Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Sastra Indonesia’

Bagi yang pertama kali mengenal sosok (alm) Kuntowijoyo sebagai sejarawan barangkali imej ahli sejarahlah yang lebih melekat padanya, namun bagi yang pertama kali mengenal beliau sebagai sosok sastrawan, maka imej sastralah yang lebih identik dengan beliau. Dan, saya beruntung mengenal sosok sastrawan yang satu ini melalui karya sastranya.

Karya sastra Kuntowijoyo yang pertama saya baca adalah Kotbah di Atas Bukit (Novel). Disamping itu, tak terhitung berapa banyak cerpen beliau yang telah saya baca. Cerpen-cerpen Kuntowijoyo saya baca salah satunya melalui antologi Dilarang Mencintai Bunga-bunga.

Ada 10 cerpen yang terangkum dalam antologi tersebut. Walau hanya 10 cerpen, antologi tersebut lumayan tebal untuk ukuran antologi cerpen. Maklum saja, dalam banyak cerpennya Kuntowijoyo selalu suka berpanjang-panjang. Jarang ada cerpennya yang pendek.

Jika ditilik dari segi bagus tidaknya antologi ini, saya rasa agak relatiflah. Wajar saja, tak mudah juga mendefinisikan bagaimana sastra yang bagus itu. Apalagi saya bukan seorang kritikus sastra, hanya sebatas penikmat dan pencinta sastra saja. Sangat lumrah saya rasa jika patokan bagi orang seperti saya bahwa sastra dinilai dari segi selera individu belaka.

Antologi Dilarang Mencintai Bunga-bunga ini lumayan bagus cerpen-cerpennya. Hanya saja ada dua cerpen favorit saya; Sepotong Kayu untuk Tuhan, dan Burung Kecil Bersarang di Pohon.

Cerpen Sepotong Kayu untuk Tuhan adalah kisah tentang religiositas, kalau boleh saya katakan demikian. Cerpen berawal dari seorang tua yang berniat menyumbang pembangunan surau di kampungnya. Masyarakat kampung semua menyumbang. Ada yang menyumbang uang, semen, genteng, pasir, batu, dsb. Si Tua ini tentu tak mau ketinggalan. Hanya saja ia tak mau ada orang yang tahu kalau ia menyumbang. Maka setelah berpikir masak-masak, ia memutuskan menyumbang kayu nangka besar yang telah tua. Segala sesuatunya berjalan lancar, hinggalah saat ia menambatkan kayu tersebut malam-malam di pinggiran sungai dekat surau yang akan dibangun. Di batang nangka tersebut tertera tulisan dari arang kayu; SEPOTONG KAYU UNTUK TUHAN. Namun malang, saat paginya ketika ia menjenguk kayu yang ditambatnya semalam sudah tak ada. Rupanya banjir tengah malam tadi telah menghanyutkan kayunya.

Cerpen ini berkesan bagi saya karena sarat pertanyaan makna. Niat pak tua itu sangat baik, menyumbang pembangunan surau. Tapi, kayu yang diniatkan hilang, hanyut dalam banjir. Lantas apakah sampai nilai kebajikan kepadanya dari Tuhan?

Secara kasat mata jelas ia gagal menyumbang. Surau dibangun tanpa ada unsur bantuan darinya. Sebab, kayunya sudah hanyut. Kayunya sudah hilang. Lantas, apakah karena kayunya hilang niat baiknya tidak kesampaian?

“…Tidak, tak ada yang hilang,” kata lelaki tua itu.

….Lelaki tua itu berdiri sejenak lagi. Sampai kepadaMukah, Tuhan?

Sedangkan cerpen Burung Kecil Bersarang di Pohon berkisah tentang seorang guru besar ilmu Tauhid sebuah universitas. Cerita berawal dari perjalanan sang tokoh menuju mesjid untuk menuanaikan salat jumat. Kebetulan pula ia yang menjadi khatib sekaligus imam di kesempatan jumat itu. Di perjalannannya menuju mesjid ia melewati sebuah pasar yang (selalu) hiruk-pikuk, seolah tak peduli bahwa hari itu hari jumat. Di jalan pasar itulah pikiran sang guru besar ilmu Tauhid tersebut berkecamuk. Pikirannya dipenuhi prasangka buruk kepada para pedagang. Bagaimana mungkin bisa disebut beragama mereka (para pedagang) jika pada hari jumat saja tidak bisa memenuhi panggilan Tuhan. Untuk beberapa saat pikirannya terbenam apriori terhadap kelakuan para pedagang yang tak mengindahkan hari mulia tersebut. Kutukan dan rutukan menyumbat pikirannya. Sang guru bukannya tidak berusaha mencari alasan logis untuk setidaknya agak memihak kondisi pedagang yang tak bisa meninggalkan dagangannya untuk salat jumat. Namun seiring itu pula sikap negatif muncul lebih kuat. Kesimpulannya, orang pasar tersebut tak tahu agama, dan mereka harus diberi peringatan. Namun, tak lama kemudian di sisi lain, perhatiannya teralih kepada seorang bocah yang sedang menangis karena tidak bisa mengambil sarang burung di pohon.  Entah kenapa hatinya tertarik mendekati bocah malang itu. Tanpa ia sadari ia telah berlama-lama dengan sang bocah—hanya untuk menolong bocah tersebut mengambil sarang burung sekaligus menangkap (menjerat) induk burung.

Pertemuan sang guru besar dengan bocah tersebut melemparkannya ke ingatan masa lalu. Sejenak ia merasa seperti kanak-kanak lagi. Bersama sang bocah itu pula ia seperti menemukan lorong waktu. Ia kembali merasakan masa kanaknya yang bahagia. Hanya satu yang tak ia ingat. Hari itu hari jumat. Dan ia telah telat. Sesampai di mesjid para jemaah sudah berhamburan keluar. Ia telat total. Mata tajam para jemaah menusuk tepat di matanya. Yang intinya; kenapa ia bisa begitu terlambat. Segera ia merasa mata-mata tersebut menghukum dan mengadilinya. Ia seorang guru besar. Orang terpandang karena ilmunya yang dalam. Tapi apakah pantas orang seperti itu bisa telat jumaatan. Pas giliran jadi khatib dan imam lagi!

