Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Sastra Hungaria’

Adalah menyenangkan bisa menyelami khazanah bangsa lain. Ada banyak jalan untuk itu, seperti berkunjung langsung—melancong, menonton film dokumenter, tapi mengenal khazanah bangsa lain melalui sastra adalah kenikmatan tersendiri. Kenikmatan yang khusus. Ringan. Tanpa perlu tahu teori macam-macam.

Hal itu pula lah  yang membuat saya tersenyum lebar saat menjumpai sebuah buku bekas di kedai buku loak. Buku tersebut merangkum 10 cerita pendek Hungaria, sebuah negara di Eropa. Kenapa saya begitu senang? Jujur saja, khazanah sastra luar yang ada di negara kita, Indonesia, yang (barangkali) terlalu didominasi oleh sastra negara semacam Inggris, Jerman, dan negara-negara besar Eropa lainnya. Sedangkan Hungaria, nyaris tak terdengar. Hal itu pula lah yang membuat saya tanpa pikir panjang langsung membayar berapa pun harga buku bekas tersebut. Dan, memang saya sedang beruntung, buku tersebut ternyata dijual murah saja. Cuma lima ribu perak. Tak sampai seharga semangkuk bakso. Hahaha!

Buku antologi cerpen Hungaria yang saya katakan tadi bertajuk Sang Mahasiswa dan Sang Wanita. Tema yang termuat dalam antologi ini beragam. Begitu pun nuansa ceritanya. Ada yang satiris, ada juga yang mengandung unsur humor, tak kurang pula yang tragis, kendati ada pula cerita yang romantis. Pokoknya lumayan lengkap. Cukup bagi kita mendapatkan gambaran sastra orang Hungaria.

Antologi yang diterbitkan Pustaka Jaya ini dibuka dengan cerpen Omelette a Woburn, buah pena Deszo Kosztolanyi. Cerpen ini berkisah tentang seorang pemuda yang sedang pulang ke negara asalnya, Hungaria. Sebelum sampai di kota tujuan, Budapest, ia turun di Zurich, sebuah kota di Swiss. Ia turun di Zurich karena tak tahan suasana kereta yang serba tak mengenakkan. Ia berencana mengambil kereta yang yang lebih baik ke kotanya. Ia berada di Zurich ketika malam beranjak larut. Itulah kenapa ia sulit menjumpai kedai makanan sederhana nan murah. Terdorong rasa lapar, pemuda tersebut tanpa sadar masuk ke kedai makanan yang—ternyata tempatnya orang berduit. Sambutan pelayan kedai saja sudah membuatnya kikuk. Bukan apa-apa baginya, uang yang ada di sakunya sangat minim. Hanya cukup sekedar ongkos kereta.

Omelette a Woburn ini bercerita tentang siksaan batin. Kosztolanyi, menurut saya, begitu piawai melukiskan situasi psikologis sang pemuda yang kesasar di kedai borju tersebut. Kosztolanyi menghadirkan sosok pemuda yang begitu tertekan, ketika ia tahu kedai tersebut bukan kelasnya. Apalagi dia sadar, uang yang ada di saku sangat tak memadai. Suasana kedai yang diisi pengunjung berpenampilan wah begitu intimidatif baginya. Terlebih lagi saat dia tahu harga di menu, semuanya berada di atas jumlah keseluruhan uang sakunya. Kecuali menu omelette (telur dadar), menu paling sederhana, tak ada harga tertera di sana. Pilihan pun jatuh pada omellete. Omelette a Woburn, itu nama menu yang ia pilih.

Kendati sang pemuda telah memilih menu yang paling sederhana menurut perkiraannya, tetap saja siksaan batin masih menghantui. Beban pikirannya masih berkisar cukup-tidaknya uang bayar pesanan. Masa menyantap hidangan tak ia lalui dengan nikmat. Pikiran dan batinnya terpusat pada kekhawatiran. Masa menunggu jumlah bon tagihan, baginya bagaikan menunggu ketukan palu hakim menjatuhkan putusan.

Itulah Omelette a Woburn, cerita yang—bagi saya sederhana dari segi ide tapi berjaya melukiskan situasi psikologis sang tokoh.

Selain Omelette a Woburn, antologi ini juga menyajikan cerpen Petualangan Berpakaian Seragam, karya dari Sandor Hungady. Cerpen ini bertutur tentang seorang prajurit rendahan. Cerpen ini berkisah tentang cinta. Cinta yang dimulai tanpa sebuah kejujuran identitas. Prajurit tersebut berkenalan dengan seorang gadis dengan identitas palsu. Maklum, percintaan baginya lebih sering hanya untuk menghabiskan masa muda, tanpa ada komitmen kuat untuk melangkah ke arah yang lebih serius. Tapi, ia tidak bisa mengelak takdir cinta. Percintaannya dengan gadis yang bernama Velma tersebut ternyata melahirkan ketulusan dan keseriusan. Kendati pada akhirnya kisah tersebut hanya tinggal sebatas kenangan bagi sang prajurit. Kisah cinta yang pada akhirnya menebar aroma penyesalan bagi sang prajurit.

Saya rasa cukup itu saja mengenai antologi Sang Mahasiswa dan Sang Wanita ini. Walaupun hanya dua cerpen yang menjadi ulasan singkat saya, bukan berarti cerpen yang lainnya tidak menarik. Harapan saya, semoga dua ulasan cerpen tersebut bisa menjadi pengantar bagi kita semua untuk mengenali khazanah sastra dari negeri nun jauh sana, Hungaria.

Terima kasih!

Zamroni Ibrahim

Judul  : Sang Mahasiswa dan Sang Wanita, Antologi Cerpen Hungaria dari berbagai Sastrawan (dipilih dan diterjemahkan oleh Fuad Hassan dari 44 Hungarian Short Stories),  Penerbit : Pustaka Jaya-Jakarta-cetakan IV-2003, Halaman : 150 halaman

Advertisements

Read Full Post »