Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Alaa Al-Aswani’

Menurut hemat saya, karya sastra adalah medium yang tepat untuk memahami sebuah komunitas, masyarakat, atau lebih luas lagi sebuah negara. Nah, saat kita menolehkan mata ke negeri para Firaun yang terkenal dengan sungai Nil, Spinx, atau pusat intelektual muslimnya, maka sebuah karya sastra kontemporer Apartemen Yacobian, mungkin bisa menyajikan sedikit realitas kehidupan di negara yang bernama Mesir itu.
Adalah Alaa Al Aswani yang mengarang Apartemen Yacobian ini. Di negara tempat asalnya, novel ini memang agak sedikit kontroversial karena secara vulgar “mengeksploitasi” unsur-unsur sensualitas—yang dimata masyarakat Arab agak tabu jika dibicarakan, apatah lagi tertulis abadi dalam nukilan buku.
Buku ini penuh dengan tokoh dan watak yang beragam. Ada yang mewakili seorang anak muda mesir miskin yang terpuruk dengan kemiskinannya—dan, pada akhirnya ia terjerumus ke dalam organisasi gerakan islam radikal. Ada pula watak yang mewakili seorang gadis remaja yang juga terjerat masalah ekonomi—sehingga ia harus menebalkan muka membuang malu untuk menjadi pelampiasan seksual majikan tempat ia bekerja. Ada pula sosok playboy tua yang pandangan hidupnya sangat sekuler, penyuka seks bebas, pemuja minuman keras, dan segala tren kehidupan Barat. Disamping itu ada pula ada tokoh seorang redaktur koran terekemuka yang homo—memanfaatkan seorang (praja muda) tentara miskin sebagai pelampiasan nafsu “menyimpang”nya. Dan, yang paling menyengat adalah sosok ulama sekaligus politisi yang sesuka mengutip ayat Quran sana-sini demi kepentingan pribadi dan golongan.
Itu baru pasal watak dan penokohan, dari segi penceritaan, Apartemen Yacobian ini, patut pula diacungi jempol, cocok mewakili karya sastra Mesir kekinian. Kekayaan watak yang diceritakan dalam novel ini adalah satu kelebihannya, mengingat novel ini sangat tipis (356 halaman) dibanding segudang watak utama yang diceritakan. Kekayaan tokoh di dalamnya otomatis melahirkan wajah cerita yang kompleks, rumit, namun kaya deskripsi.
Novel yang terbit di Indonesia oleh penerbit Serambi ini patut untuk dibaca dan dibedah. Mengingat Mesir, sedikit banyaknya mempunyai persamaan dengan negara kita, Indonesia. Walaupun secara georafis terpisah jauh, Indonesia bagian dari kawasan Asia, dan Mesir adalah negara di benua Afrika. Tapi, baik Mesir ataupun Indonesia adalah negara yang berpopulasi muslim terbesar. Begitu juga Mesir dan Indonesia, sama-sama berlandaskan demokrasi, kendati tak sama persis problema dan penerapannya. Satu lagi, Mesir adalah salah satu kiblat cendikiawan muslim dunia—yang dalam hal ini Indonesia masihlah baru mulai mencoba mengambil peranan. Berkaca dari karya ini tentulah kita akan bisa memilah-milah kesan dan hikmah apa yang dapat kita pelajari. Terlepas dari apapun maksud sang pengarang menulis novel ini, terlepas dari sedikit kontroversinya, sebuah novel sastra bisa menjadi bahan pembanding atas kondisi sosial Indonesia—yang barangkali tak jauh berbeda sebagaimana yang diceritakan dalam novel bersangkutan.
Kemiskinan, radikalisme, penyimpangan seksual, dan seks bebas, adalah tema-tema mayor novel ini. Semangat moralnya mungkin saja membumi, kendati konteks sosialnya berbeda bagi tiap negara pembacanya. Itu tidaklah menjadi penghalang yang berarti. Pembaca yang baik, tentu bisa mengadaptasi nilai-nilai sebuah sastra, dari manapun sastra itu berasal. Jangankan sastra dari Mesir, karya sastra yang ditulis dan berlatarbelakang orang eskimo pun, kalau ada pantas juga ditejemahkan. Asalkan karya itu bagus.
Buku ini sendiri mendapat predikat International Best Seller, dicetak dan diterbitkan di berbagai negara dengan komersialitas yang bagus tentunya. Tentu saja, hal ini menjadi petimbangan juga untuk kita (yang belum) membaca dan memilikinya. Sebuah karya yang bagus tentu sangat sayang jika dilewatkan begitu saja. Khusus untuk Serambi—penerbit yang banyak menerjemahkan banyak buku best seller seluruh dunia—situasi seperti ini sangatlah mengkondusifkan kesehatan perbukuan nasional. Semakin banyak buku yang diterjemahkan, semakin baik. Semoga ke depannya, Serambi lebih banyak lagi menterjemahkan buku-buku yang bagus. Tidak hanya buku sastra, semoga buku-buku sains dan tema-tema yang lain juga lebih banyak lagi beredar di toko-toko buku.
Just that’s…

Zamroni Rangkayu Itam

*Tulisan di atas sebelumnya dimuat di weblog palantakayu dengan titel yang sama….

info:

Judul  : Apartemen Yacobian (diterjemahkan dari ‘Imarat Ya’qubyan), Pengarang : Alaa Al-Aswani, Penerjemah : Anis Masduki, Penerbit : Serambi-Jakarta-cetakan I-2008, Halaman : 359 halaman

Read Full Post »