Sang guru besar itu seperti menelan sendiri pikiran apriorinya terhadap orang pasar  tadi. Bagaimanapun, tadi, ia telah menghakimi orang pasar yang tak tahu agama karena tidak segera berjumaatan. Dan kini, para jemaahnya, lewat mata mereka, menghukum keterlambatannya.

Kejadian tersebut membuat sang guru besar memutar ulang semua kejadian barusan. Ia berusaha mencari jawaban logis secara agamawi atas kejadian yang menimpanya. Dan, ia mendapatkannya….

Demikianlah sedikit kilasan antologi Dilarang Mencintai Bunga-bunga ini. Semoga ada manfaatnya…

Zamroni Ibrahim

Judul  : Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (Sebuah Antogi), Pengarang : Kuntowijoyo, Penerbit : Pustaka Firdausa-Jakarta-cetakan III-1996, Halaman : 200 halaman

Advertisements

Read Full Post »

Dari beberapa karya sastra almarhum buya Hamka, sebutlah seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, Di Bawah Lindungan Kakbah, dan Merantau Ke Deli, yang terakhir inilah yang paling saya sukai. Barangkali saya tidak berlebihan dan berkata asal-asalan, sebab dalam kata pengantar cetakan ketujuh penerbit Bulan Bintang, sang Buya mengatakan bahwa Merantau Ke Deli adalah karya yang paling memuaskannya.
Pada dasarnya Merantau Ke Deli ini adalah karya beliau yang dimuat secara bersambung pada pertengahan tahun 1939-an di majalah Pedoman Masyarakat seperti karya-karya sastra beliau sebelumnya. Dicetak dalam bentuk buku pada tahun 1941 oleh penerbit Cerdas Medan. Karya ini memang teramat istimewa bagi saya generasi muda Indonesia. Merantau Ke Deli ibarat pita rekaman kaset yang menggambarkan sebuah episode situasi kehidupan bangsa Indonesia masa itu, khususnya Deli. Kenapa saya mengatakan demikian? Melalui konteks Merantau Ke Deli, kita bisa melihat bagaimana generasi baru Indonesia dibentuk. Kenapa demikian? Hal ini tentu tidak lepas dari peranan dan kedudukan Deli itu sendiri di mata orang senusantara pada masanya. Tanah Deli sebelum novel bersangkutan ditulis memang telah menjadi semacam bandar atau kota besar yang terbuka bagi pengusaha besar asing untuk menggembangkan karet, tembakau dan kelapa sawit. Dampak dari itu semua sangat jelas dengan banyaknya orang yang berdatangan dari seluruh nusantara untuk menjadi kuli kontrak di perkebunan.
Novel ini menceritakan semacam “benturan budaya” kalau boleh saya katakan demikian. Di sini diceritakan tentang Lemann, seorang perantauan Minangkabau yang mengadu nasib di tanah Deli sebagai pedagang kaki lima. Dalam novel ini kembali sang Buya mengambil tokoh dari latar budaya yang sangat diakrabinya, maklumlah karena buya Hamka adalah orang Minang alias urang awak. Pertemuan Leman dengan Poniem (Baca : Poniyem, pen), seorang perempuan Jawa, berawal dari aktivitas biasa, antara penjual dan pembeli, karena memang Leman berjualan di dekat perkebunan tempat Poniem bekerja sebagai kuli kontrak. Leman yang masih single merasa tertarik kepada Poniem yang digambarkan sebagai perempuan lumayan cantik. Tapi hasrat Leman untuk menjalin hubungan serius sampai tahap rumah tangga bukannya tanpa halangan. Poniem adalah isteri simpanan atau piaran mandor besar perkebunan. Tapi justru itu yang menjadi senjata Leman untuk meraih simpati dari Poniem.
“Jadi engkau tidak dinikahinya?”
“Belum, saya belum dinikahinya”
“Jadi bagaimana pertimbangan Poniem, tinggal di luar nikah dengan seorang lelaki yang umurnya lebih tua daripada engkau?”
Itulah cuplikan sebuah dialog antara Leman dan Poniem yang tertera di halaman 17. Keadaan Poniem yang hidup luar nikah membuat rayuan-rayuan Leman diselingi alasan logis kenapa Poniem harus meninggalkan kedudukannya sebagai seorang isteri ”piaraan”. Tidak mudah memang bagi Leman untuk meyakinkan Poniem utuk meninggalkan mandor besar, sebab banyak pengalaman wanita-wanita seperti Poniem yang tertipu. Awalnya diajak kawin secara sah di hadapan penghulu, tapi setelah barang-barang emas si wanita habis, ia ditinggalkan begitu saja. Walaupun pada akhirnya hasrat Leman untuk menikah dengan Poniem terwujud, namun itu bukan berarti mereka berdua tidak mengalami berbagai macam ujian.
Ujian pertama adalah ketika mereka harus melarikan diri ke Medan untuk menikah secara resmi di hadapan penghulu. Tentu di samping itu juga untuk menghindarkan diri dari kejaran suami kumpul kebonya Poniem, sebab ia membawa seluruh barang emas yang telah diberikan kepadanya, kendati pada akhirnya mereka berdua kembali lagi ke Deli setelah mendengar kabar bahwa mandor besar telah pulang ke tanah Jawa. Di Deli itulah mereka memulai hidup baru dengan cara berdagang kecil-kecilan—dimana perdagangan mereka meraih sukses berkat modal yang diberikan Poniem melalui gadaian barang emasnya.
