Barangkali saya tidak berlebihan dan berkata asal-asalan, sebab dalam kata pengantar cetakan ketujuh penerbit Bulan Bintang, sang Buya mengatakan bahwa Merantau Ke Deli adalah karya yang paling memuaskannya.
Pada dasarnya Merantau Ke Deli ini adalah karya beliau yang dimuat secara bersambung pada pertengahan tahun 1939-an di majalah Pedoman Masyarakat seperti karya-karya sastra beliau sebelumnya. Dicetak dalam bentuk buku pada tahun 1941 oleh penerbit Cerdas Medan. Karya ini memang teramat istimewa bagi saya generasi muda Indonesia. Merantau Ke Deli ibarat pita rekaman kaset yang menggambarkan sebuah episode situasi kehidupan bangsa Indonesia masa itu, khususnya Deli. Kenapa saya mengatakan demikian? Melalui konteks Merantau Ke Deli, kita bisa melihat bagaimana generasi baru Indonesia dibentuk. Kenapa demikian? Hal ini tentu tidak lepas dari peranan dan kedudukan Deli itu sendiri di mata orang senusantara pada masanya. Tanah Deli sebelum novel bersangkutan ditulis memang telah menjadi semacam bandar atau kota besar yang terbuka bagi pengusaha besar asing untuk menggembangkan karet, tembakau dan kelapa sawit. Dampak dari itu semua sangat jelas dengan banyaknya orang yang berdatangan dari seluruh nusantara untuk menjadi kuli kontrak di perkebunan.
Novel ini menceritakan semacam “benturan budaya” kalau boleh saya katakan demikian. Di sini diceritakan tentang Lemann, seorang perantauan Minangkabau yang mengadu nasib di tanah Deli sebagai pedagang kaki lima. Dalam novel ini kembali sang Buya mengambil tokoh dari latar budaya yang sangat diakrabinya, maklumlah karena buya Hamka adalah orang Minang alias urang awak. Pertemuan Leman dengan Poniem (Baca : Poniyem, pen), seorang perempuan Jawa, berawal dari aktivitas biasa, antara penjual dan pembeli, karena memang Leman berjualan di dekat perkebunan tempat Poniem bekerja sebagai kuli kontrak. Leman yang masih single merasa tertarik kepada Poniem yang digambarkan sebagai perempuan lumayan cantik. Tapi hasrat Leman untuk menjalin hubungan serius sampai tahap rumah tangga bukannya tanpa halangan. Poniem adalah isteri simpanan atau piaran mandor besar perkebunan. Tapi justru itu yang menjadi senjata Leman untuk meraih simpati dari Poniem.
“Jadi engkau tidak dinikahinya?”
“Belum, saya belum dinikahinya”
“Jadi bagaimana pertimbangan Poniem, tinggal di luar nikah dengan seorang lelaki yang umurnya lebih tua daripada engkau?”
Itulah cuplikan sebuah dialog antara Leman dan Poniem yang tertera di halaman 17. Keadaan Poniem yang hidup luar nikah membuat rayuan-rayuan Leman diselingi alasan logis kenapa Poniem harus meninggalkan kedudukannya sebagai seorang isteri ”piaraan”. Tidak mudah memang bagi Leman untuk meyakinkan Poniem utuk meninggalkan mandor besar, sebab banyak pengalaman wanita-wanita seperti Poniem yang tertipu. Awalnya diajak kawin secara sah di hadapan penghulu, tapi setelah barang-barang emas si wanita habis, ia ditinggalkan begitu saja. Walaupun pada akhirnya hasrat Leman untuk menikah dengan Poniem terwujud, namun itu bukan berarti mereka berdua tidak mengalami berbagai macam ujian.
Ujian pertama adalah ketika mereka harus melarikan diri ke Medan untuk menikah secara resmi di hadapan penghulu. Tentu di samping itu juga untuk menghindarkan diri dari kejaran suami kumpul kebonya Poniem, sebab ia membawa seluruh barang emas yang telah diberikan kepadanya, kendati pada akhirnya mereka berdua kembali lagi ke Deli setelah mendengar kabar bahwa mandor besar telah pulang ke tanah Jawa. Di Deli itulah mereka memulai hidup baru dengan cara berdagang kecil-kecilan—dimana perdagangan mereka meraih sukses berkat modal yang diberikan Poniem melalui gadaian barang emasnya.
