Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Revolusi’

Apa yang ingin disampaikan Pram lewat Bukan Pasarmalam ini? Sebelum saya mengulasnya, saya katakan, kandungan novel tipis tapi berisi tebal ini sesuai untuk untuk setiap zaman. Terlepas dari kapan dan pada zaman apa Pram menulisnya.

Karya Pram yang satu ini, dalam pandangan saya, sarat dengan unsur magis spritual, kendati secara harfiah yang tersurat tidak ada sesuatupun yang menunjukkan hal demikian. Akan tetapi jika ditelisik dari segi yang tersirat, Bukan Pasarmalam menunjukkan seperti yang telah saya katakan tadi.

Bukan Pasarmalam diawali dengan cerita seorang anak yang pulang kampung setelah sekian lama tidak pulang—membezuk ayahnya yang sedang sakit keras. Dalam episode tersebut, di dalam perjalanan lewat kereta api, di kepala sang anak banyak terungkap memori lama tentang masa kecil, masa muda dan tentang pergolakan revolusi serta perjuangan. Di dalam perjalanan, digambarkan bagaimana watak sang anak yang tak lepas dari rasa khawatir, sesal, dan segenap rasa was-was perihal kesehatan bapaknya. Rasa sesal yang terbit dalam diri sang anak oleh karena sebab perikaian masalah keluarga, dan tak kurang juga berakar dari masalah revolusi.

Bukan Pasarmalam juga luahan kekecewaan atas belum lengkapnya kedaulatan negara. Memang secara fisik dan kewilayahan, Indonesia adalah negara yang merdeka dengan demokrasi sebagai landasannya, tapi itu semua belum berhasil mengangkat Indonesia keluar dari jalur kemiskinan, bebas dari korupsi dan segala praktek suap menyuap.

”…Demokrasi sungguh suatu sistem yang indah. Engkau boleh jadi presiden. Engkau boleh memilih pekerjaan yang engkau sukai. Engkau mempunyai hak sama dengan orang-orang lain-nya. Dan demokrasi itu membuat aku tak perlu menyembah dan menundukkan kepala pada presiden atau menteri atau paduka-paduka lainnya. Sungguh—ini pun suatu kemenangan demokrasi. Dan engkau boleh berbuat sekehendak hatimu bila saja masih berada dalam lingkungan batas hukum.Tapi engkau tak punya uang, engkau akan lumpuh tak bisa bergerak. Di negara demokrasi engkau boleh membeli barang yang engkau sukai. Tapi kalau engkau tak punya uang, engkau hanya boleh menonton barang yang engkau ingini itu. Ini juga semacam kemenangan demokrasi”

Dalam Bukan Pasarmalam ini, Pram menggambarkan situasi psikologis sebuah keluarga yang sedang ditimpa musibah—karena sang bapak yang sedang sakit keras. Dengan sangat literer Pram menuangkan kisah pergulatan batin sang anak dengan semua permasalahannya, walau pada akhirnya cerita tersebut ditutup dengan mangkatnya sang bapak ke alam baka. Dan dalam ending-nya, dengan sangat manis Pram menutup Bukan Pasarmalam dengan beberapa rangkaian kalimat;

”…Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang… seperti dunia dalam pasarmalam… Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana…’

Zamroni Ibrahim

*Tulisan di atas sebelumnya dimuat di weblog palantakayu dengan titel yang sama….



Read Full Post »