Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Kilasastra’

Bagi yang pertama kali mengenal sosok (alm) Kuntowijoyo sebagai sejarawan barangkali imej ahli sejarahlah yang lebih melekat padanya, namun bagi yang pertama kali mengenal beliau sebagai sosok sastrawan, maka imej sastralah yang lebih identik dengan beliau. Dan, saya beruntung mengenal sosok sastrawan yang satu ini melalui karya sastranya.

Karya sastra Kuntowijoyo yang pertama saya baca adalah Kotbah di Atas Bukit (Novel). Disamping itu, tak terhitung berapa banyak cerpen beliau yang telah saya baca. Cerpen-cerpen Kuntowijoyo saya baca salah satunya melalui antologi Dilarang Mencintai Bunga-bunga.

Ada 10 cerpen yang terangkum dalam antologi tersebut. Walau hanya 10 cerpen, antologi tersebut lumayan tebal untuk ukuran antologi cerpen. Maklum saja, dalam banyak cerpennya Kuntowijoyo selalu suka berpanjang-panjang. Jarang ada cerpennya yang pendek.

Jika ditilik dari segi bagus tidaknya antologi ini, saya rasa agak relatiflah. Wajar saja, tak mudah juga mendefinisikan bagaimana sastra yang bagus itu. Apalagi saya bukan seorang kritikus sastra, hanya sebatas penikmat dan pencinta sastra saja. Sangat lumrah saya rasa jika patokan bagi orang seperti saya bahwa sastra dinilai dari segi selera individu belaka.

Antologi Dilarang Mencintai Bunga-bunga ini lumayan bagus cerpen-cerpennya. Hanya saja ada dua cerpen favorit saya; Sepotong Kayu untuk Tuhan, dan Burung Kecil Bersarang di Pohon.

Cerpen Sepotong Kayu untuk Tuhan adalah kisah tentang religiositas, kalau boleh saya katakan demikian. Cerpen berawal dari seorang tua yang berniat menyumbang pembangunan surau di kampungnya. Masyarakat kampung semua menyumbang. Ada yang menyumbang uang, semen, genteng, pasir, batu, dsb. Si Tua ini tentu tak mau ketinggalan. Hanya saja ia tak mau ada orang yang tahu kalau ia menyumbang. Maka setelah berpikir masak-masak, ia memutuskan menyumbang kayu nangka besar yang telah tua. Segala sesuatunya berjalan lancar, hinggalah saat ia menambatkan kayu tersebut malam-malam di pinggiran sungai dekat surau yang akan dibangun. Di batang nangka tersebut tertera tulisan dari arang kayu; SEPOTONG KAYU UNTUK TUHAN. Namun malang, saat paginya ketika ia menjenguk kayu yang ditambatnya semalam sudah tak ada. Rupanya banjir tengah malam tadi telah menghanyutkan kayunya.

Cerpen ini berkesan bagi saya karena sarat pertanyaan makna. Niat pak tua itu sangat baik, menyumbang pembangunan surau. Tapi, kayu yang diniatkan hilang, hanyut dalam banjir. Lantas apakah sampai nilai kebajikan kepadanya dari Tuhan?

Secara kasat mata jelas ia gagal menyumbang. Surau dibangun tanpa ada unsur bantuan darinya. Sebab, kayunya sudah hanyut. Kayunya sudah hilang. Lantas, apakah karena kayunya hilang niat baiknya tidak kesampaian?

“…Tidak, tak ada yang hilang,” kata lelaki tua itu.

….Lelaki tua itu berdiri sejenak lagi. Sampai kepadaMukah, Tuhan?

Sedangkan cerpen Burung Kecil Bersarang di Pohon berkisah tentang seorang guru besar ilmu Tauhid sebuah universitas. Cerita berawal dari perjalanan sang tokoh menuju mesjid untuk menuanaikan salat jumat. Kebetulan pula ia yang menjadi khatib sekaligus imam di kesempatan jumat itu. Di perjalannannya menuju mesjid ia melewati sebuah pasar yang (selalu) hiruk-pikuk, seolah tak peduli bahwa hari itu hari jumat. Di jalan pasar itulah pikiran sang guru besar ilmu Tauhid tersebut berkecamuk. Pikirannya dipenuhi prasangka buruk kepada para pedagang. Bagaimana mungkin bisa disebut beragama mereka (para pedagang) jika pada hari jumat saja tidak bisa memenuhi panggilan Tuhan. Untuk beberapa saat pikirannya terbenam apriori terhadap kelakuan para pedagang yang tak mengindahkan hari mulia tersebut. Kutukan dan rutukan menyumbat pikirannya. Sang guru bukannya tidak berusaha mencari alasan logis untuk setidaknya agak memihak kondisi pedagang yang tak bisa meninggalkan dagangannya untuk salat jumat. Namun seiring itu pula sikap negatif muncul lebih kuat. Kesimpulannya, orang pasar tersebut tak tahu agama, dan mereka harus diberi peringatan. Namun, tak lama kemudian di sisi lain, perhatiannya teralih kepada seorang bocah yang sedang menangis karena tidak bisa mengambil sarang burung di pohon.  Entah kenapa hatinya tertarik mendekati bocah malang itu. Tanpa ia sadari ia telah berlama-lama dengan sang bocah—hanya untuk menolong bocah tersebut mengambil sarang burung sekaligus menangkap (menjerat) induk burung.

Pertemuan sang guru besar dengan bocah tersebut melemparkannya ke ingatan masa lalu. Sejenak ia merasa seperti kanak-kanak lagi. Bersama sang bocah itu pula ia seperti menemukan lorong waktu. Ia kembali merasakan masa kanaknya yang bahagia. Hanya satu yang tak ia ingat. Hari itu hari jumat. Dan ia telah telat. Sesampai di mesjid para jemaah sudah berhamburan keluar. Ia telat total. Mata tajam para jemaah menusuk tepat di matanya. Yang intinya; kenapa ia bisa begitu terlambat. Segera ia merasa mata-mata tersebut menghukum dan mengadilinya. Ia seorang guru besar. Orang terpandang karena ilmunya yang dalam. Tapi apakah pantas orang seperti itu bisa telat jumaatan. Pas giliran jadi khatib dan imam lagi!

Sang guru besar itu seperti menelan sendiri pikiran apriorinya terhadap orang pasar  tadi. Bagaimanapun, tadi, ia telah menghakimi orang pasar yang tak tahu agama karena tidak segera berjumaatan. Dan kini, para jemaahnya, lewat mata mereka, menghukum keterlambatannya.

Kejadian tersebut membuat sang guru besar memutar ulang semua kejadian barusan. Ia berusaha mencari jawaban logis secara agamawi atas kejadian yang menimpanya. Dan, ia mendapatkannya….

Demikianlah sedikit kilasan antologi Dilarang Mencintai Bunga-bunga ini. Semoga ada manfaatnya…

Zamroni Ibrahim

Judul  : Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (Sebuah Antogi), Pengarang : Kuntowijoyo, Penerbit : Pustaka Firdausa-Jakarta-cetakan III-1996, Halaman : 200 halaman

Advertisements

Read Full Post »