Lima tahun dalam usia perkawinan mereka tiada ujian-ujian berarti yang menimpa keduanya. Bahkan mereka termasuk pasangan yang berbahagia. Hubungan keduanya aman-aman saja. Secara ekonomi mereka sangatlah berkecukupan, bahkan bisa dikategorikan sebagai orang kaya yang sukses di perantauan. Namun sayang, keluarga mereka tidak dianugrahi buah hati. Ini jugalah yang menghambarkan hubungan mereka berdua. Kabar kesuksesan Leman yang sukses di perantauan setelah beristrikan seorang Jawa yang setia dan pekerja keras akhirnya tersiar luas juga di kampung Leman di ranah Minang. Dapatlah ditebak juga pada akhirnya, banyak orang kampung Leman berduyun-duyun ke Deli sekadar mengadu nasib dengan cara menumpang Leman. Ada yang datang mengaku sebagai kemanakannya atau Leman adalah mamaknya, Leman adalah saudara jauhnya, dan Leman adalah saudara sesukunya, dan bemacam pengakuan-pengakuan lain yang menjengkelkannya. Sebab, ketika dulu is masih miskin, yang hanya berdagang kecil-kecilan, tak ada sesiapapun yang menganggap ia sebagai saudara. Namun situasi ini disambut baik oleh Poniem, sebab ia baru tahu kalau suaminya punya kaum dan sanak famili. Bukan orang yang terbuangkan.
Babak selanjutnya yang sangat menarik adalah ketika Leman dihimbau supaya pulang kampung oleh ninik mamak kampung halamannya. Memang sudah masanya lah Leman untuk pulang kampung. Orang yang sukses di perantauan, khususnya bagi perantau Minang, ada semacam “hutang” yang harus dilunasi kepada kampung. Hidup Minangkabu ditopang oleh adat dan lembaga, seorang anak Minangkabau yang sukses tidak sah rasanya jika hutang kepada kampung itu tidak dibayar. Ini berlaku bagi semua, tak terkecuali bagi Leman. Setelah menimbang-nimbang akhirnya Leman memutuskan memenuhi himbauan ninik mamaknya. Urusan bisnis dan kedainya ia serahkan sepenuhnya kepada anak semangnya yang setia dan berdikasi, Suyono, seorang Jawa.
Hari-hari pertama mereka berdua di kampung Leman teramat menyenangkan, terlebih Leman telah menjadi semacam panutan bagi muda-mudi di kampungnya. Ini tentunya juga berlaku bagi Poniem. Ia bisa mengenal kampung halaman suaminya dengan lebih baik, lebih-lebih lagi ia sendiri disambut begitu baiknya oleh pihak keluarga suaminya. Namun itu tidaklah berlangsung lama bagi keduanya. Sebab, dalam adat Minang, di Rumah Gadang tidak ada kamar bagi anak laki-laki, hanya perempun yang ada hak untuk itu. Anak laki-laki jika ia sudah menikah maka ia akan tinggal di Rumah Gadang milik keluarga isterinya. Rumah Gadang di dalam keluarga Leman telah terisi oleh saudara-saudaranya yang perempuan dan telah bersuami. Ini sangat menyusahkan Leman, jika ia menikah dengan orang Minang, apalagi sekampung, tentu ia bisa tinggal di Rumah Gadang keluarga sang isteri. Tapi sekarang ia beristrikan seorang Jawa, lantas mau dikemanakan Poniem. Itulah barangkali sebabnya tak lama-lama Leman berada di kampungnya.
Di malam terakhir sebelum mereka kembali ke Deli, Leman dipanggil oleh seorang tetua kampung. Serius benar pembicaraan mereka pada malam itu: soal adat. Sebagaimana yang telah dikatakan tadi, setiap anak Minangkabau mempunyai hutang kepada adat lembaga kampung. Hutang itu bukanlah uang dan emas, tapi hutang malu. Seorang anak Minangkabau yang kawin dengan orang di luar orang Minang, dianggap belum lengkap kedudukannya sebagai anak Minang. Secara adat Leman belumlah berhak menyandang gelar Sutan sebagai perlambang seseorang yang telah beristri. Sebab itulah dia disarankan untuk menikah sekali lagi dengan orang yang senegeri dengannya. Dengan itu, hutang Leman kepada negeri terlunasi. Sebab dia kini telah mendirikan adat dan lembaga, sah sebagai anak Minangkabau sejati. Pepatah setinggi-tinginya bangau terbang, ke kubangan jua akhirnya memang lekat di hati Leman. Di dalam situasi sebagai orang berada sekarang memang memungkinkannya untuk kawin dengan orang sekampung, terlebih lagi para tetua itu sendiri yang mencarikannya, seseorang yang cantik, muda, tentunya perawan lagi.
