Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Putu Wijaya’

Bagaimana rasanya memasuki dunia asing yang benar-benar lain dari pengalaman dunia sekitar kita sebelumnya? Itulah yang dinarasikan oleh Byarpet-nya Putu Wijaya. Menjejal kata demi kata yang ternukil dalam novel Byarpet seolah memasuki kisah keterasingan. Seperti apa persisnya keterasingan yang digambarkan oleh Putu Wijaya? Bagi kita yang sering terbelit dengan pertanyaan seputar identitas diri, akan paham keterasingan macam apa yang ada dalam Byarpet.

Kisah bermula dari tokoh utama yang melakukan perjalanan ke Jakarta untuk menemui seorang teman. Namun sayang, di pemberhentian bus pertama, sang tokoh kehilangan dompet berikut catatan alamat temannya di Jakarta. Tidak hanya sebatas itu malah, bahkan KTP dan nama teman yang akan dikunjungi pun ia lupa. Lupakan pertanyaan bagaimana mungkin si tokoh utama bisa lupa nama orang yang akan ia kunjungi. Sebab, rangkaian perjalanan dan pengalaman si tokoh selama di Jakarta jauh lebih penting untuk sebuah renungan pertanyaan.

Tanpa KTP dan hanya dengan sedikit sisa uang di tangan, maka bermula-lah petualang tokoh Byarpet ini di Jakarta. Satu demi satu tingkah polah Jakarta tak luput dari pengamatannya. Sebagai orang yang datang dari kota kecil pedalaman, Jakarta membuatnya syok. Orang-orang Jakarta, lingkungan sosial Jakarta, senyum orang Jakarta, semua terasa sangat lain di matanya. Di selintas mata dan benaknya berkelebat pikiran tentang survival. Ya, ketahanan untuk terus survive di rimba Jakarta telah menuntut penghuninya bersikap dan bertindak layaknya di rimba.

Perjalanan sang tokoh di Jakarta termasuk spektakuler. Bagaimana tidak, tanpa arah dan tujuan dia berani mengarungi Jakarta mencari orang yang dia sendiri tak ingat. Walaupun dengan mati-matian dia telah berusaha mengingat, tetap saja sosok yang akan dia temui itu terasa kian jauh dan terbenam dari ingatannya. Dalam suasana yang tidak menentu itulah sang tokoh tiba-tiba melihat photo kenalan lamanya di koran, Marno. Merasa mendapat sebuah keajaiban, apalagi setelah ia tahu temannya Marno tersebut tinggal di Jakarta, dengan bantuan polisi ia beranjak menuju rumah temannya tersebut. Tapi ternyata apa yang ia dapati? Pergolatan batin. Bagaimana tidak, Marno yang ia kenal di kota tempat tinggalnya, ternyata orang kaya dan penting di Jakarta. Tak pernah tahu ia selama ini kalau Marno adalah seorang konglomerat. Dulu, semasa ia menganggap Marno sebagai orang kebanyakan seperti dirinya, mereka bisa santai dan lepas dalam setiap obrolan apapun tanpa ada jarak. Tanpa rasa kikuk. Tak ada rasa superior dan inferior di antara mereka. Tapi, setelah kini ia tahu Marno orang gede, akankah segala kehangatan yang mereka lalui dulu sebagai dua orang bersahabat akan bisa tetap berlaku? Mula-mula sang tokoh ini meragu, akankah dia menamu ke rumah istana Marno atau tidak, tapi setelah dipikir-pikir dia lebih memilih untuk menunggu saja dulu di depan gerbang rumah Marno. Sebab, kata orang yang tahu kebiasaan Marno, sebentar lagi mobilnya akan datang masuk ke pekarangan rumah.

Setelah menunggu agak lama, benar saja, mobil Marno yang diakrabi betul oleh abang becak yang mengantarnya tampak muncul di tikungan jalan dekat mereka. Apa yang terjadi? Dari luar si tokoh bisa melihat bahwa benar itu Marno yang ada di dalam mobil, sedang bicara dengan koleganya. Sudut pandang mereka bertemu. Sayang, si tokoh yang yakin itu Marno merasa asing dengan pandangan marno yang ia kenal sebelumnya. Sudut mata mereka berlalu seiring mobil masuk pekarangan. Si tokoh mematung di luar seolah keyakinannya kini sedang berbalik, bahwa yang ia lihat bukanlah Marno. Sekali lagi Marno melihat dari sudut matanya ke arah sang tokoh utama cerita. Pandangan mereka kembali bertemu. Kembali, sang tokoh merasa mata yang bertumbuk dengan matanya sangat asing. Lain sekali, seolah tak pernah tahu mata itu sebelumnya. Di sini, sang tokoh merasa ada sesuatu yang aneh dan lain di Jakarta.