Lima tahun dalam usia perkawinan mereka tiada ujian-ujian berarti yang menimpa keduanya. Bahkan mereka termasuk pasangan yang berbahagia. Hubungan keduanya aman-aman saja. Secara ekonomi mereka sangatlah berkecukupan, bahkan bisa dikategorikan sebagai orang kaya yang sukses di perantauan. Namun sayang, keluarga mereka tidak dianugrahi buah hati. Ini jugalah yang menghambarkan hubungan mereka berdua. Kabar kesuksesan Leman yang sukses di perantauan setelah beristrikan seorang Jawa yang setia dan pekerja keras akhirnya tersiar luas juga di kampung Leman di ranah Minang. Dapatlah ditebak juga pada akhirnya, banyak orang kampung Leman berduyun-duyun ke Deli sekadar mengadu nasib dengan cara menumpang Leman. Ada yang datang mengaku sebagai kemanakannya atau Leman adalah mamaknya, Leman adalah saudara jauhnya, dan Leman adalah saudara sesukunya, dan bemacam pengakuan-pengakuan lain yang menjengkelkannya. Sebab, ketika dulu is masih miskin, yang hanya berdagang kecil-kecilan, tak ada sesiapapun yang menganggap ia sebagai saudara. Namun situasi ini disambut baik oleh Poniem, sebab ia baru tahu kalau suaminya punya kaum dan sanak famili. Bukan orang yang terbuangkan.
Babak selanjutnya yang sangat menarik adalah ketika Leman dihimbau supaya pulang kampung oleh ninik mamak kampung halamannya. Memang sudah masanya lah Leman untuk pulang kampung. Orang yang sukses di perantauan, khususnya bagi perantau Minang, ada semacam “hutang” yang harus dilunasi kepada kampung. Hidup Minangkabu ditopang oleh adat dan lembaga, seorang anak Minangkabau yang sukses tidak sah rasanya jika hutang kepada kampung itu tidak dibayar. Ini berlaku bagi semua, tak terkecuali bagi Leman. Setelah menimbang-nimbang akhirnya Leman memutuskan memenuhi himbauan ninik mamaknya. Urusan bisnis dan kedainya ia serahkan sepenuhnya kepada anak semangnya yang setia dan berdikasi, Suyono, seorang Jawa.
Hari-hari pertama mereka berdua di kampung Leman teramat menyenangkan, terlebih Leman telah menjadi semacam panutan bagi muda-mudi di kampungnya. Ini tentunya juga berlaku bagi Poniem. Ia bisa mengenal kampung halaman suaminya dengan lebih baik, lebih-lebih lagi ia sendiri disambut begitu baiknya oleh pihak keluarga suaminya. Namun itu tidaklah berlangsung lama bagi keduanya. Sebab, dalam adat Minang, di Rumah Gadang tidak ada kamar bagi anak laki-laki, hanya perempun yang ada hak untuk itu. Anak laki-laki jika ia sudah menikah maka ia akan tinggal di Rumah Gadang milik keluarga isterinya. Rumah Gadang di dalam keluarga Leman telah terisi oleh saudara-saudaranya yang perempuan dan telah bersuami. Ini sangat menyusahkan Leman, jika ia menikah dengan orang Minang, apalagi sekampung, tentu ia bisa tinggal di Rumah Gadang keluarga sang isteri. Tapi sekarang ia beristrikan seorang Jawa, lantas mau dikemanakan Poniem. Itulah barangkali sebabnya tak lama-lama Leman berada di kampungnya.
Di malam terakhir sebelum mereka kembali ke Deli, Leman dipanggil oleh seorang tetua kampung. Serius benar pembicaraan mereka pada malam itu: soal adat. Sebagaimana yang telah dikatakan tadi, setiap anak Minangkabau mempunyai hutang kepada adat lembaga kampung. Hutang itu bukanlah uang dan emas, tapi hutang malu. Seorang anak Minangkabau yang kawin dengan orang di luar orang Minang, dianggap belum lengkap kedudukannya sebagai anak Minang. Secara adat Leman belumlah berhak menyandang gelar Sutan sebagai perlambang seseorang yang telah beristri. Sebab itulah dia disarankan untuk menikah sekali lagi dengan orang yang senegeri dengannya. Dengan itu, hutang Leman kepada negeri terlunasi. Sebab dia kini telah mendirikan adat dan lembaga, sah sebagai anak Minangkabau sejati. Pepatah setinggi-tinginya bangau terbang, ke kubangan jua akhirnya memang lekat di hati Leman. Di dalam situasi sebagai orang berada sekarang memang memungkinkannya untuk kawin dengan orang sekampung, terlebih lagi para tetua itu sendiri yang mencarikannya, seseorang yang cantik, muda, tentunya perawan lagi.
Sesampainya di Deli, anjuran untuk kawin lagi dengan perempuan yang sekampung dari ninik mamaknya benar-benar menyita pertimbangan-pertimbangan Leman. Kalau dia menerima anjuran itu, lantas bagaimana dengan Poniem, akankah Poniem bersedia dimadu? Bukankah itu sebagai bentuk penghianatannya kepada janji-janjinya dahulu? Kalau dia menolak, bukankah dia orang yang berada dalam lingkaran adat dan lembaga, yang harus menjunjung dan mendirikannya dengan baik, sehingga dia sah sebagai seorang anak Minangkabau. Lagi pula, bukankah tidak selamanya badan akan terpancang di perantauan, dan toh, pada akhirnya dia akan kembali juga ke tanah kelahirannya. Pada taraf ini Leman benar-benar mengalami pergolakan jiwa yang hebat yang tidak bisa ia putuskan begitu saja. Banyak masukan-masukan dari teman-teman—yang rata-rata juga berasal dari Minangkabau menasehatinya bahwa perkataan ninik mamaknya memang benar, ia harus kawin lagi dengan perempuan yang sekampung. Kendati ada juga masukan-masukan berbeda dari teman sesama Minang yang telah lama mengubah pandangannya tentang adat, yaitu Bagindo Kayo. Menurut senior seperantauan Leman itu, sebelum memutuskan apakah akan kawin lagi atau tidak, Leman harus menggubah pandangannya tentang perantauan, adat, dan kampung halaman dahulu. Sebab ini penting, begitulah kira-kira kata bagindo Kayo. Jika Leman bertekad menganggap tanah rantaunya adalah tanah hidup matinya, janganlah kiranya Leman kawin lagi, tentang adat dan lembaga di kampung, biarkanlah. Namun, jika Leman merasa bahwa dia harus menggapai dirinya sebagai orang yang beradat dan berlembaga, ada baiknya dia untuk kawin lagi. Sebab, dengan kawin lagi dengan orang senegeri dengannya, Leman akan mempunya keturunan yang bergaris kepada Minangkabau.