Sesampainya di Deli, anjuran untuk kawin lagi dengan perempuan yang sekampung dari ninik mamaknya benar-benar menyita pertimbangan-pertimbangan Leman. Kalau dia menerima anjuran itu, lantas bagaimana dengan Poniem, akankah Poniem bersedia dimadu? Bukankah itu sebagai bentuk penghianatannya kepada janji-janjinya dahulu? Kalau dia menolak, bukankah dia orang yang berada dalam lingkaran adat dan lembaga, yang harus menjunjung dan mendirikannya dengan baik, sehingga dia sah sebagai seorang anak Minangkabau. Lagi pula, bukankah tidak selamanya badan akan terpancang di perantauan, dan toh, pada akhirnya dia akan kembali juga ke tanah kelahirannya. Pada taraf ini Leman benar-benar mengalami pergolakan jiwa yang hebat yang tidak bisa ia putuskan begitu saja. Banyak masukan-masukan dari teman-teman—yang rata-rata juga berasal dari Minangkabau menasehatinya bahwa perkataan ninik mamaknya memang benar, ia harus kawin lagi dengan perempuan yang sekampung. Kendati ada juga masukan-masukan berbeda dari teman sesama Minang yang telah lama mengubah pandangannya tentang adat, yaitu Bagindo Kayo. Menurut senior seperantauan Leman itu, sebelum memutuskan apakah akan kawin lagi atau tidak, Leman harus menggubah pandangannya tentang perantauan, adat, dan kampung halaman dahulu. Sebab ini penting, begitulah kira-kira kata bagindo Kayo. Jika Leman bertekad menganggap tanah rantaunya adalah tanah hidup matinya, janganlah kiranya Leman kawin lagi, tentang adat dan lembaga di kampung, biarkanlah. Namun, jika Leman merasa bahwa dia harus menggapai dirinya sebagai orang yang beradat dan berlembaga, ada baiknya dia untuk kawin lagi. Sebab, dengan kawin lagi dengan orang senegeri dengannya, Leman akan mempunya keturunan yang bergaris kepada Minangkabau.
Fase kebimbangan Leman ini sangat penting, sebagaimana yang kita ketahui, Minangkabau mengambil sistem Matrilineal, yaitu kesukuan seseorang dipakai dari pihak sang ibu. Kalau pun ada Leman punya anak dengan Poniem, anak itu tidak dipandang sebagai seorang Minangkabau. Otomatis anak tersebut tidak bermamak. Kita tentu tahu, dalam masyarakat Minangkabau yang komunal, seorang mamak (paman si anak dari pihak ibu tentunya, pen.) tidak hanya memikul tanggung-Jawab kepada anak-anaknya, tapi juga memikul beban tanggung jawab kepada kemenakan-kemenakan dari saudara perempuannya. Sehingga di Minang muncul semacam kredo anak dipangku kemenakan dibimbing. Pandangan inilah yang pada akhirnya melekat di hati dan pikiran Lemann : kawin lagi.
Mengenai ninik mamak kampung Leman, sang pengarang, buya Hamka, tampaknya menyindir secara halus pandangan kesukuan Minangkabau, kendati beliau sendiri adalah seorang anak Minangkabau sejati. Kita bisa melihat, bagaimana para ninik mamak itu tampak gembira karena mengetahui Leman dan Poniem belum memiliki anak. Tentu dengan itu mereka akan mudah memasuki dan mempengaruhi Leman supaya kawin lagi dengan wanita sekampung. Dalam pikiran mereka, sangatlah disayangkan jika Leman yang sukses dan kaya di perantauan itu kawin dengan orang yang bukan sekampung. Sebab, jika Leman nanti telah meningal tentu harta kekayaannya tidak akan mengalir ke tanah kelahirannya.
Tidaklah mudah bagi seorang suami memberitahukan bahwa ia akan kawin lagi. Ini berlaku bagi semua laki-laki, tak terkecuali Leman. Walaupun pemberitahuan itu disambut dengan tangisan dan kesedihan yang medalam oleh Poniem. Namun apa mau dikata surat ke kampung yang mengabarkan bahwa Leman setuju untuk kawin lagi telah dikirim. Dan, ia hanya menunggu kedatangan calon istri keduanya saja. Walaupun Poniem rela dan setuju Leman kawin lagi, namun ia juga berharap sang suami nanti akan tetap mencintai dan tidak mencampakkannya, mengingat Poniem adalah sebatang kara di Deli, dan teramat jauh dari tanah kelahirannya.