Beranjak dari Marno yang tidak jadi ia temui. Sang tokoh kembali bergelut dengan nama teman yang akan ia kunjungi semula. Tetap tidak berhasil dia mengingat. Akhirnya setelah menimbang-nimbang, ia memutuskan untuk kembali saja ke kota halamannya, setelah mengalami banyak perasaan aneh tentang Jakarta dengan seluruh isinya. Keputusan yang ia ambil adalah jalan terbaik. Bagaimana mungkin bisa terus bertahan di Jakarta yang serba lain di matanya sedangkan tujuan sendiri ia tidak jelas.

Cerita lalu mengalir seiring dengan kepulangan sang tokoh ke kota kecilnya. Kembali ia mencoba mengingat nama yang tadinya ingin ia tuju di Jakarta. Bemacam nama ia coba seluncurkan dari mulutnya. Kroso, Kromo, Parno, adalah sederet nama yang ia desiskan sembari berharap ada jembatan pengingat tiba-tiba meloncat dai benaknya. Tapi, masih saja belum berhasil. Hingga pada sebuah momen tak terduga tiba-tiba nama “Kropos” hinggap begitu saja di kepalanya. Ia ingat nama Kropos. Itulah nama yang ingin dia cari di Jakarta. Tapi, semuanya telah terlambat, sebab nama itu lekat di benaknya saat ia sampai di kota tempat ia tinggal. Semua sudah tidak ada gunanya lagi…

Byarpet ditutup saat sang tokoh turun dari bus dan menginjakkan kakinya ke tanah, lantas tiba-tiba seseorang memanggil dengan keras, “Kropos!”. Pada saat itu sang tokoh menoleh—dan merasa dialah yang dipanggil. Pada nyatanya, suara itu memang memanggil namanya, si tokoh Byarpet ini.
****
Inilah kejutan dari Putu Wijaya lewat Byarpet-nya. Nama yang ingin si tokoh cari di Jakarta adalah dia sendiri. Seolah perjalanan sang toko cerita ke Jakarta menjadi semacam pencarian identitas yang tak kunjung diketahui. Dan di Jakarta, memang ia tidak menemui Kropos (atau si tokoh itu sendiri), tapi ia kembali mengenal dirinya setelah sampai di kota tempatnya tinggal…

Byarpet-nya Putu Wijaya ini memang terbuka penafsirannya bagi siapa pun yang membacanya. Boleh jadi setiap kepala yang membaca Byarpet ini memperoleh kesan berbeda setelah halaman terakhir ditutup. Apa pun maknanya Byarpet, bagi saya, karya ini adalah sebuah cermin jernih. Banyak detail cerita yang digambarkan di sini mengarah kepada itu…

Zamroni Rangkayu Itam

*Tulisan di atas sebelumnya dimuat di weblog palantakayu dengan titel yang sama….

sekilas infonya:

Judul : ByarPet, Pengarang : Putu Wijaya, Penerbit : Pustaka Firdaus-Jakarta-cetakan II-2003, Halaman : 152 halaman


Advertisements

Read Full Post »

”Habis masak dia bilang aku gila!” teriak Warno. ”Dia yang sudah gila. Pohon itu sudah ngaco. Tiap malam dia ngomong seenaknya. Dia memfitnah aku main sama janda itu. Dia bilang aku mencuri jemuran orang. Dia kok percaya dengan semua itu. Daripada terus-terusan bikin pusing kepala aku tebang saja. Ya, kan? Daripada ikut gila karena pohon gila!”

