Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Fyodor Dostoevsky’

Sastra klasik bukanlah sebuah genre, melainkan kategorisasi terhadap suatu karya terbaik yang pernah ditulis di suatu masa dan tempat. Setidaknya itu kata Anton Kurnia—penerjemah beberapa cerpen Fyodor Dostoevsky yang sebentar lagi akan saya kilas.

Dan pastinya Fyodor Doestoevsky adalah pengarang besar yang telah mendapat pengakuan Dunia. Karya-karyanya telah menjadi “sesuatu” yang klasik. Bagi saya, bisa menikmati karya Doestoevsky adalah anugerah. Mencari buah pena pengarang Russia (yang sudah diterjemah) yang satu ini memang susah. Setidaknya ini pengalaman pribadi saya yang belum banyak punya koneksi sesama penggemar sastra. Tak heranlah jika pada suatu kesempatan yang mujur saya bisa mendapatkan buku kumpulan cerpen sastrawan besar tersebut.

Kumpulan cerpen yang saya maksud adalah Maling yang Jujur. Cerpen-cerpen tersebut diterjemahkan oleh Anton Kurnia, diterbitkan oleh Jembar Publishing. Terus terang saya baru tahu kalau ada penerbit yang bernama Jembar Publishing. Mungkin saja itu penerbit kecil. Mungkin. Bisa saya nilai dari segi kualitas cetakan dan layout bukunya. Sampulnya pun tak menarik perhatian. Padahal yang diterbitkan tersebut adalah karya sang maestro sastra. Tapi benar kata orang bijak; jangan nilai buku dari sampulnya. Ini saya alami betul. Kekurangbagusan buku dari segi tampilan fisik, dibayar lunas oleh kualitas isi dan nilai sastrawi yang ada di dalamnya. Salut buat Anton Kurnia yang telah menerjemahkan karya tersebut dengan amat baik.

Cuma tiga cerpen yang terangkum dalam antologi pendek nan tipis ini;  Maling yang Jujur, Pohon Natal dan Sebuah Pernikahan, dan Petani Marey.  Dalam tulisan ini saya hanya mengkilas satu cerpen saja, yakni Petani Marey. Hanya satu kilasan bukan berarti dua cerpen lagi tidak bagus. Hanya saja Petani Marey yang menjadi favorit saya. Cerpen yang satu ini terus terang begitu berkesan bagi saya. Terlalu mempesona malah. Hal ini lantaran cerpen tersebut menyentuh sisi-sisi emosional setiap orang. Tak terkecuali saya tentunya!

Petani Marey berkisah tentang sepenggal ingatan. Sepotong memori. Bisa juga kita sebut sebagai sekilas kenangan. Setiap manusia tentu punya kenangan, memori, ataupun ingatan. Itulah kenapa cerpen ini berkesan bagi saya.

Cerpen ini bercerita tentang seorang tapol yang mendekam di penjara. Bukan duka nestapa seorang tahanan yang tersaji, tapi sebuah ingatan yang—tiba-tiba berkelebat dan hinggap di memori sang tapol. Kenangan itu adalah sepenggal masa dia di waktu kanak-kanak dulu yang—tak terpikirkan olehnya sebelumnya. Penggalan kenangan itu sebenarnya singkat saja. Kenangan tentang kelembutan seorang petani desa. Kehangatan sang petani yang hanya sekejap yang—tak ia ingat semasa ia berstatus sebagai manusia bebas. Saat ia berada di penjara, setelah lebih 20 tahun kejadian, sang tapol tiba-tiba saja menemukan lorong ingatannya bersama sang petani. Dan, setelah lewat 20 tahun itu, ia seperti merasakan kembali kelembutan dan kehangatan petani yang ramah itu. Ia ingat semuanya dengan detail tanpa satu momen pun terlewat. Di dalam kesunyian kurungan jeruji besi ia merasakan kejernihan. Ia merasakan kebebasan lintaswaktu melalui sebuah lorong ingatannya. Ia sejenak terlempar ke masa lalu. Dan seolah-olah ia merasakan kembali pengalamannya.

Memang Petani Marey ini cerita tentang penggalan ingatan. Kenangan singkat yang begitu berbekas bagi sang tokoh. Saya rasa kita semua pernah merasakan seperti yang dirasakan tokoh cerpen Petani Marey tersebut. Adakalanya di selintas masa, “sang Kenangan” membawa kita kembali menyusuri lorong-lorongnya.

Bukan begitu?

Wassalam

Zamroni Ibrahim

Judul  : Maling yang Jujur (diterjemahkan dari Great Short Stories from Around the World (Golden Books, Kuala Lumpur : 1995), Penerjemah : Anton Kurnia, Penerbit : Jembar Publishing-Bandung-cetakan II-2008

Read Full Post »