Kehidupan Leman sebelum dan sesudah beristri dua teramat berbeda. Memang pada awal perkawinannya dengan istri keduanya yang bernama Mariatun itu tampak tiada masalah, karena kedua isterinya berada di rumah terpisah. Itu pun tidak lama, saat Leman memutuskan untuk menyerumahkan Mariatun dengan Poniem, karena alasan perdagangan yang sedang merosot, barulah riak-riak kecil sampai riak-riak besar persaingan kedua isterinya terlihat. Riak pertama, masalah siapa yang tinggal di kamar lantai atas dan bawah saja sudah mengundang nuansa kecemburuan. Memang Poniem diminta pendapatnya, tapi Leman memutuskan bahwa Mariatun yang tinggal di kamar atas dan Poniem di bawah. Kedua, sikap Mariatun yang tidak simpatik, kalau dalam hal memasak Poniem yang super sibuk berkelindan di dapur, tapi giliran menanting hasil masakan ke meja makan, si Mariatunlah yang ambil bagian sambil senyum simpul kepada sang suami yang telah menunggu. Ketiga, masalah siapa yang berhak menunggui kasir kedai mereka. Dalam hal ini si Mariatun tampaknya sangat agresif. Ia paham benar kedudukannya. Sebagai sitri muda, sekampung dan dihantar oleh ninik mamak lagi, sudah barang tentu ia akan mendapat tempat di hati Leman. Dalam pandangannya, madunya, si Poniem tidak lebih dari seorang perempuan yang menumpang di rumah suaminya. Sedangkan bagi Poniem, si Mariatun tak lebih dari perempuan yang tak tahu diri yang “dibeli” oleh duit suaminya. Baginya, Mariatun buta dan tak sadar jika kemajuan bisnis suaminya, Leman, berawal dari barang emasnya. Pada tahap ini perseteruan kedua istri Leman berada pada tahap kritis, karena sudah tersentuh area SARA jika boleh dikatakan demikian.
“Suka hatiku atas harta benda suamiku. Aku diantar ke sini oleh ninik mamakku, engkau babu di sini. Aku akan menolong suamiku berniaga, kami orang sekampung, sehalaman, bukan macam kau!”
Tapi siapa sangka, justru kata itu sang sedang ditunggu-tunggu Poniem sebagai serangan balik.
“Engkau hinakan perempuan Jawa? Mana engkau bisa hidup, mana tanganmu bisa berlilit emas kalau bukan orang Jawa ini, anak sombong! Engkau katakan engkau senegeri dengan suamimu. Ya begitulah perempuan Padang; mata duitan. Dulu ketika suamiku itu melarat di rantau ini, haram kalian hendak ingat kepadanya atau meminta pulang. Seorangpun haram perempuan Padang yang sudi kepadanya, dia seakan-akan terbuang…”
Itulah episode yang sangat kritis bagi keduanya. Walaupun dalam novel itu digambarkan Mariatun benar-benar mati kutu. Tapi simpati Leman kian tercurah kepadanya. Sebaliknya Poniem secara perlahan mulai merasa terasingkan dari suaminya sendiri. Lebih-lebih lagi lingkungan kedai Leman juga banyak dihuni oleh orang Minang, tentu ini menjadi senjata bagi Mariatun untuk menjelekkan-jelekkan Poniem yang telah berkata keterlaluan menghina adat Minangkabau.
Perseteruan kedua istri Leman ibarat bisul besar yang tinggal menunggu pecahnya saja. Sampai tibanya sebuah momen yang kelak akan mengubah arah kehidupan mereka semuanya. Suatu hari ketika kedai mereka menerima pasokan batik baru dari Pekalongan, Mariatun yang dengan seenaknya langsung mengambil sehelai kain yang baru dibuka dari kotak tersebut padahal fakturnya belum lagi diperiksa. Leman bukannya tidak memperingatkan bahwa itu adalah barang dagangan, lebih-lebih lagi barang itu belum diperiksa dengan benar fakturnya. Tapi Mariatun cuek saja. Melihat gelagat itu, Poniem tidak terima, dengan seenaknya juga dia mengambil satu helai kain dari dalam kotak tersebut. Leman marah dan langsung merebut kain tersebut dari Poniem dan mengembalikannya ke dalam kotak. Poniem lagi-lagi jelas tidak bisa terima, secepat kilat dia berlari mengejar Mariatun yang sedang naik ke kamar atas untuk menyimpan kain yang ia ambil barusan. Hasilnya dapat ditebak, tarik menarik akan kain yang baru diambil itu terjadilah sudah yang berakhir dengan pergumulan keduanya. Situasi ini jelas mengundang murka Leman. Dengan kasar dilerainya keduanya. Hal ini tidak menyenangkan Poniem karena cara melerai Leman yang sungguh tidak adil kepadanya dengan cara menedang kaki dan pinggangnya. Untuk ketiga kalinya Poniem tidak terima dengan perlakuan seperti itu, sehingga berujung perang mulut dengan suaminya, Leman. Tapi, itulah akhir dari hubungan mereka, sebab segera pada saat itu Leman langsung menjatuhkan talak tiga sekali kepada Poniem