Fase kebimbangan Leman ini sangat penting, sebagaimana yang kita ketahui, Minangkabau mengambil sistem Matrilineal, yaitu kesukuan seseorang dipakai dari pihak sang ibu. Kalau pun ada Leman punya anak dengan Poniem, anak itu tidak dipandang sebagai seorang Minangkabau. Otomatis anak tersebut tidak bermamak. Kita tentu tahu, dalam masyarakat Minangkabau yang komunal, seorang mamak (paman si anak dari pihak ibu tentunya, pen.) tidak hanya memikul tanggung-Jawab kepada anak-anaknya, tapi juga memikul beban tanggung jawab kepada kemenakan-kemenakan dari saudara perempuannya. Sehingga di Minang muncul semacam kredo anak dipangku kemenakan dibimbing. Pandangan inilah yang pada akhirnya melekat di hati dan pikiran Lemann : kawin lagi.
Mengenai ninik mamak kampung Leman, sang pengarang, buya Hamka, tampaknya menyindir secara halus pandangan kesukuan Minangkabau, kendati beliau sendiri adalah seorang anak Minangkabau sejati. Kita bisa melihat, bagaimana para ninik mamak itu tampak gembira karena mengetahui Leman dan Poniem belum memiliki anak. Tentu dengan itu mereka akan mudah memasuki dan mempengaruhi Leman supaya kawin lagi dengan wanita sekampung. Dalam pikiran mereka, sangatlah disayangkan jika Leman yang sukses dan kaya di perantauan itu kawin dengan orang yang bukan sekampung. Sebab, jika Leman nanti telah meningal tentu harta kekayaannya tidak akan mengalir ke tanah kelahirannya.
Tidaklah mudah bagi seorang suami memberitahukan bahwa ia akan kawin lagi. Ini berlaku bagi semua laki-laki, tak terkecuali Leman. Walaupun pemberitahuan itu disambut dengan tangisan dan kesedihan yang medalam oleh Poniem. Namun apa mau dikata surat ke kampung yang mengabarkan bahwa Leman setuju untuk kawin lagi telah dikirim. Dan, ia hanya menunggu kedatangan calon istri keduanya saja. Walaupun Poniem rela dan setuju Leman kawin lagi, namun ia juga berharap sang suami nanti akan tetap mencintai dan tidak mencampakkannya, mengingat Poniem adalah sebatang kara di Deli, dan teramat jauh dari tanah kelahirannya.
Kehidupan Leman sebelum dan sesudah beristri dua teramat berbeda. Memang pada awal perkawinannya dengan istri keduanya yang bernama Mariatun itu tampak tiada masalah, karena kedua isterinya berada di rumah terpisah. Itu pun tidak lama, saat Leman memutuskan untuk menyerumahkan Mariatun dengan Poniem, karena alasan perdagangan yang sedang merosot, barulah riak-riak kecil sampai riak-riak besar persaingan kedua isterinya terlihat. Riak pertama, masalah siapa yang tinggal di kamar lantai atas dan bawah saja sudah mengundang nuansa kecemburuan. Memang Poniem diminta pendapatnya, tapi Leman memutuskan bahwa Mariatun yang tinggal di kamar atas dan Poniem di bawah. Kedua, sikap Mariatun yang tidak simpatik, kalau dalam hal memasak Poniem yang super sibuk berkelindan di dapur, tapi giliran menanting hasil masakan ke meja makan, si Mariatunlah yang ambil bagian sambil senyum simpul kepada sang suami yang telah menunggu. Ketiga, masalah siapa yang berhak menunggui kasir kedai mereka. Dalam hal ini si Mariatun tampaknya sangat agresif. Ia paham benar kedudukannya. Sebagai sitri muda, sekampung dan dihantar oleh ninik mamak lagi, sudah barang tentu ia akan mendapat tempat di hati Leman. Dalam pandangannya, madunya, si Poniem tidak lebih dari seorang perempuan yang menumpang di rumah suaminya. Sedangkan bagi Poniem, si Mariatun tak lebih dari perempuan yang tak tahu diri yang “dibeli” oleh duit suaminya. Baginya, Mariatun buta dan tak sadar jika kemajuan bisnis suaminya, Leman, berawal dari barang emasnya. Pada tahap ini perseteruan kedua istri Leman berada pada tahap kritis, karena sudah tersentuh area SARA jika boleh dikatakan demikian.
“Suka hatiku atas harta benda suamiku. Aku diantar ke sini oleh ninik mamakku, engkau babu di sini. Aku akan menolong suamiku berniaga, kami orang sekampung, sehalaman, bukan macam kau!”
Tapi siapa sangka, justru kata itu sang sedang ditunggu-tunggu Poniem sebagai serangan balik.
“Engkau hinakan perempuan Jawa? Mana engkau bisa hidup, mana tanganmu bisa berlilit emas kalau bukan orang Jawa ini, anak sombong! Engkau katakan engkau senegeri dengan suamimu. Ya begitulah perempuan Padang; mata duitan. Dulu ketika suamiku itu melarat di rantau ini, haram kalian hendak ingat kepadanya atau meminta pulang. Seorangpun haram perempuan Padang yang sudi kepadanya, dia seakan-akan terbuang…”