Kutipan di atas adalah bagian dari novel Kroco karya Putu Wijaya. Saya tambahkan satu lagi kutipan;

”Tiba-tiba dia menyuruhku mengambil kapak, lalu aku ambil kapak ke rumah. Setelah aku mengambil kapak dia bilang, ayo Warno sekarang kamu pergi ke bekas juragan kamu dan kapak kepalanya, karena kamu diberhentikan sewenang-wenang. Kapak sekarang kepalanya! Juragan itu orang culas! Kapak saja, katanya. ….Warno, ayo bawa kapak itu ke tempat Bokir, kapak saja kepalanya, dia yang memfitnah kamu sampai kamu dipecat oleh juragan kamu. ….Ayo Warno bawa kapak ke istrimu! Kapak kepalanya! Sebab, dia telah berzina dengan Kresno sebanyak lima kali, di rumah kamu sendiri, di rumah Kresno, di kebon, di pasar, dan di rumah tetangga. Kapak sekarang Warno!…”

Itulah dua paragraf yang termuat dalam Kroco. Novel Kroco bercerita tentang eskapisme. Lewat peran antagonis warga masyarakat akar rumput yang tak berdaya itu, Putu Wijaya dengan piawai menarasikan watak Warno yang diserang ketidakwarasan mental. Dan memang, eskapisme bisa menjadi semacam pelarian kejiwaan. Itulah yang dilakukan Warno dalam Kroco. Menghilangkan beban dengan cara eskapis dari titik pusarannya secara temporer—juga permanen, memang bisa diandalkan. Tidak mudah memang lari kungkungan lingkaran problema. Apalagi permasalahan yang dihadapi adalah sesuatu yang berat yang mengikis kedamaian jiwa. Ketika problema mencapai titik tertingginya, tak mampu lagi dijangkau oleh tangan pendek manusia, eskapisme menjadi jalan alternatif—walau terkadang eskapisme itu sendiri datang tanpa diminta. Eskapisme ada dan hadir saat gejolak batin meledak memburai di pundak manusia yang menanggungnya. Dan, Warno telah mengalaminya!…

Gila, atau kata halusnya kurang waras, adalah salah satu bentuk dari eskapisme. Gila adalah salah satu puncak tertinggi dari pelarian manusia dari realitas yang dihadapinya. Orang normal jelas tak bisa memasuki alam pikiran orang gila. Ketika kegilaan menyerang pusat-pusat kesadaran, tak ada lagi batas antara fakta dan ilusi. Keduanya menyatu padu dalam realitas yang hanya dipahami oleh otak si gila itu sendiri.

Nah! Gila, seperti yang termuat dalam Kroco, telah menjadi pelarian dari peran antagonisnya, Warno. Kendati Warno tetap mengaku sebagai waras, tetap saja orang di sekelilingnya memvonis bahwa Warno telah mengidap penyakit mental. Warno memang butuh pelarian. Bebannya terlalu berat. Dalam Kroco, Warno mengaku bisa bicara dengan pohon. Tiupan angin yang menggerakkan dedaunan, menggetarkan dedahanan, menimbulkan suara-suara yang seolah berbicara—yang mana secara ajaib ditafsirkan sebagai kata oleh simpul-simpul otaknya Warno.

Kroco seolah menyampaikan semacam pesan simbolis bahwa benak, pikiran, dan jiwa, saling berinteraksi. Saling bicara satu sama lain. Sama-sama bahu membahu serta berkelindan dalam realita kehidupan. Pohon, seperti yang dikatakan Warno telah berbicara dengannya, bagi pembaca bolehlah ditafsirkan sebagai simbol media invisible interaksi antara benak, pikiran, dan jiwa Warno itu sendiri. Tiga unsur—benak, jiwa, dan pikiran, memerlukan pelampiasan interaktif. Warno mewakilkan perang ketiganya melalui pohon yang ”berbicara” kepadanya.

Kroco, seperti yang dibualkan Putu Wijaya, mengajak kita menyelami alam gaib-nya benak, pikiran, dan jiwa, dengan segala bentrokan ketiganya….

Zamroni Rangkayu Itam

*Tulisan di atas sebelumnya dimuat di weblog palantakayu dengan titel yang sama….

info buku sekilas:

Judul : Kroco, Pengarang : Putu Wijaya, Penerbit : Pustaka Firdaus-Jakarta-cetakan II-2004, Halaman : 124 Halaman


Read Full Post »