“Kau boleh pergi dari sini! Kau orang Jawa! Boleh turutkan orang Jawa, boleh kembali ke kebun…, Mulai sekarang saya jatuhkan talak tiga sekali. Pergilah!”
Itulah episode akhir dari hubungan mereka sebagai suami istri. Bagi Poniem, tak terkatakan bagaimana perasaannya. Begitu juga bagi Leman tak tergambarkan bagaimana kosongnya pikiran dia mengingat perkataan yang telah terucap. Talak tiga sekali. Ketika akan meninggalkan kedai dan rumah mereka, Poniem tidak menuntut harta perdagangan mereka dihitung walau jelas ada haknya di dalamnya. Ia hanya mengambil sehelai kain batik yang dipersengeketakannya dengan Mariatun tadi sebagai kenang-kenangan pergaulan mereka. Belum sadar lagi Leman dari bermenungnya, anak semang sekaligus rekannya, Suyono, minta pamit juga. Rupanya kata-kata “Jawa” yang diucapkan Leman kepada Poniem tadi juga mengena di hatinya. Tak heranlah, sebagai orang Jawa, Suyono merasa harus berpamit diri menyusul Poniem yang terbuangkan. Saat itu barulah Leman sadar akan hilangnya dua pangkal keberuntungannya selama ini. Pertama, istri yang setia, kedua anak semang sekaligus rekan yang juga sangat setia. Tinggallah Leman mengucap dan menyesalkan apa yang telah terucap.
Sejak perceraian itu, tidaklah lama Leman berbenam dalam kesedihan dan penyesalan, sebab Mariatun mengandung. Bukankah itu yang telah lama yang ia nanti-nantikan, seorang anak. Dengan adanya anak, lengkaplah sebuah keluarga. Untuk beberapa waktu setelah kelahiran anak mereka terasa aman-aman saja, hanya saja Leman merasakan perdagangannya mulai merosot. Untung yang diperoleh tidak sebesar dulu lagi. Hal ini diperparah dengan adanya kabar di kampung yang meminta Leman untuk membangun sebuah rumah berikut sepetak sawah, sebab kini ia telah memiliki anak, anak perempuan lagi, yang dalam pandangan adat lebih tinggi derajatnya dari laki-laki. Leman menyanggupi permintaan tersebut, namun sayang, Leman tidak kira-kira mengirimkan uang ke kampung, ia memakai uang yang seharusnya untuk modal perdagangan. Tidak sampai di situ saja, karena Mariatun sudah agak lama di rantau, pihak keluarga menyarankan untuk pulang, menjenguk keluarga di kampunglah pastinya. Leman kembali setuju. Namun sangat disayangkan, Leman kembali tidak kira-kira menggunakan uang untuk ongkos pulang. Tentu ongkos yang dimaksud disini bukan semata ongkos bis atau kereta api. Leman membeli bermacam oleh-oleh yang mahal, barang emas istrinya ditambah, ia tidak mau hilang gengsi kalau kejumawaan pulang kampungnya kali ini dengan Mariatun kalah dengan waktu pulang kampung dengan Poniem tempo dulu. Sikap Leman yang tidak kira-kira itu pada akhirnya membuahkan kebangkrutan bagi usahanya nanti di tanah Deli.
Sedangkan kehidupan Poniem setelah perceraiannya dengan Leman terasa begitu menyesakkan baginya. Walaupun menyimpan rasa sakit hati, tapi ia tidak bisa menampik bahwa Lemanlah yang telah mengenalkannya kepada kehidupan yang lebih baik. Melalui Leman dia bisa lepas dari tangan mandor besar. Melalui Leman dia bisa menjadi dirinya seseorang yang lebih baik. Diikuti oleh Suyono, orang satu negeri dengannya, sama-sama dari Jawa, mereka berangkat ke kota Medan. Di sanalah kehidupan baru mereka dimulai dari awal. Mereka bekerja keras dan saling memahami satu sama lain layaknya kakak beradik. Namun hubungan mereka pada akhirnya beranjak ke tahap pernikahan. Memang pernikahan mereka tidaklah dilandasi oleh rasa-rasa cinta gejolak orang muda, tapi lebih kepada keinsafan mereka yang sama-sama pernah mengarungi kehidupan yang serba keras. Tapi, itulah awal peruntungan mereka, usaha mereka yang dirintis lagi dari awal ternyata membuahkan hasil yang gemilang.
Berbeda dengan Poniem dan Suyono, kehidupan Leman dan Mariatun justru sebaliknya. Secara ekonomi mereka sedang terpuruk. Dulu Leman yang punya kedai kini tidak lagi, dan harus kembali lagi ke situasi semula berjualan kecil-kecilan di kali lima dengan mengendarai kereta angin. Leman sadar betul, kalau dulu dengan Poniem—yang sewaktu-waktu harta emas sebagai ganti penyimpan uang bisa digadaikan sebagai tambahan modal, kini tidak lagi. Keluarganya memang punya rumah dan tanah di kampung yang telah ia beli, tapi itu jelas tak bisa digadai, maka sampailah Leman kini berada pada tahap yang menyedihkan. Sehingga pada akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kampung saja.