Itulah episode yang sangat kritis bagi keduanya. Walaupun dalam novel itu digambarkan Mariatun benar-benar mati kutu. Tapi simpati Leman kian tercurah kepadanya. Sebaliknya Poniem secara perlahan mulai merasa terasingkan dari suaminya sendiri. Lebih-lebih lagi lingkungan kedai Leman juga banyak dihuni oleh orang Minang, tentu ini menjadi senjata bagi Mariatun untuk menjelekkan-jelekkan Poniem yang telah berkata keterlaluan menghina adat Minangkabau.
Perseteruan kedua istri Leman ibarat bisul besar yang tinggal menunggu pecahnya saja. Sampai tibanya sebuah momen yang kelak akan mengubah arah kehidupan mereka semuanya. Suatu hari ketika kedai mereka menerima pasokan batik baru dari Pekalongan, Mariatun yang dengan seenaknya langsung mengambil sehelai kain yang baru dibuka dari kotak tersebut padahal fakturnya belum lagi diperiksa. Leman bukannya tidak memperingatkan bahwa itu adalah barang dagangan, lebih-lebih lagi barang itu belum diperiksa dengan benar fakturnya. Tapi Mariatun cuek saja. Melihat gelagat itu, Poniem tidak terima, dengan seenaknya juga dia mengambil satu helai kain dari dalam kotak tersebut. Leman marah dan langsung merebut kain tersebut dari Poniem dan mengembalikannya ke dalam kotak. Poniem lagi-lagi jelas tidak bisa terima, secepat kilat dia berlari mengejar Mariatun yang sedang naik ke kamar atas untuk menyimpan kain yang ia ambil barusan. Hasilnya dapat ditebak, tarik menarik akan kain yang baru diambil itu terjadilah sudah yang berakhir dengan pergumulan keduanya. Situasi ini jelas mengundang murka Leman. Dengan kasar dilerainya keduanya. Hal ini tidak menyenangkan Poniem karena cara melerai Leman yang sungguh tidak adil kepadanya dengan cara menedang kaki dan pinggangnya. Untuk ketiga kalinya Poniem tidak terima dengan perlakuan seperti itu, sehingga berujung perang mulut dengan suaminya, Leman. Tapi, itulah akhir dari hubungan mereka, sebab segera pada saat itu Leman langsung menjatuhkan talak tiga sekali kepada Poniem
“Kau boleh pergi dari sini! Kau orang Jawa! Boleh turutkan orang Jawa, boleh kembali ke kebun…, Mulai sekarang saya jatuhkan talak tiga sekali. Pergilah!”
Itulah episode akhir dari hubungan mereka sebagai suami istri. Bagi Poniem, tak terkatakan bagaimana perasaannya. Begitu juga bagi Leman tak tergambarkan bagaimana kosongnya pikiran dia mengingat perkataan yang telah terucap. Talak tiga sekali. Ketika akan meninggalkan kedai dan rumah mereka, Poniem tidak menuntut harta perdagangan mereka dihitung walau jelas ada haknya di dalamnya. Ia hanya mengambil sehelai kain batik yang dipersengeketakannya dengan Mariatun tadi sebagai kenang-kenangan pergaulan mereka. Belum sadar lagi Leman dari bermenungnya, anak semang sekaligus rekannya, Suyono, minta pamit juga. Rupanya kata-kata “Jawa” yang diucapkan Leman kepada Poniem tadi juga mengena di hatinya. Tak heranlah, sebagai orang Jawa, Suyono merasa harus berpamit diri menyusul Poniem yang terbuangkan. Saat itu barulah Leman sadar akan hilangnya dua pangkal keberuntungannya selama ini. Pertama, istri yang setia, kedua anak semang sekaligus rekan yang juga sangat setia. Tinggallah Leman mengucap dan menyesalkan apa yang telah terucap.
Sejak perceraian itu, tidaklah lama Leman berbenam dalam kesedihan dan penyesalan, sebab Mariatun mengandung. Bukankah itu yang telah lama yang ia nanti-nantikan, seorang anak. Dengan adanya anak, lengkaplah sebuah keluarga. Untuk beberapa waktu setelah kelahiran anak mereka terasa aman-aman saja, hanya saja Leman merasakan perdagangannya mulai merosot. Untung yang diperoleh tidak sebesar dulu lagi. Hal ini diperparah dengan adanya kabar di kampung yang meminta Leman untuk membangun sebuah rumah berikut sepetak sawah, sebab kini ia telah memiliki anak, anak perempuan lagi, yang dalam pandangan adat lebih tinggi derajatnya dari laki-laki. Leman menyanggupi permintaan tersebut, namun sayang, Leman tidak kira-kira mengirimkan uang ke kampung, ia memakai uang yang seharusnya untuk modal perdagangan. Tidak sampai di situ saja, karena Mariatun sudah agak lama di rantau, pihak keluarga menyarankan untuk pulang, menjenguk keluarga di kampunglah pastinya. Leman kembali setuju. Namun sangat disayangkan, Leman kembali tidak kira-kira menggunakan uang untuk ongkos pulang. Tentu ongkos yang dimaksud disini bukan semata ongkos bis atau kereta api. Leman membeli bermacam oleh-oleh yang mahal, barang emas istrinya ditambah, ia tidak mau hilang gengsi kalau kejumawaan pulang kampungnya kali ini dengan Mariatun kalah dengan waktu pulang kampung dengan Poniem tempo dulu. Sikap Leman yang tidak kira-kira itu pada akhirnya membuahkan kebangkrutan bagi usahanya nanti di tanah Deli.
