Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta’

Dia orang tua yang kesepian. Di sisa-sisa usianya yang kian beranjak renta, ia memilih menyepi ke hutan dengan ditemani setumpak buku roman picisan. Keheningan, suara-suara alami kehidupan yang damai, itulah yang ia cari. Ia memang mendapatkan apa yang ia cari-cari. Tapi itu tak lama. Kedamaiannya terusik oleh harimau yang kalap dan marah. Satu persatu warga tewas di ujung kuku harimau  kumbang yang cerdik itu. Kebodohan para pemburu dan penambang yang telah merusak habitat harimau memaksa si Tua mengambil peranan karena—memang hanya ia yang bisa diharapkan oleh penduduk. Masa muda yang ia habiskan bersama orang Indian serta paham banyak tindak tanduk binatang buas menjadikannya berkualifikasi menangani “kasus” tersebut.

Itulah sepetik gambaran novel Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta karangan seorang penulis Chile, Luis Sepulveda.

Apa yang menarik dari buah pena pengarang Amerika Latin yang satu ini? Kalau kita melihat dari sisi subjek sang pengarang, jelas karya ini menarik. Sepulveda, sekedar diketahui, adalah pengarang buangan rezim Pinochet Chile. Secara personalitas pengarang, karya seorang pengarang pengasingan selalu menghadirkan nuansa istimewa. Tapi—bagi saya—karya ini mempunyai beberapa sisi keistimewaan;

Pertama, isu lingkungan. Penebangan liar dan penggundulan hutan yang menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem alam. Harimau yang terdesak akibat habitat mereka dirusak manusia melahirkan masalah baru bagi penduduk.

Kedua, isu kedudukan masyarakat pribumi asli. Suku Indian adalah pribumi di benua Amerika. Namun kian lama mereka kian terdesak oleh para pendatang. orang Indian yang terbiasa menyatu dengan alam kini menghadapi permasalahan pelik. Perbedaan kultur mereka dengan pendatang melahirkan gap sosial. Pendatang yang tak tahu diri bisanya hanya merusak dan mengeksploitasi hutan. Hal ini terasa menyakitkan bagi mereka, sebab hutan adalah rumah mereka yang nyaman.

Ketiga, pelukisan kata-kata Sepulveda yang menawan. Membaca novel yang satu ini terasa mengasyikkan. Disamping tidak terlalu tebal, hanya 116 halaman (edisi terjemahan Indonesia), karakter yang ditampilkan pengarang terasa hidup. Kita seolah terbawa ke alam petualangan balantara Amazon yang eksotis. Di samping itu, Sepulveda tampaknya sangat pandai menyelipkan humor segar di setiap lembarnya.

Novel Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta juga karya tentang pergulatan batin. Pak Tua—Antonio Jose Bolivar namanya—si tokoh utama novel ini, merupakan representasi yang tepat. Separuh hidupnya yang ia habiskan bersama orang Indian di hutan terasa menyesakkan manakala dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan “peradaban” terus merangsek menembus tebalnya hutan. Semakin lama semakin dalam. Faktor ladang minyaklah, karena tambang emaslah, ataupun hanya sekedar perburuan binatang. Saat itulah pak Tua perlahan tapi pasti menyaksikan hutan kian lama kian memudar.

Dalam novel ini memang pak Tua adalah solusi bagi harimau yang kalap. Pengalamannya dengan hutan dan binatang buas mendapuknya menjadi harapan orang banyak. Dan benar saja, pilihan penduduk memang tepat. Pak Tua lebih cerdik dari harimau yang kalap itu. Di ujung revolvernya harimau tersebut meregang nyawa. Satu masalah besar terselesaikan dengan gemilang. Tapi kegemilangan tersebut melahirkan kegundahan. Ia telah menjadi pembunuh bagi binatang yang mempertahankan hak habitatnya. Secara moral ia malu. Malu pada dirinya sendiri dan binatang malang itu. Di sisa hidupnya, gundah dan malu mati-matian ia coba tutup secara eskapis—yakni menghabiskan waktu dengan membaca roman picisan yang isinya selalu tentang segudang CINTA.

Zamroni Ibrahim

kilas info:

Judul  : Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta (diterjemahkan dari Un viejo que leia historias de amor (Tusquets Editores, Barcelona), Penerjemah :Ronny Agustinus, Penerbit : Marjin Kiri-Tangerang-cetakan I-2005

Advertisements

Read Full Post »