Poniem dan Suyono, yang telah sukses, pada akhirnya memutuskan untuk mencari rumah di tempat lama mereka, Deli, karena kota Medan bukanlah tempat yang tenang untuk menghabiskan hari-hari tua. Suyono, pada akhirnya berangkat ke Deli mencari tanah dan rumah yang mereka idam-idamkan. Tak disangka di Deli ia bertemu dengan Leman yang kini telah jatuh miskin. Banyaklah obrolan yang mengalir dari keduanya. Leman yang dengan prihatin bagaimana jurang kemiskinan di rantau kini mengerogotinya. Suyono pun begitu, bagaimana susahnya perekonomian pada saat ini. Memang banyak yang mereka bicarakan, tapi satu yang Leman tidak tahu, bahwa Suyono telah kawin dengan Poniem. Sedangkan Suyono entah karena segan atau apa, tidak memberitahu statusnya dengan Poniem. Maka sampailah pada permintaan Leman yang ingin dipertemukan dengan Poniem, sekedar minta maaf sebelum ia kembali ke kampung halamannya. Dan Suyono pun mengabulkannya.
Babak akhir dari novel ini adalah acara maaf-memaafkan antara Leman dan Poniem. Poniem dan Suyono yang telah menghuni rumah barunya di Deli menerima kedatangan Leman dengan tangan terbuka. Saat itulah segala dendam mereka hapuskan, luka terobati. “Kenekatan” Leman yang meminta maaf kepada bekas istrinya memang sungguh ksatria, maaf yang diberikan Poniem sungguh begitu mulia. Tapi khusus bagi Leman, kenekatannya itu sendiri membawa malu yang tidak kepalang tanggung baginya pada akhirnya. Memang minta maaf adalah perbuatan mulia, tapi bagaimana minta maaf kepada janda sendiri, dirumahnya sendiri lagi! Dari sudut pandang lain, ini tentu perbuatan yang hina, apalagi setelah ia tahu Poniem telah bersuamikan Suyono. Tidak cukup itu saja rasa malu yang harus ditanggung Leman, ketika tawaran tulus untuk mengajak kongsi dagang datang dari Suyono dan Poniem. Tentu Leman harus mengesampingkan tawaran itu, walau setulus apapun tawaran itu. Orang yang telah dia hinakan kini menawarkan rasa baik menawarkannya modal dagang. Tak dapat ia terima tawaran itu, tahu dia apa itu rasa harga diri, kendati harus makan tanah di kampungnya, asal tidak menerima uluran modal mereka…
Novel ini ditutup dengan babak perpisahan yang mengharu biru antara Poniem-Suyono dengan Leman-Mariatun. Dendam dan rasa sakit hati yang mengendap di hati mereka telah lepas di hati mereka pada waktu perpisahan itu.
*******
Novel ini memang agak kontroversial, khususnya bagi orang Minangkabau. Setahu saya, saat-saat awal buku ini tersebar, ada banyak kritikan dari para tokoh Minang, karena dianggap menjelek-jelekkan adat Minang, untunglah yang mengarang novel ini adalah buya Hamka, yang tak lain dan tak bukan adalah anak sejati ranah Minang, sehingga kontroversi tersebut menguap begitu saja. Walaupun begitu, dengan menulis sedikit ulasan novel ini, bukan berarti saya menginginkan kontroversi itu bangkit kembali. Sebagai orang yang “dibentuk” oleh alam Minangkabau (saya pernah enam tahun menuntut ilmu di sana, di Bukittinggi) tak ada maksud demikian. Secara pribadi, saya hanya memandang Merantau Ke Deli sebagai panduan bagi saya bagaimana memandang “rantau” itu sendiri. Sebagaimana kata buya Hamka, dari Sabang sampau Merauke, kini kita tidaklah “Merantau” lagi. Sebab, setiap inci dari tanah nusantara Indonesia adalah ibu pertiwi kita, kita memiliki hak untuk memilih dimana kita tinggal dan berada, tentu berikut mencari nafkah. Berkaca dari Merantau Ke Deli, kita tahu bagaimana generasi setelah kita terbentuk dan terbina, yaitu asimilasi. Benar buya Hamka, anak Deli adalah anak dari yang ibunya Jawa tapi bapaknya Minang, ibunya Betawi dan bapaknya Batak, ayahnya Bugis dan ibunya Jambi, begitulah seterusnya…