Sedangkan kehidupan Poniem setelah perceraiannya dengan Leman terasa begitu menyesakkan baginya. Walaupun menyimpan rasa sakit hati, tapi ia tidak bisa menampik bahwa Lemanlah yang telah mengenalkannya kepada kehidupan yang lebih baik. Melalui Leman dia bisa lepas dari tangan mandor besar. Melalui Leman dia bisa menjadi dirinya seseorang yang lebih baik. Diikuti oleh Suyono, orang satu negeri dengannya, sama-sama dari Jawa, mereka berangkat ke kota Medan. Di sanalah kehidupan baru mereka dimulai dari awal. Mereka bekerja keras dan saling memahami satu sama lain layaknya kakak beradik. Namun hubungan mereka pada akhirnya beranjak ke tahap pernikahan. Memang pernikahan mereka tidaklah dilandasi oleh rasa-rasa cinta gejolak orang muda, tapi lebih kepada keinsafan mereka yang sama-sama pernah mengarungi kehidupan yang serba keras. Tapi, itulah awal peruntungan mereka, usaha mereka yang dirintis lagi dari awal ternyata membuahkan hasil yang gemilang.
Berbeda dengan Poniem dan Suyono, kehidupan Leman dan Mariatun justru sebaliknya. Secara ekonomi mereka sedang terpuruk. Dulu Leman yang punya kedai kini tidak lagi, dan harus kembali lagi ke situasi semula berjualan kecil-kecilan di kali lima dengan mengendarai kereta angin. Leman sadar betul, kalau dulu dengan Poniem—yang sewaktu-waktu harta emas sebagai ganti penyimpan uang bisa digadaikan sebagai tambahan modal, kini tidak lagi. Keluarganya memang punya rumah dan tanah di kampung yang telah ia beli, tapi itu jelas tak bisa digadai, maka sampailah Leman kini berada pada tahap yang menyedihkan. Sehingga pada akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kampung saja.
Poniem dan Suyono, yang telah sukses, pada akhirnya memutuskan untuk mencari rumah di tempat lama mereka, Deli, karena kota Medan bukanlah tempat yang tenang untuk menghabiskan hari-hari tua. Suyono, pada akhirnya berangkat ke Deli mencari tanah dan rumah yang mereka idam-idamkan. Tak disangka di Deli ia bertemu dengan Leman yang kini telah jatuh miskin. Banyaklah obrolan yang mengalir dari keduanya. Leman yang dengan prihatin bagaimana jurang kemiskinan di rantau kini mengerogotinya. Suyono pun begitu, bagaimana susahnya perekonomian pada saat ini. Memang banyak yang mereka bicarakan, tapi satu yang Leman tidak tahu, bahwa Suyono telah kawin dengan Poniem. Sedangkan Suyono entah karena segan atau apa, tidak memberitahu statusnya dengan Poniem. Maka sampailah pada permintaan Leman yang ingin dipertemukan dengan Poniem, sekedar minta maaf sebelum ia kembali ke kampung halamannya. Dan Suyono pun mengabulkannya.
Babak akhir dari novel ini adalah acara maaf-memaafkan antara Leman dan Poniem. Poniem dan Suyono yang telah menghuni rumah barunya di Deli menerima kedatangan Leman dengan tangan terbuka. Saat itulah segala dendam mereka hapuskan, luka terobati. “Kenekatan” Leman yang meminta maaf kepada bekas istrinya memang sungguh ksatria, maaf yang diberikan Poniem sungguh begitu mulia. Tapi khusus bagi Leman, kenekatannya itu sendiri membawa malu yang tidak kepalang tanggung baginya pada akhirnya. Memang minta maaf adalah perbuatan mulia, tapi bagaimana minta maaf kepada janda sendiri, dirumahnya sendiri lagi! Dari sudut pandang lain, ini tentu perbuatan yang hina, apalagi setelah ia tahu Poniem telah bersuamikan Suyono. Tidak cukup itu saja rasa malu yang harus ditanggung Leman, ketika tawaran tulus untuk mengajak kongsi dagang datang dari Suyono dan Poniem. Tentu Leman harus mengesampingkan tawaran itu, walau setulus apapun tawaran itu. Orang yang telah dia hinakan kini menawarkan rasa baik menawarkannya modal dagang. Tak dapat ia terima tawaran itu, tahu dia apa itu rasa harga diri, kendati harus makan tanah di kampungnya, asal tidak menerima uluran modal mereka…
Novel ini ditutup dengan babak perpisahan yang mengharu biru antara Poniem-Suyono dengan Leman-Mariatun. Dendam dan rasa sakit hati yang mengendap di hati mereka telah lepas di hati mereka pada waktu perpisahan itu.
*******
Novel ini memang agak kontroversial, khususnya bagi orang Minangkabau. Setahu saya, saat-saat awal buku ini tersebar, ada banyak kritikan dari para tokoh Minang, karena dianggap menjelek-jelekkan adat Minang, untunglah yang mengarang novel ini adalah buya Hamka, yang tak lain dan tak bukan adalah anak sejati ranah Minang, sehingga kontroversi tersebut menguap begitu saja. Walaupun begitu, dengan menulis sedikit ulasan novel ini, bukan berarti saya menginginkan kontroversi itu bangkit kembali. Sebagai orang yang “dibentuk” oleh alam Minangkabau (saya pernah enam tahun menuntut ilmu di sana, di Bukittinggi) tak ada maksud demikian. Secara pribadi, saya hanya memandang Merantau Ke Deli sebagai panduan bagi saya bagaimana memandang “rantau” itu sendiri. Sebagaimana kata buya Hamka, dari Sabang sampau Merauke, kini kita tidaklah “Merantau” lagi. Sebab, setiap inci dari tanah nusantara Indonesia adalah ibu pertiwi kita, kita memiliki hak untuk memilih dimana kita tinggal dan berada, tentu berikut mencari nafkah. Berkaca dari Merantau Ke Deli, kita tahu bagaimana generasi setelah kita terbentuk dan terbina, yaitu asimilasi. Benar buya Hamka, anak Deli adalah anak dari yang ibunya Jawa tapi bapaknya Minang, ibunya Betawi dan bapaknya Batak, ayahnya Bugis dan ibunya Jambi, begitulah seterusnya…

Zamroni Rangkayu Itam

*Tulisan di atas sebelumnya dimuat di weblog palantakayu dengan titel yang sama….

sekilas info novelnya:

Judul    : Merantau Ke Deli, Pengarang : HAMKA, Penerbit : Bulan Bintang-Jakarta-cetakan VII-1977, Halaman: 153 halaman

Read Full Post »

Bagaimana rasanya memasuki dunia asing yang benar-benar lain dari pengalaman dunia sekitar kita sebelumnya? Itulah yang dinarasikan oleh Byarpet-nya Putu Wijaya. Menjejal kata demi kata yang ternukil dalam novel Byarpet seolah memasuki kisah keterasingan. Seperti apa persisnya keterasingan yang digambarkan oleh Putu Wijaya? Bagi kita yang sering terbelit dengan pertanyaan seputar identitas diri, akan paham keterasingan macam apa yang ada dalam Byarpet.

Kisah bermula dari tokoh utama yang melakukan perjalanan ke Jakarta untuk menemui seorang teman. Namun sayang, di pemberhentian bus pertama, sang tokoh kehilangan dompet berikut catatan alamat temannya di Jakarta. Tidak hanya sebatas itu malah, bahkan KTP dan nama teman yang akan dikunjungi pun ia lupa. Lupakan pertanyaan bagaimana mungkin si tokoh utama bisa lupa nama orang yang akan ia kunjungi. Sebab, rangkaian perjalanan dan pengalaman si tokoh selama di Jakarta jauh lebih penting untuk sebuah renungan pertanyaan.

Tanpa KTP dan hanya dengan sedikit sisa uang di tangan, maka bermula-lah petualang tokoh Byarpet ini di Jakarta. Satu demi satu tingkah polah Jakarta tak luput dari pengamatannya. Sebagai orang yang datang dari kota kecil pedalaman, Jakarta membuatnya syok. Orang-orang Jakarta, lingkungan sosial Jakarta, senyum orang Jakarta, semua terasa sangat lain di matanya. Di selintas mata dan benaknya berkelebat pikiran tentang survival. Ya, ketahanan untuk terus survive di rimba Jakarta telah menuntut penghuninya bersikap dan bertindak layaknya di rimba.

Perjalanan sang tokoh di Jakarta termasuk spektakuler. Bagaimana tidak, tanpa arah dan tujuan dia berani mengarungi Jakarta mencari orang yang dia sendiri tak ingat. Walaupun dengan mati-matian dia telah berusaha mengingat, tetap saja sosok yang akan dia temui itu terasa kian jauh dan terbenam dari ingatannya. Dalam suasana yang tidak menentu itulah sang tokoh tiba-tiba melihat photo kenalan lamanya di koran, Marno. Merasa mendapat sebuah keajaiban, apalagi setelah ia tahu temannya Marno tersebut tinggal di Jakarta, dengan bantuan polisi ia beranjak menuju rumah temannya tersebut. Tapi ternyata apa yang ia dapati? Pergolatan batin. Bagaimana tidak, Marno yang ia kenal di kota tempat tinggalnya, ternyata orang kaya dan penting di Jakarta. Tak pernah tahu ia selama ini kalau Marno adalah seorang konglomerat. Dulu, semasa ia menganggap Marno sebagai orang kebanyakan seperti dirinya, mereka bisa santai dan lepas dalam setiap obrolan apapun tanpa ada jarak. Tanpa rasa kikuk. Tak ada rasa superior dan inferior di antara mereka. Tapi, setelah kini ia tahu Marno orang gede, akankah segala kehangatan yang mereka lalui dulu sebagai dua orang bersahabat akan bisa tetap berlaku? Mula-mula sang tokoh ini meragu, akankah dia menamu ke rumah istana Marno atau tidak, tapi setelah dipikir-pikir dia lebih memilih untuk menunggu saja dulu di depan gerbang rumah Marno. Sebab, kata orang yang tahu kebiasaan Marno, sebentar lagi mobilnya akan datang masuk ke pekarangan rumah.

Setelah menunggu agak lama, benar saja, mobil Marno yang diakrabi betul oleh abang becak yang mengantarnya tampak muncul di tikungan jalan dekat mereka. Apa yang terjadi? Dari luar si tokoh bisa melihat bahwa benar itu Marno yang ada di dalam mobil, sedang bicara dengan koleganya. Sudut pandang mereka bertemu. Sayang, si tokoh yang yakin itu Marno merasa asing dengan pandangan marno yang ia kenal sebelumnya. Sudut mata mereka berlalu seiring mobil masuk pekarangan. Si tokoh mematung di luar seolah keyakinannya kini sedang berbalik, bahwa yang ia lihat bukanlah Marno. Sekali lagi Marno melihat dari sudut matanya ke arah sang tokoh utama cerita. Pandangan mereka kembali bertemu. Kembali, sang tokoh merasa mata yang bertumbuk dengan matanya sangat asing. Lain sekali, seolah tak pernah tahu mata itu sebelumnya. Di sini, sang tokoh merasa ada sesuatu yang aneh dan lain di Jakarta.

Beranjak dari Marno yang tidak jadi ia temui. Sang tokoh kembali bergelut dengan nama teman yang akan ia kunjungi semula. Tetap tidak berhasil dia mengingat. Akhirnya setelah menimbang-nimbang, ia memutuskan untuk kembali saja ke kota halamannya, setelah mengalami banyak perasaan aneh tentang Jakarta dengan seluruh isinya. Keputusan yang ia ambil adalah jalan terbaik. Bagaimana mungkin bisa terus bertahan di Jakarta yang serba lain di matanya sedangkan tujuan sendiri ia tidak jelas.

Cerita lalu mengalir seiring dengan kepulangan sang tokoh ke kota kecilnya. Kembali ia mencoba mengingat nama yang tadinya ingin ia tuju di Jakarta. Bemacam nama ia coba seluncurkan dari mulutnya. Kroso, Kromo, Parno, adalah sederet nama yang ia desiskan sembari berharap ada jembatan pengingat tiba-tiba meloncat dai benaknya. Tapi, masih saja belum berhasil. Hingga pada sebuah momen tak terduga tiba-tiba nama “Kropos” hinggap begitu saja di kepalanya. Ia ingat nama Kropos. Itulah nama yang ingin dia cari di Jakarta. Tapi, semuanya telah terlambat, sebab nama itu lekat di benaknya saat ia sampai di kota tempat ia tinggal. Semua sudah tidak ada gunanya lagi…