Zamroni Rangkayu Itam

*Tulisan di atas sebelumnya dimuat di weblog palantakayu dengan titel yang sama….

sekilas info novelnya:

Judul    : Merantau Ke Deli, Pengarang : HAMKA, Penerbit : Bulan Bintang-Jakarta-cetakan VII-1977, Halaman: 153 halaman

Bukan Pasarmalam

Apa yang ingin disampaikan Pram lewat Bukan Pasarmalam ini? Sebelum saya mengulasnya, saya katakan, kandungan novel tipis tapi berisi tebal ini sesuai untuk untuk setiap zaman. Terlepas dari kapan dan pada zaman apa Pram menulisnya.

Karya Pram yang satu ini, dalam pandangan saya, sarat dengan unsur magis spritual, kendati secara harfiah yang tersurat tidak ada sesuatupun yang menunjukkan hal demikian. Akan tetapi jika ditelisik dari segi yang tersirat, Bukan Pasarmalam menunjukkan seperti yang telah saya katakan tadi.

Bukan Pasarmalam diawali dengan cerita seorang anak yang pulang kampung setelah sekian lama tidak pulang—membezuk ayahnya yang sedang sakit keras. Dalam episode tersebut, di dalam perjalanan lewat kereta api, di kepala sang anak banyak terungkap memori lama tentang masa kecil, masa muda dan tentang pergolakan revolusi serta perjuangan. Di dalam perjalanan, digambarkan bagaimana watak sang anak yang tak lepas dari rasa khawatir, sesal, dan segenap rasa was-was perihal kesehatan bapaknya. Rasa sesal yang terbit dalam diri sang anak oleh karena sebab perikaian masalah keluarga, dan tak kurang juga berakar dari masalah revolusi.

Bukan Pasarmalam juga luahan kekecewaan atas belum lengkapnya kedaulatan negara. Memang secara fisik dan kewilayahan, Indonesia adalah negara yang merdeka dengan demokrasi sebagai landasannya, tapi itu semua belum berhasil mengangkat Indonesia keluar dari jalur kemiskinan, bebas dari korupsi dan segala praktek suap menyuap.

”…Demokrasi sungguh suatu sistem yang indah. Engkau boleh jadi presiden. Engkau boleh memilih pekerjaan yang engkau sukai. Engkau mempunyai hak sama dengan orang-orang lain-nya. Dan demokrasi itu membuat aku tak perlu menyembah dan menundukkan kepala pada presiden atau menteri atau paduka-paduka lainnya. Sungguh—ini pun suatu kemenangan demokrasi. Dan engkau boleh berbuat sekehendak hatimu bila saja masih berada dalam lingkungan batas hukum.Tapi engkau tak punya uang, engkau akan lumpuh tak bisa bergerak. Di negara demokrasi engkau boleh membeli barang yang engkau sukai. Tapi kalau engkau tak punya uang, engkau hanya boleh menonton barang yang engkau ingini itu. Ini juga semacam kemenangan demokrasi”

Dalam Bukan Pasarmalam ini, Pram menggambarkan situasi psikologis sebuah keluarga yang sedang ditimpa musibah—karena sang bapak yang sedang sakit keras. Dengan sangat literer Pram menuangkan kisah pergulatan batin sang anak dengan semua permasalahannya, walau pada akhirnya cerita tersebut ditutup dengan mangkatnya sang bapak ke alam baka. Dan dalam ending-nya, dengan sangat manis Pram menutup Bukan Pasarmalam dengan beberapa rangkaian kalimat;

”…Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang… seperti dunia dalam pasarmalam… Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana…’

Zamroni Ibrahim

*Tulisan di atas sebelumnya dimuat di weblog palantakayu dengan titel yang sama….



Antara Arok dan Harto

Kudeta atau coup d‘etat adalah istilah moderen untuk perebutan ”paksa” kekuasaan. Pengggulingan satu penguasa oleh pihak yang berambisi untuk merebut kekuasaan, dalam konteks kenegaraan adalah hal yang lumrah dan biasa. Banyak hal yang melatarbelakangi sebuah kudeta—ia bisa terjadi akibat ketidakstabilan sebuah negara (atau kerajaan) karena kemiskinan, ketidakamanan, dll. Kudeta juga bisa ada karena memang ada yang ingin berkuasa dan berambisi menjadikan kekuasaan yang akan dia rebut menjadi lebih besar lagi.