Byarpet ditutup saat sang tokoh turun dari bus dan menginjakkan kakinya ke tanah, lantas tiba-tiba seseorang memanggil dengan keras, “Kropos!”. Pada saat itu sang tokoh menoleh—dan merasa dialah yang dipanggil. Pada nyatanya, suara itu memang memanggil namanya, si tokoh Byarpet ini.
****
Inilah kejutan dari Putu Wijaya lewat Byarpet-nya. Nama yang ingin si tokoh cari di Jakarta adalah dia sendiri. Seolah perjalanan sang toko cerita ke Jakarta menjadi semacam pencarian identitas yang tak kunjung diketahui. Dan di Jakarta, memang ia tidak menemui Kropos (atau si tokoh itu sendiri), tapi ia kembali mengenal dirinya setelah sampai di kota tempatnya tinggal…

Byarpet-nya Putu Wijaya ini memang terbuka penafsirannya bagi siapa pun yang membacanya. Boleh jadi setiap kepala yang membaca Byarpet ini memperoleh kesan berbeda setelah halaman terakhir ditutup. Apa pun maknanya Byarpet, bagi saya, karya ini adalah sebuah cermin jernih. Banyak detail cerita yang digambarkan di sini mengarah kepada itu…

Zamroni Rangkayu Itam

*Tulisan di atas sebelumnya dimuat di weblog palantakayu dengan titel yang sama….

sekilas infonya:

Judul : ByarPet, Pengarang : Putu Wijaya, Penerbit : Pustaka Firdaus-Jakarta-cetakan II-2003, Halaman : 152 halaman


Read Full Post »

”Habis masak dia bilang aku gila!” teriak Warno. ”Dia yang sudah gila. Pohon itu sudah ngaco. Tiap malam dia ngomong seenaknya. Dia memfitnah aku main sama janda itu. Dia bilang aku mencuri jemuran orang. Dia kok percaya dengan semua itu. Daripada terus-terusan bikin pusing kepala aku tebang saja. Ya, kan? Daripada ikut gila karena pohon gila!”

Kutipan di atas adalah bagian dari novel Kroco karya Putu Wijaya. Saya tambahkan satu lagi kutipan;

”Tiba-tiba dia menyuruhku mengambil kapak, lalu aku ambil kapak ke rumah. Setelah aku mengambil kapak dia bilang, ayo Warno sekarang kamu pergi ke bekas juragan kamu dan kapak kepalanya, karena kamu diberhentikan sewenang-wenang. Kapak sekarang kepalanya! Juragan itu orang culas! Kapak saja, katanya. ….Warno, ayo bawa kapak itu ke tempat Bokir, kapak saja kepalanya, dia yang memfitnah kamu sampai kamu dipecat oleh juragan kamu. ….Ayo Warno bawa kapak ke istrimu! Kapak kepalanya! Sebab, dia telah berzina dengan Kresno sebanyak lima kali, di rumah kamu sendiri, di rumah Kresno, di kebon, di pasar, dan di rumah tetangga. Kapak sekarang Warno!…”

Itulah dua paragraf yang termuat dalam Kroco. Novel Kroco bercerita tentang eskapisme. Lewat peran antagonis warga masyarakat akar rumput yang tak berdaya itu, Putu Wijaya dengan piawai menarasikan watak Warno yang diserang ketidakwarasan mental. Dan memang, eskapisme bisa menjadi semacam pelarian kejiwaan. Itulah yang dilakukan Warno dalam Kroco. Menghilangkan beban dengan cara eskapis dari titik pusarannya secara temporer—juga permanen, memang bisa diandalkan. Tidak mudah memang lari kungkungan lingkaran problema. Apalagi permasalahan yang dihadapi adalah sesuatu yang berat yang mengikis kedamaian jiwa. Ketika problema mencapai titik tertingginya, tak mampu lagi dijangkau oleh tangan pendek manusia, eskapisme menjadi jalan alternatif—walau terkadang eskapisme itu sendiri datang tanpa diminta. Eskapisme ada dan hadir saat gejolak batin meledak memburai di pundak manusia yang menanggungnya. Dan, Warno telah mengalaminya!…

Gila, atau kata halusnya kurang waras, adalah salah satu bentuk dari eskapisme. Gila adalah salah satu puncak tertinggi dari pelarian manusia dari realitas yang dihadapinya. Orang normal jelas tak bisa memasuki alam pikiran orang gila. Ketika kegilaan menyerang pusat-pusat kesadaran, tak ada lagi batas antara fakta dan ilusi. Keduanya menyatu padu dalam realitas yang hanya dipahami oleh otak si gila itu sendiri.

Nah! Gila, seperti yang termuat dalam Kroco, telah menjadi pelarian dari peran antagonisnya, Warno. Kendati Warno tetap mengaku sebagai waras, tetap saja orang di sekelilingnya memvonis bahwa Warno telah mengidap penyakit mental. Warno memang butuh pelarian. Bebannya terlalu berat. Dalam Kroco, Warno mengaku bisa bicara dengan pohon. Tiupan angin yang menggerakkan dedaunan, menggetarkan dedahanan, menimbulkan suara-suara yang seolah berbicara—yang mana secara ajaib ditafsirkan sebagai kata oleh simpul-simpul otaknya Warno.

Kroco seolah menyampaikan semacam pesan simbolis bahwa benak, pikiran, dan jiwa, saling berinteraksi. Saling bicara satu sama lain. Sama-sama bahu membahu serta berkelindan dalam realita kehidupan. Pohon, seperti yang dikatakan Warno telah berbicara dengannya, bagi pembaca bolehlah ditafsirkan sebagai simbol media invisible interaksi antara benak, pikiran, dan jiwa Warno itu sendiri. Tiga unsur—benak, jiwa, dan pikiran, memerlukan pelampiasan interaktif. Warno mewakilkan perang ketiganya melalui pohon yang ”berbicara” kepadanya.

Kroco, seperti yang dibualkan Putu Wijaya, mengajak kita menyelami alam gaib-nya benak, pikiran, dan jiwa, dengan segala bentrokan ketiganya….

Zamroni Rangkayu Itam

*Tulisan di atas sebelumnya dimuat di weblog palantakayu dengan titel yang sama….

info buku sekilas:

Judul : Kroco, Pengarang : Putu Wijaya, Penerbit : Pustaka Firdaus-Jakarta-cetakan II-2004, Halaman : 124 Halaman


Read Full Post »