Merujuk kepada sejarah Nusantara, telah banyak kudeta yang terjadi di dalam kerajaan-kerajaan yang ada. Pertukaran sebuah pimpinan kerajaan kepada pemimpin baru lain melalui jalur penggulingan adalah hal yang jamak terjadi. Tapi ada satu tipikal kudeta yang tidak biasa yang pernah terjadi di bumi nusantara ini. Kudeta Arok. Itulah yang ingin digambarkan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam novel sejarahnya Arok Dedes.

Arok Dedes ditulis oleh Pram ketika ’terpaksa’ menghuni pulau Buru. Boleh dikatakan Arok Dedes ini salah satu karya besar Pram disamping Tetralogi Buru tentunya. Seperti nasib karya-karya Pram lainnya, Arok Dedes ini pada mulanya tidak leluasa beredar pada zaman Orde Baru, ia baru terbit dan mendapat sambutan hangat khalayak pasca Reformasi 1998.

Apa yang ingin disampaikan oleh Pramoedya melalui Arok Dedes-nya ini? Kudeta licik. Itulah satu poin besar yang bisa ditarik ke permukaan. Dalam novel ini, Pram tidak berbicara masalah peralihan kekuasaan dari masa Soekarno ke Soeharto. Tapi terfokus pada ramuan sejarah mula kudeta Arok yang terjadi pada abad XIII dalam medium literer. Arok Dedes secara tidak langsung ”mengkritik” dinasti Soeharto yang menjiplak habis kudeta ala Arok. Lempar batu sembunyi tangan, maling teriak maling, setidak itu peribahasa yang tepat menggambarkan pikiran Pram terhadap dinasti Soeharto. Bagi Pram, Soeharto mendirikan dinastinya tak ubah bagaimana Arok memperoleh dan mendirikan dinastinya sendiri.

Novel ini merekam taktik licik lagi brilian Arok dalam menggulingkan Tunggul Ametung. Tangan Arok memang berlumuran darah. Dia dengan sukses menggantikan Tunggul Ametung menjadi Akuwu Tumapel. Tapi, pada masa itu orang banyak tidak tahu bahwa Arok-lah yang ada dibalik pembunuhan Tunggul Ametung. Mereka hanya tahu Arok telah menduduki jabatan sebagai Akuwu mereka. Tentu saja hal ini terjadi karena Arok telah menyiapkan orang lain sebagai kambing hitam yang pantas dihukum bunuh karena telah membunuh seorang akuwu.

Arok Dedes-nya Pram ini seolah ingin sejarah peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto dikaji lebih dalam dan transparan, tanpa unsur kepentingan kekuasaan pihak-pihak tertentu. Pram melihat sejarah 1965, masa peralihan tersebut, pada masa orde baru sangat bias dan sarat muatan propaganda. Tidak hanya sampai itu malah, pihak yang berkuasa kemudian (baca : Soeharto) ternyata menjadikan salah satu kelompok ideologis tertentu menjadi sang terdakwa—yang pada akhirnya menjadi sang terhukum.

Sejarah kudeta ’tersembunyi’ Arok di kalangan manusia Indonesia sudah jelas dalangnya, orang yang ada di belakang layar; yaitu Arok itu sendiri. Sedangkan pada masa sejarah modern Indonesia, pada masa peralihan Soekarno ke Soeharto, masih lagi wilayah remang. Siapa dalang di belakang layar, sehingga Soekarno menyerahkan kekuasaan kepada Jenderal Soeharto. Belum ada yang berani dan secara spektakuler mengungkap dalang sebenarnya melalui kajian sejarah. Tapi, kalau kita berkaca kepada Arok Dedes-nya Pram ini, kita tahu jawabannya siapa. Tak lain adalah Soeharto itu sendiri yang ada di belakang layar. Jenderal yang punya senyum misterius itulah yang dalam kesenyapannya berhasil mengggulingkan kekuasaan Soekarno. Dan, dengan meniru Arok pulalah sang Jenderal akhirnya menggebuk kambing hitam yang telah ia persiapkan.

Apakah benar demikian? Tak tahulah kita! Yang pasti sejarah politik peralihan kekuasaan selalu sarat dengan misteri. Tak terkecuali tahun 1965 itu….

Zamroni Rangkayu Itam

*Tulisan di atas sebelumnya dimuat di weblog palantakayu dengan titel yang sama….

info novelnya:

Judul : Arok Dedes, Pengarang : Pramoedya Ananta Toer, Penerbit : Hasta Mitra-Jakarta-cetakan V-2002, Halaman : 418 halaman